Perjalanan Panjang WWF untuk Earth Hour

9 hari menuju Earth Day 2010.

Kemarin tepatnya hari senin, kota Bandung kedatangan rombongan WWF yang sudah roadshow keliling kota-kota besar di pulau Jawa Bali.

Udah pada kenal dengan WWF kan? Itu tuh sebuah Lembaga yang terkenal dengan logo Pandanya.

Kedatangan mereka ke Bandung tak lain dan tak bukan untuk apa yah, mungkin bersilaturahmi dengan komunitas lokal yang ada di Bandung. Sekaligus mengevaluasi kegiatan Earth Hour 2010 kemarin dan juga merencanakan Earth Hour 2011 nanti.

Secara pribadi saya tidak terlalu excited dengan yang namanya gelaran Earth Hour, weis pada waktu itu aku lebih milih untuk tidur dan menyenyakkan diri ketimbang bergelap-gelapan selama satu jam kemudian setelah dari itu ramai-ramai menyalakan segalanya seperti sedia kala tanpa merasakan suatu perubahan dalam diri yang berarti.

Tapi aku penasaran banget dengan yang namanya program ini dari sudut pandang si WWF-nya sendiri. So, bertempat di Common Room pada pukul 4 sore ngaret dikit, meluncurlah saya ke sana.

Acara pun dimulai dan jreng, pemutaran film seputar kegiatan Earth Hour kemarin dan juga sebelum-sebelumnya. Hohoho, seremonial Earth Hour bisa dikatakan sukses dari tahun ke tahun karena jumlah partisipan tiap tahunnya semakin meningkat. Lalu kenapa harus Earth Hour, wah klo ini sih saya nggak usah menjelaskan. Selintas lalu juga saya pernah posting kenapa harus Earth Hour. Yang intinya sih penghematan energi agar bumi bisa istirahat sejenak.

Berbeda halnya dengan negara kami Indonesia. Earth Hour bukan hanya sekedar seremonial pengistirahatan bumi. Tidak seperti negara-negara maju lainnya seperti Amerika Jepang Australia Eropa dimana hidup mereka menggantungkan diri pada konsumsi listrik yang amat besar. Indonesia -yah namanya juga negara berkembang- ternyata masih banyak daerah-daerah yang masih belum terjangkau PLN, masih banyak yang byar pet byar pet, masih banyak yang berlilin dan berobor ria, masih banyak yang belum menikmati surga di malam hari. Dan masih banyak lagi yang mengeluh.

Earth Hour dan WWF yang gencar mengkampanyekannya. Saya jarang menonton TV tapi setidaknya, detik-detik menjelang hari-H sering terdengar gaungnya di televisi. Poster-poster pun banyak saya temui di hotel atau public space tentang ajakan 60 menit saja. Tapi semua itu tidak menyentuh saya untuk lebih paham kenapa dan untuk apa. Bisa dilihat di postingan saya sebelumnya di sini.

Pembicaraan pun berlanjut kepada permasalahan yang ada di kota Bandung.

Kang Regi dari Common Room pun bercerita tentang Bandung dengan segudang masalah. Dari penanaman Mall, penghilangan Situs-situs Budaya, dan juga modernitas yang mengubah tingkah laku manusia untuk lebih peduli pada gaya hidup yang sedang in saat ini namun tidak arif pada lingkungannya.

Lalu Mang Utun (Sunda Underground) pun menambahkan kisah tersebut dengan banyaknya penggiat lingkungan di Bandung yang jumlahnya bisa mencapai 300-an, namun belum bisa menyeimbangkan kondisi lingkungan yang ada. Menurunnya kearifan lokal, berkurangnya kesadaran dan lebih berkutat pada gaya hidup adalah alasan utama munculnya permasalahan itu semua. Kesadaran warga kota Bandung itu tidak lebih dari 0,5 sekian persen, begitu katanya.

Hm, mungkin benar juga Mang. Buktinya yang hadir untuk diskusi bareng dengan WWF saya pikir justru penggiat lingkungan yang biasa saya kenal kok tidak ada. Eits, bukan berarti mereka males, ini bisa jadi karena sosialisasi dari WWF-nya aja yang nggak berkenaan langsung ke komunitas-komunitas lingkungan yang ada di Bandung. Patut dipertanyakan juga, karena pada saat pertemuan ini saya justru merasakan aura yang bukan penggiat lingkungan Bandung banget, dan itu juga dirasakan oleh teman yang duduk di sebelah saya.

