Elephant Rock

Berlanjut di hari yang kedua. Dimulai dengan rada telat bangun serta panggilan si Owa yang sudah tidak sabar untuk segera diamati.

Hujan semalam masih menyisakan tanah basah dan licin. Beruntung, saya punya perlengkapan baru. Sepasang sepatu nelayan yang terbuat dari karet-plastik serta dilengkapi dengan pull-tip kayak sepatu bola gitu. Biar cengkeramnya erat kali yak.

img026Bagusnya sih klo penelitian di hutan itu pake sepatu bot atau sepatu lapangan. Berhubung saya ga punya sepatu lapangan macam anak PA (karimor, deuteur, head, dll) dan juga males pake sepatu bot yang ga match sama celana pendek selutut, maka dengan sukarela saya membeli sepatu baru yang memenuhi fungsi kenyamanan dan juga style.

Harganya lumayan murah. Rp. 20.000 saja. (contoh bisa dilihat di samping)

Agenda hari ini masih sedikit berbau senang-senang. Tapi kami ga melupakan kewajiban yang utama kok. Pagi harinya disempet-sempetin buat pengamatan si Owa. Untungnya, si Owa muncul menunjukkan batang hidung peseknya. Sorenya pun saya cukup beruntung karena bisa mengamatinya di jam-jam menjelang waktu tidurnya.

Jalan-jalan kali ini kami mencoba ke arah timur pantai. Ke sebuah lokasi yang biasa disebut “Karang Gajah”. Dengar-dengar sih tempat tersebut suka dipake juga oleh para peziarah untuk mencari wangsit Eyang Prabu. Dan dengar-dengar juga di sana ada gua kayak di film Mak Lampir gitu. Mari kita buktikan.

DSC08579

Setelah menempuh perjalanan menyisir pantai. Ternyata lokasi Karang Gajah lumayan jauh. Tidak seperti penampakannya dari bibir pantai yang seperti dekat. Dan lagi, jalan menuju ke sana lebih banyak melalui kumpulan bebatuan serta karang daripada pasir putih.

Ketika waktu menunjukkan jam makan siang, maka kami istirahat sejenak. Masak dulu gitu loh.

DSC08585DSC08584 DSC08590gua yang ada kelelawarnya

Setelah puas-puasin makan, perjalanan kembali dilanjutkan. Nahasnya, kondisi laut malah pasang. Sedangkan akses menuju Karang Gajah hanya melalui sisi laut yang penuh dengan batu, karang serta deburan ombak.

DSC08594

DSC08596

Perjuangan dan keberanian akhirnya membuahkan hasil. Kami bisa tiba di lokasi dengan selamat meski jalur memaksa kami memanjat tebing dan main kejar-kejaran sama ombak yang mengintai.

Entah kenapa tiba-tiba kepikiran sama bentuk karangnya. Setelah dilihat-lihat, jangan-jangan si karang gajah ini adalah pesawat Alien yang sudah mendarat beratus-ratus tahun lalu dan sengaja menyamar menjadi karang sambil menunggu Alien lainnya datang untuk menginvasi bumi. Wah siapa tahu.

Dikarenakan takut air laut semakin meninggi, kami tidak bisa berlama-lama di Karang Gajah untuk bernarsis ria. Secepatnya kami kembali melalui jalur yang sama. Puas sudah, akhirnya bisa juga sampai ke Karang Gajah.

2 comments

  1. erniheryani · Februari 18, 2013

    selain ada batu mirip gajah,,ad jg batu unta,,ombak.a mantapppppp

    • Ismail Agung · Februari 21, 2013

      yup, betul juga. kalo diperhatikan dengan seksama memang mirip unta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s