Pasir, Pantai dan Ikan Bakar

sancang 2010(67)

Hal pertama yang dilakukan saat bertemu dengan pantai?

Menginjak pasir, merendam kaki, menikmati angin sepoi-sepoi rasa asin, dan mendengarkan deru ombak bergulat.

Dikarenakan si bule empunya penelitian ga ada karena harus ngurusin perizinan dan juga liburan karena rombongan keluarganya dari Amrik sono pengen nyicipin pulau Bali (tempatnya para Dewa Dewi dan “kisah cinta kebetulan” yang suka nangkring di FTV gitu), jadi bawaannya banyak nyantai. Ditambah lagi saya ditemani oleh beberapa rekan yang emang sengaja meluangkan waktu untuk menikmati keindahan Sancang yang entah sampai kapan akan bertahan.

Harusnya sih kami-kami yang menyatakan diri sebagai asisten lapangan mengerjakan tugasnya untuk mengamati para Owa. Tapi untuk kali ini justru pengennya menikmati dulu suasananya, baru kerja keras setelahnya.

Bersama ke enam kawan lainnya yaitu, Angga, Mocha, Ocoy, Wahyu serta Bejo kami berangkat dari basecamp ke lokasi pengamatan sesuai dengan jadwal seharusnya, yaitu jam 06.00 pagi. Meskipun agak telat-telat dikit karena harus ngantri di WC buat buang hajat, kami tiba di lokasi masih dalam jam-jam Standar Operasional Prosedur. Padahal udah jelas banget klo dari awal kami turun ke hutan ga terlalu niat buat pengamatan. Tapi ke pantai.

sancang 2010(46)

Sesampainya di hutan kami emang ga lama-lama. Lihat-lihat bentar sama situasi dan kondisi yang ada. Beruntungnya, kami bisa ketemu sama si Bujang. Babi hutan yang jinak dan doyan makan kue. Kapan-kapan saya akan ceritakan lagi tentang si Bujang satu ini. Soalnya dia unik.

sancang 2010(69) sancang 2010(68)

Rencananya emang udah disusun, klo kegiatan hari ini ini kami mau ke pantai beli ikan hasil tangkapan nelayan, terus dibakar dan dimakan di tempat. Sesampainya pantai kami langsung cari nelayan terus nego sama ikan hasil tangkapannya. Saya lupa ikan apa aja yang kami beli, yang jelas ada ikan Layur, dan kami cuman beli 20 ribu. Lumayan lah buat berenam mah.

sancang 2010(75)Bumbu buat bakar ikan juga udah disiapin sejak dari Bandung. Jadi deh kami bakar-bakaran. Ga pake lama, ikan yang udah matang langsung disikat. Padahal sebelumnya udah sarapan dan waktu juga baru nunjukkin jam 9-an pagi. Klo udah niat mah, si lambung juga ikutan mengembang.

Emang ga butuh waktu lama buat si ikan bakar pindah dari alam dunia ke alam pencernaan. Semuanya ludes, hanya menyisakan tulang belulang saja.

Si ikan emang bener-bener T.O.P. Mungkin karena masih segar jadi si dagingnya itu terasa banget nikmatnya. Beda banget sama PKL yang tempat biasa saya beli di daerah Pusdai-Bandung.

Sebenarnya masih banyak sih jenis-jenis seafood lainnya. Namun apadaya, daya jangkau dompet kami sungguh amat terbatas. Maybe next time kami bikin acara bakar-bakaran lagi.

Akhir kata, pesan dari departemen perikanan;

Ikan itu baik dan kaya akan sumber Protein, konsumsilah!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s