Dibalik Layar BESWAN SAUNG ANGKLUNG UDJO

Minggu, 28 Maret 2010

Lagi-lagi saudara Agni tak bosan-bosannya mengajak saya untuk ikut menemaninya. Kali ini acaranya Beswan “rokok” (nggak usah saya sebut merknya, pada tahu kan) yang bekerja sama dengan Ashoka. Inti acaranya sih memberikan motivasi kepada mereka yang kurang beruntung yaitu teman-teman Anak Jalanan, Anak Panti dan Anak Kampus untuk membuat sebuah perubahan bagi dirinya sendiri juga bagi orang-orang disekitarnya.

Amber004

Lokasi acaranya di Saung Angklung Udjo. Saya nggak bisa menolak ajakan dari Agni karena hasrat pribadi saya mengatakan saya belum pernah mampir ke tempat ini. Jadi saya musti ikut.

Saya kira saya musti ngapain, yah ternyata cuman menemani aksi si Agni di panggung. Nggak hanya cuma juga sih. Agni bilang dia butuh kemampuan saya untuk sedikit mem-break-break ice suasana.

Sedikit tidak pede juga (si Agung tidak pede, bohong pisan) apalagi ujug-ujug ditunjuk jadi MC. Bergetar-getarlah lututku.

Entah kenapa, setelah saya menarik nafas bareng-bareng dengan para pesertanya saya langsung jadi pede. Hahahaha. Perlu dicoba tuh saudara-saudara.

Sebelum si Agni presentasi, terlebih dahulu ada sharing pengalaman dari Asep Ramdhani. Si Enchep

(begitulah panggilannya) dia adalah Young Change Maker-nya Ashoka. Di usianya yang masih muda, kelahiran 1991 dia sudah bisa menghimpun teman-teman sekitar rumahnya yang terpaksa menjadi pekerja anak.

Rumahnya itu di Cibaduyut, dan anak-anak pekerja itu tentunya bekerja bikin sepatu. Bayangkan saja, setiap harinya anak-anak itu harus berhadapan dengan lem-lem Aibon yang bisa merusak syaraf. Belum lagi mereka kehilangan hak-hak mereka. Hak bermain dan belajar.

Asep sendiri dulu termasuk dalam bagian mereka. Bekerja membuat sepatu hingga satu tahun. Asep ingin berubah, dan perubahan yang dilakukannya ditularkannya pula kepada teman-temannya.

Bicara tentang perubahan. Ini lah materi yang hendak dibawakan si Agni. Menggali potensi permasalahan menjadi peluang untuk berubah hingga akhirnya perubahan itu berdampak pula pada orang-orang disekelilingnya. Begitu bung Agni?

Terus si Agung ngapain?

Ah saya mah menghangatkan suasana dengan konyol-konyolan saja. Mari semuanya kita bermain Tonji-tonji!!

Ada satu hal yang sebenarnya aku nggak suka dari Beswan ini. Saya melihat dengan kepala mata ini bahwa si pihak panitia menawarkan rokok pada Peserta. Dan sebelum itu pun si ketua pelaksananya malah terlebih dahulu bertanya kepada saya apakah saya merokok atau tidak.

Oh ternyata..

Jika saya mengatakan saya merokok apakah itu artinya saya akan diberi rokok?

Saya mendukung itikad baik anda dengan memberikan motivasi kepada teman-teman yang kurang beruntung. Tapi apa hubungannya dengan memberikan rokok?

Meskipun anda adalah produsen rokok dan tidak merasa rugi jika harus membagikan rokok pada peserta yang jumlahnya menurut anda usianya di atas 18 tahun dan tidak lebih dari 50 orang. Saya tetap tidak bisa membenarkan tindakan anda. Seharusnya anda bisa melihat dengan jernih bahwa peserta yang hadir saat itu justru lebih banyak di bawah usia 18. Pantaskah anda memberikan contoh yang tidak selayaknya?

Atau memang anda semua (para Beswan) dididik untuk menjadi seorang perokok? Seperti yang anda (para Beswan dan para Alumni) contohkan ketika jam istirahat berlangsung, mengepulkan asap dengan penuh kenikmatan dan berakhir dengan puntung yang anda injak sekenanya pada tempat yang tidak seharusnya.

Klo saya jadi Pak Udjo, saya akan marah melihat tindakan anda yang seenaknya miceun runtah!!

