Pabrik itu Namanya Perguruan Tinggi

Entah berapa banyak tulisan tentang Perguruan Tinggi Idaman yang sudah saya baca. Dan semuanya rata-rata mengungkapkan sebuah harapan besar yaitu “selesai kuliah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya”.

Saya tidak hendak mengkritisi tentang harapan tersebut. Malah dengan membaca harapan-harapan tersebut justru malah mengiringi saya untuk “saya harus dapat pekerjaan setelah lulus nanti”. Otak saya tercuci dengan kata-kata mendapatkan pekerjaan.

Harus kah seperti itu?

Pembicaraan tentang mendapatkan pekerjaan menjadi semakin serius apalagi angka pengangguran saat ini yang cukup tinggi. Jangankan yang lulusan SMA/SMK yang lulusan Sarjana saja cukup banyak kok yang nganggur. Jadi kesalahan ini sebenarnya bukan karena hanya kualitas SDM saja, tapi ketersediaan lapangan kerja.

Jadi kualitas SDM hanya menempatkan si manusia pada posisi persaingan antar individu.

Pembicaraan lalu berlanjut pada apa yang dikatakan teman saya Yogi tentang sebuah ke khawatiran akan mahasiswa saat ini.

Kampusku menjadi pabrik.

Begitu katanya. Kampus tak ubahnya kini layaknya sebuah pabrik. Tempat menciptakan produk yang siap dijual ke pasaran. Bukan lagi menciptakan pribadi yang mampu mengaplikasikan ilmu yang didapat, melalui teori,  buku, ataupun sistem belajar dikelas.

Sikap berani, kritis menyikapi permasalahan sosial, berani menentang siapa yang menjadi musuh rakyat dan mencari jalan keluar telah mati suri. Justru keberadaannya kini malah menciptakan masalah.

Saya geram membaca tulisannya, sekaligus saya malu. Saya tidak ingin mengatakan bahwa saya adalah mahasiswa mulia yang tidak setuju dengan pendapatnya.

Kritis bukan anarkis.

Mei 2010. Tanggal 1 dan 2. Siapa yang tak kenal May Day, siapa yang tak ingat Hari Pendidikan Nasional. Ribuah buruh berteriak menyuarakan aspirasinya di Hari Buruh, dan kaum terpelajar mahasiswa tertidur nyenyak menikmati minggu.

Nasib para lulusan mahasiswa mungkin tidak akan setragis para buruh (Mungkin). Tapi, seharusnya para lulusan Perguruan Tinggi mampu membuat solusi yang berarti bagi para Buruh.

Dan pada akhirnya semua berteriak. “berikan kami Lapangan Pekerjaan”.

Ah, saya sedih. Jika menuruti apa yang teman saya Yogi tulis. Maka saya kurang lebih sama dengan produk-produk yang Pabrik buat melalui para Buruhnya. Saya hanyalah produk, produk pendidikan.

Lalu harus bagaimana dong?

Point utama tulisan ini adalah Pekerjaan. Jadi kenapa tidak jika para Perguruan Tinggi yang ingin dikatakan Perguruan Tinggi Idaman, Perguruan Tinggi Favorit, Perguruan Tinggi Terbaik membuat sebuah program tentang Kewirausahaan.

Program Kewirausahaan bukan hanya hegemoni mereka yang kuliah di Fakultas Ekonomi. Setiap mahasiswa harusnya punya kesempatan untuk mengembangkan ide-ide kewirausahaannya. Setidaknya dari program tersebut setiap mahasiswa mempunyai bayangan tentang dunia kerja itu seperti apa. Dan nantinya lebih siap untuk menghadapi.

Malah lebih bagus lagi jika program Kewirausahaan tersebut dapat membantu masyarakat sekitar. Istilah kerennya Social Entrepreunership.

Tidak mengikuti arus tapi menciptakan arus.

Mudah-mudahan saja para lulusan Perguruan Tinggi tidak harus selalu menggantungkan Ijazahnya pada Lapangan Pekerjaan yang semakin sedikit dan persaingan kualitas SDM yang semakin sengit. Perguruan Tinggi Terbaik memberikan peluang bagi lulusannya untuk berkarya.

Tulisan ini saya ikut tampilkan untuk ramaikan dalam Lomba Blog Universitas Islam Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s