Minim, Penanganan Trauma Anak

BANDUNG, KOMPAS – Penanganan trauma bagi anak-anak korban gempa bumi di Kabupaten Bandung belum intensif. Padahal, mereka adalah pihak yang paling rentan dalam bencana dan dampaknya akan terbawa hingga dewasa.

Menurut pemantauan Kompas, Rabu (9/9), pendampingan korban anak oleh sejumlah sukarelawan memang ada di beberapa titik di Kecamatan Pangalengan. Namun, kegiatan itu tidak ditemukan di 11 kecamatan lain yang juga terkena gempa. Penanganan korban gempa di lapangan masih sebatas distribusi bantuan logistik.

"Untuk Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu, saja ada 600 orang anak yang terdata pemerintah desa. Namun, baru sekitar 100 anak yang sanggup kami dampingi," kata Ismail Agung, sukarelawan.

Dia menjelaskan, anak-anak yang menjadi korban gempa umumnya menjadi pribadi yang tertutup dan mudah ketakutan. Mereka ketakutan dengan orang asing atau ketika mendengar bunyi benda jatuh.

Pada kasus tertentu, kelompok sukarelawan tersebut menemukan dua kasus anak yang mengalami trauma berat. Gejalanya adalah sering marah-marah tanpa sebab, lebih pemurung, dan penyakit yang diderita sejak lahir, seperti asma, memburuk.

"Kasus tersebut membutuhkan penanganan psikolog yang mengerti anak-anak. Masalahnya, tidak ada dari kami yang ahli dalam penyembuhan trauma bagi anak. Kami hanya mengajak mereka bermain sehingga tidak terlalu memikirkan musibah yang menimpa keluarga mereka," ungkap Agung.

Agung bersama 14 rekannya mengaku bukan perwakilan lembaga, melainkan perseorangan. Sasaran kegiatan mereka adalah anak-anak yang menjadi korban gempa.

Sukarelawan lain, Niki Suryaman, menjelaskan, sukarelawan mengajak anak-anak bermain dan beraktivitas sehingga mereka bisa mencurahkan kegundahan hati. Pada hari pertama anak-anak masih tertutup, tetapi pada hari ketujuh sudah kembali ceria dan berani menyapa orang dewasa lain.

Hal itu dibenarkan Vina (9), anak korban gempa yang sedang bermain di Rumah Pintar Gambung. Dia masih merasa takut akibat gempa, tetapi kini sudah berani bermain dan kembali tertawa bersama teman sebaya. Tak punya data

Sebelumnya, Operations Director World Vision Indonesia Amelia Merrick, yang berkunjung ke tempat pengungsian di Desa/Kecamatan Pangalengan, berpendapat, penanganan trauma bagi anak sangat mutlak dilakukan karena kondisi kejiwaan mereka masih polos. Jika tidak ditangani dengan baik, trauma itu memengaruhi perkembangan kejiwaan dan akan terus terbawa hingga beranjak dewasa.

Masalah distribusi tenaga sukarelawan yang tidak merata itu juga diakui petugas posko bantuan Kabupaten Bandung, Tigin Pribadi. Posko sukarelawan terlalu terkonsentrasi di Kecamatan Pangalengan. "Bisa jadi karena yang selalu diliput oleh media massa atau karena Kecamatan Pangalengan merupakan wilayah yang mengalami kerusakan paling parah se-Kabupaten Bandung," kata Tigin.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Bandung juga belum memiliki data valid mengenai jumlah anak yang menjadi korban gempa dan harus tinggal di pengungsian.

Di tempat pengungsian, anak-anak juga paling rentan terserang penyakit, seperti demam, flu, gatal, dan radang tenggorokan, akibat debu dan hawa dingin yang harus dihadapi selama tinggal di sana. (eld)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s