Saya sangat berterimakasih sekali pada saudara Asep yang menampilkan slide show tentang “rokok bukan untuk anak-anak”. Saya sungguh tidak menyesal melihat apa yang telah anda lakukan.

Saya bangga melihat anda di sana. Sosok muda agen perubahan.

Yap, sekian lah satu minggu yang saya lewati. Bagi saya ini adalah pelarian. Pelarian yang positif. Saya melihat sisi kota dari sudut yang berbeda. Melihat segala permasalahan menjadi peluang. Melihat jalan aspal dengan cerita yang berbeda.

25 comments

  1. Mauren · Maret 31, 2010

    wah, ternyata beswan juga ya mas🙂

    • Ismail Agung · Maret 31, 2010

      Maaf saya bukan beswan. Hanya menemani teman saja….

  2. Nana · Maret 31, 2010

    hohoho.. bagus.. bagus..

  3. hendra · April 10, 2010

    Nice post kawan,…mengambil perspektif yg berbeda dlm keadaan ini…
    Sebenarnya juga perlu dipahami motivasi dan niat yg tulus utk memberikan manfaat buat orang2 di sekitar kita…tapiiiiiiii…..
    Kita, mau tidak mau, suka atau tidak, inilah brand yg melekat pada kita yakni Beswan Djarum. Pihak Djarum sndiri pasti punya alasan knp mereka sprt itu. Seharusnya, pihak panitia pelaksana bisa mengantisipasi hal-hal yg terjadi di atas, misalnya utk apa kegiatan itu diadakan, tujuannya apa, sasarannya, serta manfaatnya. Jangan hendaknya disusupi dgn acara promosi dgn membagikan rokok. Lain pula kejadian apabila di luar acara/program itu sndiri. Semoga bisa menjadi pelajaran buat kita semua khususnya pihak Djarum dlm hal ini agar lebih berhati-hati dlm memasarkan produknya sehingga makna acara yg dijalankan sesuai yg kita harapkan bersama.
    Salam beswan…
    http://blog.beswandjarum.com/hendra

  4. johan wahyu · April 10, 2010

    wah,,, jadi pingi ke sana…. hehhehhe

  5. putu agnia · April 10, 2010

    mas agung, saya putu, ketua panitia acara ini. ingat?

    acara ini sepenuhnya bermaksud baik tanpa adanya niatan promosi dari pihak korporat. artikelnya dapat dilihat di blog saya.
    perlu di klarifikasi, tanpa adanya produk gratis dalam acara ini pun, acara tetap dapat berlangsung.

    saya, sebagai ketua panitia, memonitor sirkulasi pembagian rokok.

    perlu dicatat, peserta kegiatan ini tidak hanya anak – anak panti asuhan, namun juga anak jalanan (yang kita semua tahu kebiasaan mereka, dan betapa sulitnya mereka diatur dalam sebuah aturan yang pasti)

    kami memang memberikan rokok sebagai tip untuk para pekerja dan pihak – pihak yang membantu berlangsungnya acara ini (ini pasti saya akan bertanya terlebih dahulu apakah orang yang bersangkutan merokok atau tidak, sama seperti yg saya tanyakan pada mas agung dan mas agni sebagai salah satu pihak yang turut mensukseskan acara ini). kami tidak melakukan pemaksaan, alih – alih promosi.

    untuk masalah pembagian rokok kepada peserta,
    perlu dicatat sekali lagi, saya tidak memberikan rokok kepada anak – anak panti asuhan atau anak – anak dibawah umur. memang, saya memberikan rokok pada saat jam istirahat, tetapi itu saya berikan kepada pembina anak jalanan. (bahkan saya masih ingat jumlah serta brand rokok yang saya berikan)

    mungkin luput dari perhatian mas agung bahwa kami tidak merokok saat kegiatan inti berlangsung. (dan kami punya aturan beserta sanksi atas hal tersebut).

