menelusuri JEJAK MAKANAN sambil SEPEDA SUBUH keliling PASAR

Amber023

18 hari menuju Earth Day.

Hari ini memulai hari dengan lebih awal. Saya menyambut hari minggu ini dengan tidak tidur semalaman. Lumayan bikin mata semakin sipit dari yang biasanya.

Cerita pagi ini dimulai dari pukul 4 pagi waktu Indonesia bagian Bandung. Saya dan temen-teman dari Sahabat Kota punya agenda untuk bersepeda subuh dengan tema pasar.

Ya kami hendak berkunjung ke pasar-pasar yang ketika subuh tiba mereka sudah ramai dengan aktvitas jual beli. Kami tidak hendak berbelanja kebutuhan dapur, tapi kebetulan ada tugas yang musti diselesaikan untuk sebuah modul pendidikan yang rencananya oleh saudari Kandi akan dirilis bulan Mei mendatang. Tujuan kami ke pasar adalah tak lain dan tak bukan untuk mengetahui asal usul makanan yang biasa kita beli. Pasar yang hendak kami selidiki adalah Pasar Simpang dan Pasar Ciroyom.

Ketika berbicara tentang sepiring nasi goreng, tentu saja bahan-bahan yang terpikirkan oleh kita kala itu adalah beras, minyak, telor, bawang merah, cabe merah, cabe rawit, tomat, mentimun, kecap manis, garam, dmblssmm (dan masih banyak lagi sesuai selera masing-masing). Menyusuri jejak makanan, itu mungkin yang lebih tepatnya.

Berbekal  list bahan-bahan tersebut kamipun lalu masuk menyusuri hiruk pikuk pasar yang becek dan bau sekedar bertanya-tanya kepada para pedagang. Nggak mudah memang untuk bertanya kepada para pedagang mengenai asal usul barang yang mereka jajakan. Sebagian dari mereka ada yang tidak tahu karena mereka mengambilnya langsung dari agen/grosir, sebagian lagi cukup tahu namun itu juga katanya, dan sebagian yang lain cukup riweuh jika ditanya-tanya soal begituan karena kita tidak bertujuan membeli tetapi cuman nanya doang sedangkan para pedagang tampak sibuk melayani.

Namun begitu, setidaknya dari menu makanan Nasi Goreng saya sudah lumayan tahu darimana bahan-bahan yang diperlukan itu berasal.

Beras misalnya, asal usulnya macam-macam bisa dilihat dari karungnya. Ada yang Tasik, Cianjur bahkan Solo. Fakta yang saya dapat adalah, beras-beras dari Jawa lebih cenderung stabil dalam pendistribusian alias selalu ada stok. Begitu kata si pedagang. Lalu telur, katanya sih di sekitar daerah Rajawali Bandung. Mungkin di sana ada gudang telur. Fakta yang saya dapat adalah, ada telur yang berasal dari Medan. Begitu kata si pedagang memberi tahu dengan bangga. Sayuran, asalnya dari Pangalengan. Fakta yang pernah saya tahu, sayuran dari Pangalengan selalu dikirim ke Jambi. Kecap, klo kecap merek tidak dikenal biasanya produk lokal. Dan asal usulnya bisa dilihat di labelnya gampang kan.

Itulah sebagian informasi yang bisa kami peroleh.

Dari hasil tersebut, saya sedikit berpikir tentang telur dan beras. Saya cukup kaget ketika tahu asal usul telur ternyata lumayan jauh sekali untuk sekedar didadar atau diceplok. Kenapa sampai harus dikirim dari Medan, apakah stok telur lokal kurang memadai?

Dan beras, masih inget kan cerita tentang beras impor yang membanjiri dan menyaingi produk lokal sampai-sampai produk lokal tercekik. Padahal katanya negeri kita negeri Agraris, katanya lulusan pertanian setiap tahunnya jumlahnya ribuan. Dan katanya, untuk saat ini si beras-beras impor itu bisa lebih terkendali. Namun, begitu stok lokal menghilang maka cepat-cepat beras impor dikirim untuk menjaga kestabilan ekonomi.

Untuk sebuah pasar tradisional pun masih bisa kita temui bahwa sebagian dari bahan-bahan tersebut menempuh perjalanan yang lumayan panjang. Coba bandingkan dengan barang-barang di Supermarket, cek labelnya.

Malah terkadang, semakin jauh jaraknya kita malah semakin bangga menggunakannya. Hayo ngaku…!

Iya deh saya ngaku… Nggak tahu kenapa saya justru merasa bangga menggunakan barang yang asal usulnya tidak pernah saya memijakkan kaki di sana (Terkecuali Made in China).

Jadi,

“semakin jauh asal usulnya, semakin besar pula efek yang ditimbulkannya”

2 comments

  1. rickoy · April 23, 2010

    Wah bgus neh sitenya..
    ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s