Ketukan Pintu di Tengah Malam

Hal yang paling menyebalkan yang saya alami selama penelitian hanya satu “terbangun di tengah malam” dikarenakan peziarah yang kebingungan mencari tempat parkir kendaraan.

Jam 3 pagi saya terbangun gara-gara suara ketukan pintu yang setengah memaksa. Setelah terbangun dan membuka pintu, mereka meminta maaf dan memohon ijin untuk memarkirkan kendaraannya di depan rumah.

Sebagai warga negara yang baik tentu saja hal tersebut saya ijinkan. Wong saya juga bukan pemilik rumah. Pasang muka bete, tentu saja tidak. Nanti disangkanya penghuni rumah tempat saya menginap adalah orang yang tidak ramah. Sebisa mungkin saya tersenyum dengan wajah terkantuk-kantuk dan bicara ngawur ngelantur. Biar dia ngeh, klo sekarang itu adalah lewat dini hari.

Ada juga peziarah yang datang malam-malam bukan untuk ijin parkir. Pada saat orang-orang tidur terlelap, mereka mengetuk pintu. Dengan wajah kebingungan mereka bertanya, “Klo rumah kuncen dimana ya?”

Setengah sipit dan rada mabok, saya jawab “Rumah kuncen anu ada di belakang rumah ini. Tapi lewat sawah. Klo jalan buat kendaraan musti balik lagi ke portal, muter. Klo kuncen anu, di sekitar portal ada. Yang rumahnya cat ijo ada maungnya.”

Pengennya sih ngaku-ngaku jadi kuncen. Namun apa daya, tampang kurang menjual.

Ada juga peziarah yang awalnya cuman nangkring di teras rumah karena kehujanan. Berhubung suasana semakin ramai tak terkendali, disuruh lah mereka masuk. Semakin ramai lah situasi di rumah dengan obrolan-obrolan di luar logika. Ngiiiik.

Setelah saya telusuri secara mendalam, ternyata kebiasaan ketok-ketok pintu tengah malam ditenggarai oleh kerusakan hutan. Loh kok bisa?

Hal tersebut diakibatkan oleh akses yang semakin mudah dijangkau oleh peziarah. Hutan yang sudah terbuka memudahkan peziarah keluar masuk hutan kapan pun dia suka.

Dulu, sebelum terjadi pembalakan liar. Jangankan orang luar, penduduk lokalnya saja enggan masuk hutan meski waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Apalagi klo sudah pukul 4 sore, peziarah jangan harap ada yang mau mengantarkan. Jalan setapak menuju lokasi ziarah lumayan gelap, sepi, dan sunyi.

Bandingkan dengan sekarang. 15 menit jalan kaki sudah nyampe. Malas jalan naik ojek Rp. 15.000, 24 jam setia melayani. Jadi, kenapa tidak mengetuk pintu di tengah malam.

2 comments

  1. mylitleusagi · Oktober 24, 2010

    tuan rumah yang baik.. (^_^)

    • Ismail Agung · Oktober 25, 2010

      Emak (pemilik rumah), memang orang yang baik. Katanya, dulu itu pintu rumahnya ga pernah dikunci. Sengaja agar para tamu yang kemalaman bisa numpang istirahat. ckkkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s