    Merokok itu sebuah pilihan,mas agung,
    dan tidak semua penerima beasiswa dari Djarum adalah perokok
    (bahkan dari 1 angkatan, saya bisa menghitung dengan jari siapa teman – teman yg merokok).
    kami tidak bisa melarang mereka untuk tidak merokok, selama masih dalam aturan – aturan yang telah disepakati.

    perlu diketahui, Beswan Djarum benar – benar merupakan itikad baik dari korporat untuk memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi tanpa adanya embel – embel pembagian produk ataupun promosi produk. silahkan browsing ke http://www.beswandjarum.com untuk lebih jelasnya.

    saya sangat menyayangkan apabila terjadi kesalahan persepsi mengenai hal ini,
    semoga sedikit penjelasan dari saya dapat membuka pemikiran mas agung.

    saya bersedia kalau mas agung mau membicarakan masalah ini atau sekedar sharing mengenai apapun. terima kasih, mungkin perspektif ini dapat menjadi bahan refleksi dari kita panitia maupun beswan serta korporat pada umumnya.

    btw, fotonya bagus mas😉

    • Ismail Agung · April 11, 2010

      halo putu terimakasih sudah membalas postingan ini.
      tentu saja saya masih ingat dengan putu, kan putu yang menanyakan kepada saya apakah saya merokok atau tidak. maaf saya belum bisa membalas dengan panjang lebar, karena keterbatasan akses jaringan.

      mudah-mudah saya bisa menyempatkan membalas dengan lebih komplet tentang persepsi saya.

      oia saya ingin menginformasikan bahwa saya tidak ada hubungan keorganisasian dengan saudara agni yang berlatar belakang Ashoka, mudah-mudahan itu tidak masuk dalam konteks tulisan saya yang bersifat opini pribadi.

      karena Putu membolehkan untuk bertukar pikiran saya ingin menyampaikan beberapa persepsi saya, tapi nanti.

      terimakasih.

      • Ismail Agung · April 12, 2010

        Halo Putu, maaf saya ingin melanjutkan kembali tulisan-tulisan ini yang sempat tertunda.

        Terima kasih kembali atas klarifikasi dari saudari Putu yang mencoba meyakinkan saya tentang maksud dari kegiatan ini yang menurut anda katakan
        “tanpa adanya produk gratis dalam acara ini pun, acara tetap dapat berlangsung.”

        Di postingan saya pun, sepertinya saya tidak ada bermaksud mengungkit tentang promosi rokok,
        “Saya mendukung itikad baik anda dengan memberikan motivasi kepada teman-teman yang kurang beruntung. Tapi apa hubungannya dengan memberikan rokok?”

        Itu pernyataan saya di postingan di atas, silakan di kroscek kembali bila saya tidak mendukung acara itu.

        Yang menjadi pertanyaan paling mendalam saya adalah, Apa hubungannya dengan memberikan rokok?
        Itu sebenarnya yang masih menjadi ganjalan di hati saya hingga saat saya menuliskan ini.

        “kami memang memberikan rokok sebagai tip untuk para pekerja dan pihak – pihak yang membantu berlangsungnya acara ini”

        Ternyata budaya rokok sebagai tip masih zaman sampai sekarang, mau sampai kapan dibiasakan? Sulit memang untuk melepaskan budaya satu ini. Yang ini tidak usah dikomentari balik. Karena jawabannya akan sangat melekat dengan brand.

        “untuk masalah pembagian rokok kepada peserta, perlu dicatat sekali lagi, saya tidak memberikan rokok kepada anak – anak panti asuhan atau anak – anak dibawah umur.”

        Klo begitu perlu dicatat juga oleh anda bahwa saya tidak menulis suatu pernyataan bahwa anda dan rekan-rekan memberikan rokok pada anak panti asuhan dan adik-adik di bawah umur,

        “Meskipun anda adalah produsen rokok dan tidak merasa rugi jika harus membagikan rokok pada peserta yang jumlahnya menurut anda usianya di atas 18 tahun dan tidak lebih dari 50 orang. Saya tetap tidak bisa membenarkan tindakan anda. Seharusnya anda bisa melihat dengan jernih bahwa peserta yang hadir saat itu justru lebih banyak di bawah usia 18.”

        Dan satu lagi klarifikasi dari anda,
        “saya memberikan rokok pada saat jam istirahat, tetapi itu saya berikan kepada pembina anak jalanan.”

        Terimakasih sudah mencoba mengklarifikasi. Saya orang awam dan anda panitia, bagaimana saya bisa membedakan pendamping anak jalanan dengan peserta seminar dari anak jalanan?
        Yang saya lihat waktu itu, rekan anda memberikan rokok kepada orang-orang yang berpakaian hijau. Saya tidak bisa membedakan, kecuali pendamping dari Rumah Seni Harry Roesli yang masih keukeuh menggunakan baju hitamnya, saya yakin seratus 100 bahwa dia pendamping (masa peserta jenggotnya dah lebat gitu). Dan yang berpakaian bebas itu hanya satu orang, sisanya pasukan hijau. Apakah pembina diwajibkan menggunakan baju hijau?

