Banjarmasin, Kota yang Terapung

Klo mendengar kata kota Banjarmasin yang terdapat di propinsi Kalimantan Selatan pastinya yang teringat dan menjadi ciri khas dari kota tersebut adalah Soto Banjar dan juga pasar terapung (Floating Market).

Sayangnya, selama lima hari tinggal di sana saya hanya sempat mencicipi soto banjar saja. Kesibukan mempersiapkan segala perlengkapan ekspedisi tidak memungkinkan bagi kami untuk sekedar hang-out serta nongkrong-nongkrong di tempat biasanya anak muda nangkring.

Hampir setiap hari waktu kami (saya dan team ekspedisi) dihabiskan di dalam pasar ataupun supermarket untuk belanja segala macam keperluan. Bukan belanja yang mudah memang, karena lokasi penelitian yang jauh dari kota serta fasilitas yang kurang memadai di sana memaksa kami untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan terencana. Maka kebutuhan wajib seperti makanan, menjadi prioritas utama untuk dipenuhi selama kurang lebih 3 bulan untuk 19 orang. Ditambah lagi dengan peralatan pendukung penelitian dari alat tukang, hingga alat listrik.

Kesibukan tersebut, ternyata bukan hanya kami saja. Masyarakat di kota Banjar juga bisa terbilang masyarakat yang sibuk. Setiap harinya jalanan cukup ramai oleh kendaraan. Apalagi di jam-jam pergi dan pulang kantor, ramainya.

Yang cukup menarik dari kota tersebut adalah kami masih bisa menemukan raptor yang terbang di tengah hiruk pikuk kota. Burung-burung walet yang bercericit di gedung-gedung tak berpenghuni. Dan polisi yang displin berpatroli serta tak segan mengingatkan/ menegur kepada pegendara motor yang melanggar tanpa tilang dan sidang di tempat.

Sempat saya ditegur oleh polisi yang berpatroli dengan motornya di malam hari karena kedapatan mengendarai motor berbonceng tiga. Untungnya surat-surat kendaraan lengkap sehingga hanya teguran saja beliau berikan. Saya pun dengan terpaksa berjalan kaki.

Di waktu bulan penuh, air sungai meluap hingga ke bibir batas. Kondisi air pasang ternyata tidak hanya dialami oleh sungai-sungai yang bermuara ke laut. Hampir sebagian jalan di kota Banjar pun mengalami pasang. Air-air selokan naik bahkan meluap, tidak mengalir. Jalanan tergenang. Tidak sampai banjir memang, dan juga tidak terlalu menganggu. Yang pasti kondisi tersebut akan selalu terjadi dalam setiap bulan. Pantas lah jika kota ini dikatakan terapung, terapung seperti pasar yang mereka miliki.

NB: Soto Banjar, enak. Bule juga suka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s