Makin Ke Sini, Saya Makin Ga Ngerti Sama Makna Lebaran

Akhirnya..

Tinggal hitungan waktu kita akan bertemu dengan hari raya Idulfitri (menurut ejaan yang benar katanya disambung). Hari raya yang selalu disambut dengan meriah penuh suka cita.

Saking meriahnya, selama satu bulan puasa ini tak henti-hentinya toko, minimarket, supermarket, hypermarket, factory outlet, distro, butik dan market-market lainnya ga pernah bosen untuk unjuk DISKON hingga bla bla bla persen. Dan saking apreasiatifnya masyarakat kita sama lebaran diskon, maka ga pernah ada sepinya tempat-tempat tersebut untuk dikunjungi.

Perputaran uang pun terjadi dan meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan bulan-bulan biasanya.

Ga hanya itu. Aktivitas konsumtif pun memperparah kondisi jalanan yang hampir tiada habisnya MACET. Jalanan sempit dibuat menjadi lahan parkir dadakan, trotoar seuprit jadi lapak baru pedagang kaki lima, tempat-tempat kosong lainnya pun menjadi peluang bisnis sukses bagi mereka yang punya lapak portable (dorong).

Hebat klo ada orang yang tidak ikut terlibat dalam kemeriahan yang setahun cuman sebulan. Hebat klo ada orang yang bisa tetap sabar bergelut dengan kemacetan yang bikin gerah. Yang ga ikutan, kayaknya lagi kere… hehehe

Orang yang katanya miskin pun bisa mendadak kaya klo lebaran tiba. Entah tradisi dari mana yang membuat sebuah aturan tidak resmi bahwa lebaran itu ga lengkap klo ga diisi dengan yang namanya BARANG BARU. Siapa sih pelopor gaya hidup macam ini? Saya salut sama beliau, karena gaya hidup begini sudah mengakar berpuluh-puluh tahun dan menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.

Saya jadi bingung sama makna puasa yang letih-letih dijalani selama satu bulan penuh (dikurangi menstruasi bagi yang dapat)? Saya juga bingung sama yang namanya hawa nafsu dan emosi, mereka itu apa ya? Ditambah lagi dengan mau ngajak ribut negeri tetangga. Lama-lama puasa (ramadan) bisa jadi sebuah ceremonial belaka menyambut hari raya belanja besar-besaran. Klo itu terjadi, berarti kita telah masuk dalam perangkap kapitalisme. Amit-amit jabang bayi.

Puasa saya memang tidak lebih baik dari Ustad Jeffry atau Yusuf Mansyur, ibadah saya juga tidak lebih baik dari Aa Gym. Saya hanya punya kekhawatiran jika kondisi seperti ini terus menerus berlangsung. Dampak yang ditimbulkan dari gaya hidup jor-joran saat menyambut lebaran bisa jadi mendorong diri kita sendiri ke jurang Gaya Hidup konsumtif yang menjauhkan kita dari nilai-nilai kesederhanaan. Mempertegas garis batas kesenjangan sosial. Memaksakan diri pada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipaksakan. Menampilkan diri yang sesungguhnya bukan diri kita sejatinya.

Lieur ah.

BTW,

Selamat Hari Raya Idulfitri 1431 H.

Mohon Maaf Lahir Batin.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kebahagian bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ya Tuhanku, jika Engkau sedang tidak sibuk. Saya meminta untuk Kau jauhkan segala bencana yang kerap kali menimpa negeri ini. Jika Kau masih punya waktu luang, saya minta rasa kasih sayang untuk Kau curahkan kepada saudara-saudara kami untuk tidak saling bertikai dan mengklaim. Amin.

doa saya, si manusia pengeluh.

2 comments

  1. isdiyanto · September 15, 2010

    maap lahir dan bathin…

    semoga semua ibadah selama bulan Ramadhan,
    bisa menjadi bekal untuk berubah menjadi lebih baik,
    mari bekerja kembali dengan hati yang baru,
    dengan perilaku yang baru yang lebih baik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s