        “mungkin luput dari perhatian mas agung bahwa kami tidak merokok saat kegiatan inti berlangsung.”

        Mungkin luput dari pandangan anda, saya tidak memberikan pernyataan bahwa para panitia or alumni beswan merokok pada saat materi diberikan.
        “Seperti yang anda (para Beswan dan para Alumni) contohkan ketika jam istirahat berlangsung,”

        Ini pernyataan anda,
        “Merokok itu sebuah pilihan”

        Saya tidak hendak mendebat pernyataan ini. Saya setuju dan perlu anda tahu saya bukan termasuk pendukung garis keras fatwa rokok haram.
        Kenapa saya setuju, karena kurang lebih selama 15 tahun 9 bulan saya sudah menjadi seorang perokok pasif. Di usia saya yang baru ditiupkan ruh pun saya sudah dengan terpaksa mengikuti pilihan si pemilik janin untuk menghirup rokok. Lepas dari 15 tahun 9 bulan pun saya masih menjadi seorang perokok pasif di bawah tekanan lingkungan sekitar. Saya nggak bisa protes, toh seperti yang anda sampaikan “merokok itu pilihan”.

        Dari pernyataan tersebut saya menemukan tiga skema tentang merokok itu pilihan. Karena yang merokok itu hanya pembina anak jalanan yang kata anda itu “sulit diatur” jadi ceritanya begini.

        1. anda tidak memberikan rokok kepada pembina anak jalanan, hasilnya adalah pembina dan anak-anak jalanan juga tidak akan merokok. (syukur)

        2. anda memberikan rokok kepada pembina anak jalanan, hasilnya adalah pembina merokok dan anak-anak jalanan kebagian rokok dan akhirnya merokok. Selamat anda telah menjembatani proses ini.

        3. anda tidak memberikan rokok, tetapi pembina dan anak-anak jalanan merokok. Yang ini baru namanya merokok itu pilihan mereka.

        Nah, situasi anda adalah situasi no 2. Meskipun anda tidak memberikan rokok secara langsung kepada anak jalanan tetapi memberikan pada pembina namun akhirnya sampai juga ke si anak jalanan, apakah anda masih tetap merasa merokok itu sebuah pilihan?

        Merokok memang pilihan bagi si perokok, tapi menurut saya anda justru berperan sebagai “PEMBUAT PILIHAN” untuk mereka merokok. Rokok yang anda berikan justru menjadi jembatan bagi anak-anak jalanan memilih apakah dia akan merokok atau tidak?

        Meskipun prosesnya memang tidak langsung kepada si anak jalanan, tapi tetap saja anda punya dampak dan pengaruh sebagai pembuat pilihan.
        Klo anda hendak meyakinkan saya, coba jelaskan bagaimana membedakan pembina dan anak jalanan? Lalu pemberian rokok di hadapan anak-anak apakah itu pantas dilakukan? Jika anda merasa tidak melakukan hal tersebut (memberikan rokok), coba tanyakan kepada rekan-rekan panitia lainnya, apakah mereka melakukan hal tersebut? Dimana dan kapan, tentunya sewaktu jam istirahat dan di area makan siang.

        Sekali lagi, saya menerima itikad baik dari tujuan acara tersebut diselenggarakan. Dan saya berterimakasih sekali karena beswan memberikan sebuah pencerahan yang cukup berarti buat saudara-saudara saya (anak jalanan, anak pantiasuhan). Tapi perlu saya tekankan kembali, tulisan saya konteks maksud dan opininya tak lain dan tak bukan adalah pantaskah anda dan rekan-rekan anda membagikan rokok kepada peserta yang sudah 18+ tapi dihadapan peserta lainnya yang belum 18+?

        Perlu direnungkan.

        Saya merasa tidak dalam sebuah kesalahan persepsi, karena saya menulis adalah tentang apa yang saya lihat dan saya rasakan tepat di depan mata saya sendiri.

        Mohon dicermati kembali, point dari tulisan saya adalah tindakan membagi-bagikan rokok yang bukan pada tempat sewajarnya. Bukan tentang promosi rokok.

        Saya sangat menyayangkan apabila terjadi kesalahan persepsi dalam cara saya menuliskan pendapat pribadi ini. Semoga sedikit balasan dari saya bisa memperjelas maksud dan inti tulisan saya.

