Warung Lotek Ibu Dedeh

Postingan kali ini agak sedikit berbau universitaisme. Biarlah, yang jelas saya ingin berbagi cerita bagi mereka yang merasa dirinya pernah dan sedang bersemayam di sekitaran Unpad Jatinangor.

Namanya, Ibu Dedeh. Nama yang cukup simple dan mungkin banyak orang yang mengenalnya karena beliau selalu muncul di salah satu televisi swasta pada saat subuh menjelang. Eh tapi bukan Ibu Dedeh tersebut yang hendak saya ceritakan.

Ibu Dedeh satu ini adalah salah seorang penjual lotek dan karedok yang hingga kini masih eksis di warung kecilnya di seberang Rumah Makan Ampera dan klinik Jatinangor. Perkenalan saya dengan beliau bisa kehitung sudah lama banget, waktu masih jadi mahasiswa (sekarang juga masih) yang culun dan kencing aja masih dipegangin (klo ga dipegang uprat apret). Waktu itu saya bisa dibilang cukup sering makan di warungnya yang sempit dengan kipas angin se ala adanya.

Biasanya saya suka pesan karedok, tapi tak jarang juga saya pesan lotek. Saya suka karena memang rasanya enak, bumbu kacang hasil ulekannya mantap. Tidak seperti tukang lotek di gerbang yang sudah canggih pake blender jadi tinggal tuang aja tuh bumbu kacangnya. Ga enak.

Di ruang sempit itu Ibu Dedeh bersama seorang asistennya selalu saja mengulek dengan penuh semangat. Saking semangatnya, yang pasti tuh badannya bakal ikut goyang. “Klo ga goyang itu ga ngulek!” begitu katanya.

Nah, berhubung saya tiba-tiba menghilang dari peredaran kampus selama kurang lebih 2 tahun. Otomatis saya sudah lama tidak pernah merasakan goyangannya ups loteknya lagi. Entah takdir apa yang mempertemukan kami. Di salah satu warung nasi goreng remang-remang di depan kantor polisi Jatinangor saya bertemu lagi dengan beliau.

Saya dan beliau sama-sama sedang memesan dan makan di tempat. Karena wajahnya terasa familiar, saya mencoba mengingat-ingat kembali di mana saya pernah bertemu dengannya. Ketika memori itu semakin lengkap, saya pun memberanikan diri.

“Ibu yang jualan lotek di depan Ampera kan?” tanya saya memastikan.

“Iya Cep, sumuhun. Ari acep sahanya?” beliau balik bertanya keheranan.

Untuk dialog berikutnya sudah saya terjemahin terjemahkan dalam versi yang Indonesia sekali.

“Oh, saya dulu sering beli di warung Ibu.”

“Duh maaf ya kalau Ibu nggak kenal.”

“Ah tidak apa-apa Bu. Pasti Ibu lupa, saya kan mahasiswa lama banget Bu.”

“Oh ya, maaf.”

“Ibu masih jualan di warung itu Bu?” tanya saya ingin tahu. Belakangan ini setiap kali saya melewati warungnya, sering kali saya lihat tutup.

“Masih masih. Cep datangnya jam berapa?” tanya si Ibu.

“Sekitaran jam 12 lewat Bu.”

“Wah kalau sudah jam segitu mah (keukeuh ada ‘mah’), ibu sudah tutup.”

“Pantesan…."

Ibu Dedeh pun akhirnya bercerita banyak mengenai dirinya dan bisnis lotek yang sudah beliau rintis sejak tahun 1987. Beliau mengatakan, ia membuka bisnis perlotekan semenjak Unpad buka cabang di Jatinangor. Pada saat itu, ia hanya membuka warung di depan rumahnya. Kemudian pada tahun 2000 beliau pindah ke lokasi warung yang hingga saat ini ditempati.

