AGENDA 25, Bandung menabung air

“De, ibu boleh minta bibit mahoninya satu?”

“Wah dengan senang hati bu, ini bu. Oia jangan lupa tanggal 25 nanti ada kerja bakti untuk Bandung.”

“Oh iya, terima kasih bibitnya.”

“Sama-sama Bu.”

Permintaan bibit mahoni oleh ibu tersebut menyudahi aksi simpatik yang digelar Forum Hijau Bandung yang terdiri dari kawan-kawan BICONS, YPBB, HIMA-HIMA yang aku lupa tanyakan dan termasuk saya sendiri yang tidak membawa bendera apapun.

Berlokasi di perempatan Cikapayang, tepatnya di bawah jembatan layang, aksi simpatik yang digelar ini bertujuan untuk menginformasikan sebuah Agenda bersama pada tanggal 25 April untuk warga Bandung, sekaligus mengambil momen Hari Bumi.

Agenda apa sih tanggal 25 April nanti?

Agenda 25, selanjutnya saya menyebutnya dengan nama ini. Mengenai Agenda 25, semua ini pada mulanya berkaitan dengan segala macam permasalahan yang kerap kali muncul dan dirasakan oleh warga Bandung ketika hujan tiba. Bayangkan saja, rintik-rintik hujan yang turun saat ini bukan lagi berkah yang harus disambut dengan sukacita. Langit mendung hujan turun sungai meluap dan air mengalir dari hulu jalan hingga akhirnya ke hilir.

Kota Bandung sebenarnya nggak rugi-rugi amat ketika gejala hujan turun melanda. Hal-hal aneh di atas hanya terjadi sekilas dalam hitungan jam. Tapi naas, efek domino dari hujan di kota Bandung akan sangat terasa bagi mereka yang tinggal di daerah Dayeuh Kolot alias Kota Lama. Dan berlangsung berhari-hari.

Mereka lah yang merasakan langsung imbas dari efek larian air yang tidak bisa dibendung oleh akar-akar yang tertanam di dalam tanah.

Bagaimana mungkin akar akan membendung, media si akar saja kini sudah diperkeras menjadi nilai estetis yang diperuntukkan untuk kenyamanan para pengendara.

Nah oleh karena itu, pada tanggal 25 April nanti rekan-rekan yang tergabung dalam FHB mengajak seluruh warga Bandung untuk bersama-sama melaksanakan kerja Bakti di pelataran rumahnya masing-masing.

Kerja Bakti seperti apakah?

Mudah kok, sebagai solusi bersama atas larian air hujan yang kian tak terbendung ada dua hal yang bisa dilakukan oleh setiap keluarga di rumahnya.

Yang pertama, tanam minimal satu pohon di pekarangan rumah. Jenisnya boleh apa saja, tapi lebih bagus lagi klo tanaman lokal dengan tajuk (tutupan daun) yang meneduhkan. Tanaman buah mungkin lebih bagus, selain ikut turut meneduhkan tentunya buahnya bisa dipanen bila sedang musimnya.

Yang kedua, buatlah lubang biopori minimal tujuh.

Biopori itu apa sih?

Lebih lengkap tentang biopori bisa dilihat di sini. Intinya sih biopori itu lubang resapan yang diperuntukkan untuk menampung air hujan yang turun. Begitu ceritanya.

Jadi gimana nih warga Bandung?

Nggak sulit kan meluangkan waktu di hari minggu untuk kegiatan Kerja Bakti dirumahnya.

Bingung tentang Biopori bisa dilihat di gambar berikut ini.

5 comments

  1. pipink · April 20, 2010

    aku pernah belajar biopori…sampe ngitung2 nya.. hehehe. tp sangat kecewa krn belom bisa mempraktekkannya langsung😦

  2. ika iqlima · April 20, 2010

    okay , insyaALLAH di sosialisasikan .. info yg bermanfaat untuk masa depan . semangat ‘a !!

    • Ismail Agung · April 20, 2010

      Ayo ayo sosialisasikan kepada RT RW setempat biar bisa serempak…

  3. ardhyan seto · April 21, 2010

    ijin copas yaaaaa….buat manas2in yang di itb..:D

    • Ismail Agung · April 21, 2010

      Silakan Kang Seto, mohon cantumkan sumber tulisannya. Semangat dan sebarkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s