Belajar Menghargai Hutan

Sudah menjadi fitrah manusia untuk belajar di setiap waktu dalam hidupnya. Dimanapun, kapanpun, siapapun, dan dalam situasi apapun, selalu ada pembelajaran berharga.

Termasuk juga Bejo, salah seorang rekan saya di lapangan. Saya baru kenal dengannya sejak memulai kembali petualangan di sancang. Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk akrab, karena pada dasarnya kami cukup gila.

Bejo punya tugas spesifik, yaitu memasak. Selain itu, dia juga aktif melakukan wawancara terhadap para tamu (peziarah). Penelitian ini memang membutuhkan data berupa respon pengunjung terhadap hutan dan satwa liarnya. Saya pikir Bejo cukup baik dalam melakukan wawancara, tak lain karena dia dulunya adalah peziarah juga.

Berkaitan dengan memasak untuk makan siang, kami cenderung memilih menjadi manusia kaleng. Makanan kaleng memang lebih praktis dan tidak merepotkan, walaupun sebenarnya kurang baik bagi kesehatan.

Saya kira Bejo sudah melakukan apa yang biasa saya lakukan dulu terhadap sampah yang dihasilkan. Saya selalu membiasakan diri untuk membungkus kembali sampah yang dihasilkan dan membawanya pulang ke rumah. Baik itu sampah kaleng ataupun sampah kemasan plastik kopi, minuman serbuk, permen, snack, dan lain sebagainya.

Saya mengira demikian karena Bejo sudah melakukan penelitian ini tiga bulan lebih awal dibandingkan saya dan juga ditemani oleh rekan-rekan lain yang notabene memiliki pemahaman yang sama dengan saya.

Awalnya Bejo berkilah ketika saya meminta untuk membawa pulang sampah. Hal tersebut tidak perlu dilakukan karena selalu ada orang yang datang ke hutan untuk mengambil barang bekas (sampah) yang ditinggalkan peziarah. Saya tahu itu, tapi kalau saya memercayakan begitu saja kepada tukang rongsok maka kami tidak mengubah keadaan, yaitu kami rajin buang sampah di hutan.

Dua hari pertama permintaan dipenuhi. Seminggu kemudian, keadaan kembali seperti semula. Sisa kaleng berserakan memojok di satu tempat. Sepertinya Bejo butuh shock therapy agar ini tidak menjadi kebiasaan.

Di satu waktu saat Bejo pulang lebih awal, saya membereskan sampah-sampah yang ditinggalkan. Saya bungkus dan bawa pulang. Sesampainya di rumah, Bejo yang sedang duduk-duduk di teras rumah bersama pemilik rumah menyambut kedatangan dan mengomentari bungkusan sampah yang terlihat isinya.

Setelah cukup dekat dengannya saya balas komentar,
“kita ke sini mau penelitian, bukan ziarah.”
Dia diam dan tidak membalas komentar.

Setelah itu, kami mulai membiasakan untuk membawa pulang sampah yang dihasilkan. Sedikit atau banyaknya, sampah itu adalah tanggung jawab selaku si pembawa.

Mudah-mudahan Bejo bisa belajar untuk lebih menghargai alam. Ga usah muluk-muluk dengan menanam sejuta pohon. Cukup dengan tidak meninggalkan apa yang tidak seharusnya ditinggalkan.

2 comments

  1. anil · November 15, 2010

    cieh,,,tetep zero waste juga nih di leuweung🙂

    Ditambah lagi dong tantangannya:
    dengan gak makan makanan awetan spt makanan kalengan..
    bahaya zat aditif berbahaya mengancam gung…

  2. ung · November 19, 2010

    nambah lagi zerowaste-nya Anil. kami mulai menggunakan wadah untuk nasi. Jadi ga dibungkus pake kertas nasi lagi. lumayan lah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s