Dear Fita dan Asus

Halo Fita dan Asus,

Melalui postingan ini saya ingin sekali menyampaikan bermilyar terima kasih kepada kalian berdua. Saya sudah menerima kiriman surat dengan bentuk dari kalian, meskipun salah satunya dari Asus mengharuskan saya mengambilnya langsung ke agennya. Tak apalah, saya bersusah payah mengayuh sepeda untuk mengambil Asus, toh ada sebuah ceremonial pelepasan yang mengharuskan si pihak penerima memberikan bukti bahwa kirimannya sudah diterima dengan baik.

Minggu ini menjadi minggu yang mengombang-ambing menurut saya. Sebelum surat dari kalian saya terima, saya tengah diliputi perasaan gundah gulana dikarenakan komentar yang membuat saya surut untuk menulis dan membatasi saya untuk berekspresi dalam menulis. Entahlah, saya sebenarnya tidak bangga pada akhirnya bila blog saya semakin banyak dikunjungi bukan karena sesuatu yang inspiratif, melainkan sesuatu yang mungkin orang lain mengatakan menyudutkan satu pihak tertentu.

Opini manusia memang tanpa batas, tapi seharusnya nafsu manusia lah yang dibatasi. Ah entahlah.

Tapi di hari berikutnya, secara berturut-turut kedua surat dari kalian tiba dan mengembangkan kembali senyumku. Sejenak saya melupakan komentar-komentar itu. Kedua surat itu memberikan semangat baru bagi saya untuk mencoba menulis kembali. Menulis yang lebih baik dari sebelumnya, mencoba menulis yang tidak harus selalu disertai sebuah bukti pun orang akan paham. Menulis apa yang aku suka. Yah apapun itu.

Mungkin aku tampak bodoh pada saat hasil tulisanku diperdebatkan. Ya tampak bodoh karena ternyata aku memang tidak sepandai itu dalam tulis menulis. Aku masih belajar. Belajar menulis dan memahami lebih jauh tentang apa itu menulis. Ah aku bodoh.

Begitu banyak orang berbondong-bondong membaca tulisanku yang satu itu. Yang menurut mereka mungkin kebohongan publik. Dan saya tidak bangga, saya tidak bangga karena satu tulisan itu menghapus puluhan tulisan lainnya yang aku tulis tanpa sebuah beban perasaan. Semakin mereka mampir, semakin menonjol lah tulisan tersebut di mesin pencarian. Dan saya tidak bangga.

Bukannya saya tak mau mengalah. Komentar itu pasti akan hilang bila saya hapus begitu saja berikut dengan tulisannya. Saya tidak hendak menyampaikan sesuatu yang benar. Hanya menyampaikan suatu ketidaknyamanan dalam berbuat. Jika saya hapus, maka ketidaknyamanan itu justru akan timbul kembali.

Dear Fita, buku kirimanmu aku baca ya…

Dear Asus, DVD eksternalmu aku pakai ya…

Terima kasih untuk kalian berdua.

# Dear Gene, of course you are near

# And now there’s nothing to fear

# I should have known

# I was never alone

# This isn’t the last song

# There’s no violin

# The choir is so quiet

and no one takes a spin

# This is the next to last song

# And that’s all

# All

# Remember what I have said

# Remember, wrap up the bread

# Do this, do that, make your bed

# This isn’t the last song,

there’s no violin

# The choir is quiet

and no one takes a spin

# It’s the next to last song

5 comments

  1. David · April 16, 2010

    Kawanku, jangan putus asa. Jangan kau pedulikan komentar orang yang sebenarnya gak penting. Mereka hanya iri. Tulisan mereka belum tentu sebaik tulisanmu, kawan. Kau patu dihargai. Aku suka dengan semangat dan kerja kerasmu dalam mengelola blog ini.

    Semangatlah dan teruslah menulis. Salam!

    • Ismail Agung · April 16, 2010

      Hai David,

      Terima kasih atas dukungannya. Mudah-mudahan rasa iri itu menjadi motivasi mereka dan saya untuk lebih baik. Karena rasa iri bisa menjadi sumber kekuatan.

      Saya akan terus berusaha menulis, menulis dan menulis. Walau mereka hendak membenamkanku dalam belenggu.

      Terima kasih Kawan…

  2. akusukamenulis · April 16, 2010

    wah, sampai ada postingan tulisan tersendiri..
    *terpana mode.ON😀

    alhamdulillah kalau bukunya sudah sampai,,
    niatnya memang berbagi dan berharap buku itu bermanfaat..
    dan dari postingan blog ini saya jadi terharu karena buku kecil itu ternyata mampu menumbuhkan semangat menulis seseorang di seberang sana..

    keep fighting, Gung!^^
    kegiatan memang dekat dengan komentar : bagus dan jelek.
    tanpa ada yang mengritik, memuji, dan menikmati karya kita maka proses menulis kita tidak akan berkembang.
    dan menulis tanpa pendalaman, perenungan, referensi, dan observsi yang mendalam hanya akan menjadikan kita penulis “kacangan”..

    tidak ada kata berhenti untuk sebuah proses pembelajaran..
    never ending learning, semangattttt!!!\(^.^)/

  3. Naja Raya · April 19, 2010

    He he he…ah Kang Ung kayak ndak tau aja…kalo masih dikritik, masih dikomentarin…itu artinya masih diperhatiin kan Kang? Mana ada orang yang ga perhatian ngasih komentar? ndak ada tuh sejarahnya begitu…

    Semangat dan Bersiap menjadi PUSAT PERHATIAN…

    • Ismail Agung · April 20, 2010

      Kebalik, justru tulisan saya yang mengkritik… dan mereka berkomentar bahwa kritikan saya malah mencemarkan nama baik. Duh jadi serba salah menjadi orang yang kritis. Atau mending jadi orang yang apatis?

      Tapi betul juga, mereka komentar pasti karena mereka perhatian.. atau memperhatikan lebih tepatnya.

      Terima kasih atas ucapan semangatnya!!! SEMANGAT!!!

      Menjadi pusat perhatian, oh tentu saja hahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s