        Oia, terima kasih kepada bung Hendra yang telah memberikan komentar sebelumnya agar lebih berhati-hati sehingga makna acara yang dijalankan sesuai dengan yang diharapkan.

        Share to be care, but not cigarette.

        Salam Acuh

      • putu · April 12, 2010

        “3. anda tidak memberikan rokok, tetapi pembina dan anak-anak jalanan merokok. Yang ini baru namanya merokok itu pilihan mereka.”

        situasinya seperti ini yg sebenarnya. saya belum memberikan pun mereka sudah merokok. tapi bukan dr brand kami. dan selama itu bukan di kawasan bebas rokok yg kami tetapkan, kami tidak memiliki hak untuk melarang mereka merokok. dan saya beritikad baik memberi rokok brand kami, “tanpa ada maksud apapun dibalik itu.”

        ya, pembina anak jalanan ada yang memakai baju peserta (kecuali 2 org ibu dan pembina berjanggut).

  6. putu · April 12, 2010

    Mas Agung, tentu saja Mas Agung mengerti bahwa dengan adanya postingan ini di blog Mas Agung yang dapat diakses masyarakat umum, akan menimbulkan opini publik. kami tidak menginginkan terjadi kesalahan persepsi, terutama bagi orang – orang awam yang tidak mengenal Beswan Djarum.

    saya ingin memperjelas kembali bahwa,

    1. Kami Beswan Djarum mengikuti seleksi yang ketat untuk menjadi Beswan Djarum, berkomitmen dengan aturan – aturan yang berlaku dan sudah sangat jelas sekali disosialisasikan bahwa program Beswan merupakan salah satu dari program CSR PT. Djarum, yaitu Djarum Bakti Pendidikan

    2. Program CSR Djarum jelas sekali merupakan itikad baik PT. Djarum dengan tujuan yang mulia tanpa memasukan program promosi atau aktivitas marketing yang bersangkutan dengan produk. sangat tidak ada kaitannya.

    3. Kami sebagai Beswan Djarum memprakarsai kegiatan ini, mengajukan proposal ke PT. Djarum dan dengan niatan baik PT. Djarum merealisasikan kegiatan ini untuk berbagi bersama anak jalanan, anak panti asuhan dan anak yatim piatu, sehingga apa yang telah PT. Djarum berikan kepada kami sebagai Beswan Djarum dapat dirasakan pula oleh mereka yaitu dalam bentuk pelatihan entrepreneurship yang kami adakan kemarin.

    banyak manfaat yang dapat mereka rasakan, tentunya dapat menjadi motivasi tersendiri bagi mereka secara tim maupun secara perseorangan untuk menjadi agen perubahan yang dapat membawa dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar mereka.

    4. menyangkut masalah rokok.
    kami sangat mengerti sekali aturan yang berlaku (mengenai usia 18+, kesepakatan waktu merokok, tempat yang bebas rokok, dll ). Kami tidak membagikan rokok kepada anak – anak. sekali lagi, tujuan kami mengadakan acara ini adalah untuk memberikan wawasan serta motivasi, bukan untuk promosi produk.

    ketika saya menawarkan rokok kepada anda, itu karena anda sudah bukan dibawah usia 18. jadi wajar kalau kami mempunyai itikad baik untuk menawarkan, dan tanpa pemaksaan, tergantung pilihan ya atau tidak, anda yang memutuskan.

    terima kasih atas perhatiannya.

  7. iyank · April 12, 2010

    wuih postingan yang menarik maz. dan tentu saya masih ingat dengan tonji-tonjinya mas agung, karena saya pun hadir pada hari itu. sebuah event yang bagus untuk merangsang pola pikir anak 2 untuk sebuah perubahan kearah yang lebih baik. heuh… rokok? saya sangat mengerti dengan keluhan dan persepsi mas agung, tapi perlu diluruskan kembali bahwa dalam acara tersebut itu murni itikad baik dari para beswan djarum untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk oang lain. karena saya tau setiap program kerja yang diadakan oleh beswan dari angkatan ke angkatan merupakan kegiatan sosial tanpa ada embel-embel promosi atau apalah namanya.
    terima kasih