“Ada hampir sepuluh tahun Ibu di tempat itu. Ibu mulai jualan lotek dari harga 200 perak, bala-bala 25 perak sampai sekarang harganya jadi 6000.” kenang beliau mengingat kisah perjalanan bisnisnya.

Dan kini, warung loteknya selalu tidak beroperasi pada saat siang menjelang. Bukan karena ia membatasi waktu berdagang. Tak lain karena pada saat siang menjelang semua dagangannya sudah sold out.

“Sekarang ibu jarang jualan lebih dari jam 12, soalnya dagangan ibu udah habis duluan. Suka ada yang ngeborong. Biasanya dari Fikom, tapi sekarang-sekarang mah dari IPDN setiap hari selalu ada yang pesen 20 bungkus lebih.” paparnya menceritakan sebab musabab kenapa tutup lebih awal.

“Pernah waktu itu ada mobil ambulan berhenti depan warung. Ibu kaget, kirain ada apa. Eh taunya begitu keluar mobil, malah ibu-ibu mau beli. Katanya dia penasaran sama penjualnya karena setiap kali beli titip sama staff cleaning.”

Waw, kisah perjuangan beliau tampak panjang sekali. Beliau juga sempat berjualan nasi kuning yang diantarkan ke setiap kamar kostan setiap pagi. Dan tak jarang juga dihutangi oleh para mahasiswa yang telat dapat wesel (maklum jaman dulu).

Pembicaraan kami berdua terpaksa dihentikan karena saya harus kembali ke kampus. Saya pamit dan tak lupa berjanji untuk mengunjungi warungnya bila sempat. Lagipula kalau saya ngobrolnya keasyikan, ntar disangka Tamara Blezinsky sama Mike Lewis. Hahahay… Peace ah.

Buat para mahasiswa yang bersemayam di Jatinangor, sekali-sekali boleh lah mampir ke warung beliau dan menikmati lotek dan karedoknya serta segelas teh pahit hangat dalam teko besi.

Sedikit penutup dari saya.

-Teknologi telah mengubah manusia. Begitu pula dengan cita rasa. Ketika blender menggantikan peran ulekan. Maka tak banyak orang akan mengenal yang namanya LOTEK. Karena ia telah berganti nama, menjadi HITEK.- by agungsmail

9 comments

  1. Adi · Juni 30, 2010

    Wah jadi terinspirasi buat nulis tentang jajanan di sekitar kampus aku, hoho

    • Ismail Agung · Juni 30, 2010

      silakan-silakan… jangan sungkan sungkan untuk berbagi cerita..

      klo udah nulis, beritahu saya ya..

  2. mylitleusagi · Juni 30, 2010

    ha…..ha….ha….
    penyelamat bumi…(^_^)
    bener banget…
    teknologi telah merubah segalanya..
    sama halnya dengan kompor gas yang telah menggantikan kompor minyak…
    walaupun kompor gas membuat segalanya menjadi cepat matang…
    tapi untuk citarasa, dan kelezatan…memasak dengan kompor minyak tetap lebih baik..(^_^)

    • Ismail Agung · Juni 30, 2010

      dan teknologi pula yang menjadikan manusia sebagai Homo sapiens… by: perempuangimbal

  3. thisisrizka · Juni 30, 2010

    ah hari ini saya melewatkan makan lotek..

    kang, masukin fotonya dong, biar lebih dramatis..hehehe
    *apasih?

    • Ismail Agung · Juni 30, 2010

      Nanti lah klo saya sudah berkunjung.. Ada sih foto beliau, cuman ga kobe ekspresinya… hihihi

      • thisisrizka · Juli 1, 2010

        ah padahal mah masukin aja foto loteknya.. penasaran sama loteknya..goyangan si ibu mah enaknya kalau ditonton live kang!😛

  4. imay · September 29, 2012

    saya salah satu pelanggan tetap lotek ibu Dedeh😀
    gak nyangka nemuin blog ini, dan nyeritain tentang lotek ibu Dedeh🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s