Atau bisa juga karena mereka males untuk mendiskusikan sesuatu yang hmm muluk-muluk (seremonial setahun sekali tanpa effort keberlanjutan, hanya pemborosan dana kampanye) dan mereka lebih fokus pada program rutin mereka sendiri yaitu mendampingi masyarakat sekitar agar senantiasa dapat lebih arif dan bijak lagi terhadap lingkungannya.

Atau karena jadwal yang padat? Setahu saya selain pertemuan ini juga ada agenda pertemuan lainnya yang lebih urgent.

Entahlah, hanya Tuhan Yang Maha Tahu.

“Menjadikan momentum 60 sebagai agenda pemerintahan itu mudah. Tapi kekhawatirannya, ini tidak akan mengubah tingkah laku masyarakat secara luas. Perlu pendekatan dengan komunitas lokal agar momentum ini menjadi inisiatif dan aksi sebuah solusi ke depan dimana kontrolnya bisa dipantau oleh komunitas lokal tersebut.”

Setuju Kang Regi.

Jadi bagaimana agar kampanye Earth Hour ini bisa lebih tepat sasaran?

Dalam hal ini Kang Regi memberikan strategi dimana untuk mencapai semua itu diperlukan hubungan kemitraan antara setiap stakeholder yang ada di antaranya adalah

Artist/ Local community/ Policy makers/ Researcher/ Scientist/ Enviromentalist/ General Public/ Designer/

Activist/ Funder Investor/ School University/ Cultural center/ Ict/ Media/ Creative and Social Enterpreuner/ Architect/ Urban Planner/

Banyak pisan, tapi emang heueh.

Untuk 2011 gimana nih?

Bagusnya sih WWF sebagai inisiator program ini memfasilitasi komunitas-komunitas lingkungan lokal yang ada untuk bisa mengkampanyekan Earth Hour tapi bukan sekedar Earth Hour berupa seremonial satu tahun sekali. Melainkan pendampingan terhadap masyarakat untuk lebih bijak menggunakan energinya dan juga mengembangkan wilayah-wilayah yang sampai saat ini belum dapat menikmati indahnya listrik di malam hari.

Ingat, tantangan besar dari Earth Hour itu bukanlah sekedar mematikan lampu selama satu jam saja. Tapi bagaimana kita bertindak setelah satu jam perenungan dalam kegelapan, memikirkan apa yang akan kita lakukan satu jam berikutnya, satu hari berikutnya dan hari-hari berikutnya. That’s the point.

Sekian dulu lah, semoga kunjungannya ke Bandung menambah masukkan yang yah gitu deeeeeh bermanfaat pastinya. Hahahahaha.

Terima kasih untuk Ferena selaku Lead iklim dan energi, Gunawan saya tunggu kiriman buku ESD-nya, dan Titiw a.k.a Laudya Cheril (kopidarat nih kita) atas sharing dunia webnya. Dan juga teman-teman Common Room serta penggiat lingkungan yang datang, ibu Rini SMP 7 dengan gowes to school, Sunda Underground dengan spirit etnologi untuk ekologi, Parkour dengan leave no trace, GI dengan kerja bakti tanggal 25 nanti, Ami, Trio, Nugraha dengan semangat putihabunya, B2W tanpa sepedanya dll (dan lupa lagi), dmbl (dan masih banyak lagi).

Salam Acuh.

3 comments

  1. Mas Ben · April 15, 2010

    Jam bumi, kan kita sudah sehari-hari 24 jam di bumi ya ? hehhhe

    Iya sih, beruntung sekali ada orang / organisasi yang rela bercapek-capek mengajak kita kita bumi yang sudah mulai renta ini🙂

    Hidup bumi hijau seger gemah ripah loh jenawi.

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

  2. yasmin · April 15, 2010

    agung. minta izin share tulisannya untuk website common room ya🙂
    link dan penulis akan disertakan😀

    ami tunggu konfirmasinya ya🙂
    jawab aja di fb (udah ami add). ho ho ho. nuhun.

    .yk.

    • Ismail Agung · April 16, 2010

      oke ami, dengan senang hati silakan di repost. tapi ko bisa disunting lagi, siapa tahu ada kata-kata yang kurang berkenan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s