Senyuman Yang Menenangkan dari Akademik

Bicara tentang Perguruan Tinggi Idaman. Wah pastinya banyak sekali kriteria yang melandasi sebuah Perguruan Tinggi menjadi Perguruan Tinggi Idaman yang tentunya diminati oleh para calon mahasiswa.

Dari kredibilitas si Perguruan Tinggi tersebut, tenaga pengajar yang mumpuni hingga fasilitas kampus yang memadai sehingga kegiatan perkuliahan dan penelitian bisa berjalan dengan lancar.

Lalu bagaimana Perguruan Tinggi Idaman menurut saya pribadi?

Klo boleh curhat, bisa dibilang saya termasuk mahasiswa yang kelamaan dalam studi. Istilah mahasiswa abadi sudah tidak berlaku lagi. Yang ada sekarang istilahnya adalah mahasiswa di ujung tanduk.

Alasan-alasan yang menyebabkan seorang mahasiswa menjadi mahasiswa di ujung tanduk sangat lah beragam. Dari masalah internal hingga masalah eksternal yang sulit untuk dijelaskan.

Dan untuk menyelesaikan masalah-masalah itu pada akhirnya menghadapkan mahasiswa pada bidang Akademik di jurusan maupun fakultas.

Menghadapi Bidang Akademik bisa dibilang momok. Segala permasalahan akan terurai di sana. Hingga pada akhirnya memposisikan si mahasiswa bermasalah adalah terdakwa.

Pada mulanya saya selalu enggan untuk berurusan dengan yang namanya akademik. Pasalnya, dosen yang membawahinya termasuk salah satu dosen yang nyelekit dan terkenal keras terhadap mahasiswa yang bermasalah. Jika bertemu dengan beliau, saya seperti sedang bermain petak umpet. Selalu menghindar kontak mata langsung, meskipun sebenarnya beliau sadar bahwa saya menghindar.

Lambat laun momok itu berubah. Situasi kondisi dan segala tekanan yang semakin muncul terhadap status mahasiswa saya yang semakin dipertanyakan justru mengubah pandangan saya terhadap beliau.

Beliau bukan lagi seseorang yang selalu ingin saya hindari, tapi seseorang yang selalu ingin saya temui. Meskipun semua keputusan ada pada tangan saya, apakah lanjut atau tidak. Beliau tetap mendukung saya untuk menyelesaikan studi dengan segudang pemasalahan yang ada dan tetap dengan gayanya yang terkadang keras.

Setiap kali berpapasan, selalu saja beliau bertanya dengan gaya menghardik. “Gimana? Sudah belum?”

Mahasiswa yang tidak biasa mungkin akan langsung jiper (down), tapi begitu saya mendengar hardikannya saya langsung terpecut.

Segera saya pontang-panting bolak-balik ke Fakultas mengurus segala perijinan dan surat-surat pernyataan yang menyatakan saya adalah mahasiswa bermasalah.

Di dekanat, yaitu Sub Bagian Pendidikan pun sudah semakin banyak perubahan selepas saya menghilang selama kurang lebih dua tahun.

Suasana ruangan yang selalu penuh dengan kepulan asap rokok kini sudah berkurang. Wajah-wajah yang dulu saya kenal dengan nuansa “menyebalkan” sudah tergantikan dengan wajah-wajah baru. Suasana suram penuh ketidakjelasan waktu itu sudah tergantikan dengan suasana rapi terstruktur dan tentunya penuh senyuman dan sapa.

Tak jarang pegawai yang ada di sana terlebih dahulu bertanya tentang keperluan si mahasiswa yang tampak kebingungan. Situasi para pegawai memang sangat sangat sangat super sibuk, tapi selalu saja ada dari mereka yang terlebih dahulu menyapa.

Inisiatif tinggi. Pelayanan prima.

Kadang mahasiswa yang dengan terpaksa berhadapan dengan SBP punya beberapa masalah yang harus diselesaikan. Dan itu membutuhkan solusi konkret, bukan pertanyaan berputar-putar yang semakin memposisikan si mahasiswa adalah objek terdakwa yang sangat bersalah. Saya akui saya salah, apa yang harus saya lakukan selanjutnya?

Ketika saya datang kembali ke SBP dan berhadapan dengan Kepala SBP menceritakan setiap kronologis permasalahan saya. Beliau tidak banyak berputar-putar bertanya tentang kebersalahan saya. Beliau memang tidak bisa membuat kebijakan, tapi beliau memberikan saya solusi dengan menghadapkan saya pada si pembuat kebijakan.

Saya tidak menyangka bahwa beliau mau repot bolak-balik untuk mengantarkan saya menghadap ke pembuat kebijakan dan mendampingi saya menjelaskan semua kronologis permasalahan yang saya hadapi. Hingga akhirnya saya mendapatkan solusi yang lebih memotivasi.

Sebuah Kampus Idaman.

