LUMPIA BASAH juga bisa GO GREEN

12 hari menuju Earth Day 2010.

Kalau ada yang bertanya, jalan apa yang paling ga enak untuk bersepeda? Saya akan langsung menjawabnya yaitu, Buah Batu.

Kenapa dan ada apa dengan buah Batu?

Alasannya karena di jalan tersebut selalu penuh dengan yang namanya kendaraan yang berhimpitan, motor yang tak mau mengalah, asap-asap berjelaga hitam dan gersang tiada tara.

Sungguh rupa jalan yang tidak layak untuk dilalui pesepeda.

Klo temanku Barbara bilang sih ter-mesin-isasi.


Siang tadi saya mencoba jajan Lumpia Basah di jalan Solontongan Buah Batu. Pada tahu kan lumpia basah. Makanan yang hanya bermodalkan toge, bawang putih telur dan potongan sayur berwarna coklat entah apa namanya dibalur dengan pecin yang ga kira-kira banyaknya bikin hidung tersedak. Yah pokoknya seperti itu lah.

Kalau kita sering perhatikan, sajian lumpia basah ini selalu menggunakan alas kertas nasi, lalu dimasukkan wadah plastik bening dan terakhir masuk kresek beserta sumpitnya. Ternyata, untuk sebuah sajian lumpia basah ada 4 jenis sampah yang dihasilkannya. Suatu pemborosan yang sungguh amat disayangkan.

Tapi, tadi itu saya dipertemukan dengan seorang tukang lumpia basah Solontongan yang dalam penyajiannya tidak menggunakan kertas nasi. Sebagai bahan alternatifnya, dia justru back to nature dengan menggunakan daun pisang.

Saya pun bertanya, kenapa pakai daun pisang?

Dan jawabannya adalah, karena banyak pembeli yang komplain diakibatkan plasti yang ada di kertas nasi suka ikut termakan.

Alasan yang masuk akal. Si pedagang yang tidak mau kehilangan pelanggan tentu saja harus mengubah cara penyajiannya. Dan mau nggak mau dia lebih memilih untuk menggunakan daun pisang sebagai media alternatif. Namun daun pisang tak hanya sekedar pembungkus saja, aroma daun pisang justru menambah kuat rasa yang ada pada si lumpia basah.

Seorang tukang lumpia basah pun bisa turut go green. Meskipun itu memang bukan inisiatif si pedagang.

Yang ingin saya ditekankan di sini adalah kita sebagai pembeli. Ya, saya kamu anda kami kita pembeli lah yang telah mengubah si tukang lumpia basah itu.

Sebagai pembeli, kita punya hak untuk mendapatkan sebuah pelayanan yang memuaskan. Jadi kenapa tidak jika kita menyuarakan sebuah perubahan pelayanan memuaskan yang memiliki dampak cukup berarti, tidak hanya untuk si pembeli dan si penjual, tapi juga untuk lingkungan.

Mudah-mudahan semakin banyak perubahan kecil yang berarti dan bisa dilakukan bersama.

Salam Acuh.

4 comments

  1. anil · April 13, 2010

    hoho,,,,
    agung, yang terjadi di peristiwa lumpia, tampaknya mah seperti materinya green consumer
    jd, perubahan memang terjadi karena permintaan dari orang2 yang sadar…
    mari kita menambah jumlah orang yang sadar dan mau nyebarin virus,,,,

    btw, sedikit cerita,,,,
    tadi sore aq beli eskrim cam**na,,
    nah, penyajiannya kan menggunakan cup dari kertas….
    si aq kan seperti biasa,,bawa2 misting kosong + sendok..
    langsung kepikiran: Lebih baik pake misting aja eskrimnya, daripada pake cup dari kertas (yang pastinya akan sekali pake doang)dan juga minta supaya gak dikasi sendok kayu

    apa yang terjadi???
    jreng jreng jreng….
    seperti biasa,,,si pelayannya malah merasa gak enak karena gak memberikan pelayanan prima (aneh pan?)

    dari cerita si eskrim cam**na tersebut, sebenernya aq pengen nunjukin bahwa, kalo sebuah perubahan masih aneh (si pelayan cam**pina tampaknya baru nemu pembeli yang bawa misting buat wadah eskrim). Jadi selain kita ngomong kasi usulan,,,kita sendiri sebagai konsumen, bisa juga langsung melakukan antisipasi pengurangan sampah sejak dini….tanpa menunggu pedagangnya berubah…

    di sisi lain,
    sekalian kasi contoh nyata sama si pelayan,,,,

    heu2,,maap agung panjang,,,mungkin harusnya nulis 1 artikel sendiri tentang pengalaman cam**na.

    • Ismail Agung · April 13, 2010

      teu nanaon anil, mau panjang sa tebel novel ayat-ayat cinta ge mangga wae. eta eskrim naon? asa karek denge ada merek eskrim cam[bintang-bintang]pina. hahahaha….

      memang harus dibarengi dengan tingkah laku si pembelinya juga.

  2. Naja Raya · April 13, 2010

    ya…syarat beli lumpia basah berbungkus daun pisang cuma satu sih kang…daunnya jangan ikut dimakan ya…😀

    • Ismail Agung · April 13, 2010

      eh nggak apa-apa kali klo daunnya dimakan… itu juga klo doyan…

      klo nggak doyan mending nggak usah hahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s