Apa pun nama kampusnya, baik itu Perguruan Tinggi Idaman, Perguruan Tinggi Favorit, Perguruan Tinggi Terbaik setidaknya para dosen dan staff administrasi yang berkaitan dengan mahasiswanya bisa memberikan motivasi demi kemajuan si mahasiswa. Terlepas apakah mahasiswa tersebut berprestasi atau bermasalah. Setidaknya dengan pelayanan yang penuh senyum dan tidak dibuat ribet, akan membuat si mahasiswa merasa nyaman dengan segala kekurangan yang dimilikinya.

Kalau nggak mau ribet, lebih baik jangan jadi mahasiswa yang bermasalah deh. Tapi kalau jadi mahasiswa yang adem ayem aja juga nggak seru. Mahasiswa bermasalah, jangan pernah putus asa.

Curhat Coret ini saya ikut sertakan dalam Lomba Blog UII yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia. Mudah-mudahan UII juga bisa jadi salah satu Universitas yang pelayanan terhadap mahasiswanya seperti apa yang saya paparkan di atas.

Semangat!! (termasuk saya pribadi)

baca juga tulisan saya yang lain

Perguruan Tinggi Juga Harus Turut Berkontribusi terhadap Lingkungan

Pabrik itu Namanya Perguruan Tinggi

22 comments

  1. nanta · April 29, 2010

    hmm..
    sebagai salah satu mahasiswa yang bermasalah juga saya setuju dengan ente gung…

    coba dari dulu tu birokrat g selalu ngejugde “kalian bersalah” enak enak aja tu ngurusin masalah yang selama ini numpuk hahaha…

    • Ismail Agung · April 29, 2010

      hehehe, ya itu lah problematika menjadi mahasiswa bermasalah.

      Semangat dan tetap produktif

  2. Naja Raya · April 29, 2010

    Kang, kalo kampusnya nyaman banget nanti tak jua hengkang dari kampus kah kang?

    • Ismail Agung · April 29, 2010

      itu kan klo nyaman secara fasilitas…

      klo ini mah kenyamanan antar individu yang bisa bikin kesan mendalam.

  3. Naja Raya · April 29, 2010

    Sayangnya kang…kadang perbandingan “petugas” dan mahasiswa seringkali ga berimbang, satu petugas ngurusin beratus-ratus mahasiswa…kan capek jua lah kang…sebagai seorang mahasiswa bermasalah (kalo bagian ini saya juga mengalaminya kang…)kadang kita perlu juga mmeberi empati pada para bapak-ibu yang bertugas di wilayah administrasi…empati lah kang..:D kok jadi saya yang “memojokkan”
    maap deh kang..

    • Ismail Agung · April 29, 2010

      emang benar, justru karena sikap para pegawai yang seperti saya maksud, membuat saya jadi merasa ingin sangat berterima kasih sekali terhadap mereka karena ditengah kesibukkan yang amat sangat mereka bisa menempatkan dirinya untuk membantu dan memotivasi.

      kebangetan banget klo kita sampai tidak mengucapkan rasa terima kasih kepada mereka. walau itu hanya di dalam hati.

  4. Naja Raya · April 29, 2010

    😀 ah…syukurlah…
    Masih ada mahasiswa seperti kang Ung😀

  5. abiehakim · April 30, 2010

    Ehmm tampaknya peran media saat ini terhadap kondisi perguruan tinggi di Indonesia masih sebatas berita lepas yang kadang justru menyudutkan kampus dan mahasiswanya.

  6. Team Ronggolawe · April 30, 2010

    Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^ Salam dari teamronggolawe.com

    • Ismail Agung · April 30, 2010

      Sama-sama, terima kasih. Sukses buat anda juga.

  7. bluethunderheart · April 30, 2010

    wah dahlama banget tak bercerita tentang ngekampusan………..
    semangat aza y,kawan
    salam hangat dari blue

    • Ismail Agung · April 30, 2010

      setiap kampus punya cerita, ayo cerita Kang Blue..

  8. Setiawan · April 30, 2010

    nice sharing bro.. salam kenal ya..🙂

  9. hellgalicious · April 30, 2010

    apapun kuliahnya, apapun kampusnya, kalo si mahasiswanya ga niat kuliah ya sama aja boong.
    hihih

    • Ismail Agung · April 30, 2010

      Betul betul betul. Itu lah hal paling mendasar dari perguruan tinggi idaman. Komentar paling mantaps!!

  10. Muliardy Banun Online · Mei 1, 2010

    salam kenal,
    postingannya mantap,
    semoga sukses bro,

    salam.

    • Ismail Agung · Mei 1, 2010

      sama sama bang!!!

      sukses juga bang, tapi jangan sukses=suka sesama..

  11. Huang · Mei 2, 2010

    Selamat mas udah ikutan kontes dari UII😀

    • Ismail Agung · Mei 2, 2010

      Sama-sama Bang.

      Ikut meramaikan saja. Sekalian curhat hahaha..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s