    Regards…

    • Ismail Agung · April 12, 2010

      terima kasih kang Iyang,
      saya mengerti benar dengan itikad baik beswan. dan perlu anda ketahui juga bahwa saya datang ke acara tersebut menemani saudari agni teman saya (perlu saya tekankan kembali saya bukan Ashoka dan bukan bagian darinya) dengan itikad baik pula. sebelum kegiatan pun saudara agni sudah menjelaskan tentang acaranya siapa penyelenggara dan siapa pesertanya. jika saya merasa kurang sreg dengan penyelenggaranya mungkin dari awal saya sudah menolak, tapi begitu mendengar siapa pesertanya, saya langsung mengatakan “oke saya ikut meramaikan suasananya”.

      saya datang ke sana pun murni untuk membantu saudara agni dan menyapa adik-adik peserta.

      mengutip komentar dari Kang Hendra,
      “Seharusnya, pihak panitia pelaksana bisa mengantisipasi hal-hal yg terjadi di atas”.

      Mudah-mudahan bisa jadi pembelajaran bagi semua.

      Salam Acuh

  8. pangihutan tobing · April 12, 2010

    seru sekali nih bahasannya..
    cuma mau ikut kasih pandangan aja nih,,

    sebelumnya mau ngucapin selamat dan terima kasih untuk acara sosial yang dibuat oleh panitia (BESWAN djarum) sekalipun saya ga hadir disana hanya dengar-dengar saja tentang acara tersebut. tentu acaranya dibuat oleh panitia dengan tujuan yang baik tanpa harus kita melihat embel-embel yang sedang dipermasalahkan seperti yang saya baca di comment blog ini.
    setiap orang pasti punya pandangan/opini yang berbeda2 seperti mas Agung dan Mba putu, cuma alangkah baiknya kenapa kita ga melihat tujuan acaranya saja?
    acaranya bertujuan baik sekalipun mungkin ada yang tidak berkenan bagi beberapa orang seperti pandangan mas Agung mengenai pembagian rokok.

    kalau pandangan saya mengenai pembagian rokok, yah kita juga tidak bisa menyalahkan apa yang terjadi kalau melihat kronologis dari yang ditulis mas Agung karena mau ga mau dan tanpa kita sadar semua sudah melekat di Indonesia. ini pandangan saya loh?!! bebas mau dibantah atau tidak, kan seperti yang saya bilang pandangan orang beda2 :p

    yang menarik bagi saya adalah saat membaca skema yang dibuat mas agung, skema yang bagus sekali tapi apakah itu selalu sesuai dengan kenyataan?? hehehe,, belum tentu jugakan? namanya juga pandangan ;p
    tanpa harus dijembatani pun orang juga banyak yg merokok🙂

    hmmm,, pandangan saya lagi nih, buat saya sih lebih baik anak jalanan diberikan rokok dibanding mereka menghirup aibon :p kalau kita lihat pengaruhnya ke narkoba (banyak yang bilang rokok awal narkoba) tapi menghirup aibon menurut saya lebih mendekati narkoba :p mau dibantah boleh ga pun gpp namanya juga pandangan pribadi😀

    terkait masalah promosi suatu brand, hmmm rasanya ga mungkin juga ada suatu individu atau pribadi yang memberikan beasiswa tanpa embel apa2 atau secara cuma2 jadi wajar saja jika ada kaitan dengan promosi brand dalam suatu acara seperti ini :p

    jadi kenapa harus diributkan???? rokok dan ga merokok yah pilihan, ada aja yang ga ditawarin tetap merokok dan ada saja yang ditawarin jadi merokok. kalau mau mempermasalahin perokok sekalian aja minta pemerintah tutup pabrik rokok dan melarang petani untuk menanam tembakau! susahkan??? hehehehe… makanya lebih baik kita melihat saja sisi baiknya tidak perlu lihat sisi buruknya..

    mau dibantah???? heheheheh silahkan saja namanya juga opini dan pandangan..

    salam acuh (ngikutin mas Agung) :p

    • Ismail Agung · April 12, 2010

      terima kasih Kang Pangihutan Tobing.

      Klo melihat dari tujuannya acaranya, saya ucapkan BAGUS BANGET. Malah jarang banget untuk mengadakan sebuah acara macam ini dan khusus bagi saudara-saudara yang tidak seberuntung saya, anda, putu dan yang membaca postingan ini.

      setiap orang memang punya pandangannya sendiri. dan saya tidak merasa keukeuh bahwa saya yang paling benar, saya hanya mengungkapkan sebuah rasa ketidaknyaman saya. klo saya memendam rasa ini, mungkin hati saya akan gundah gulana gelisah tiada tara.

      saya juga terbuka bagi rekan-rekan yang terlibat di dalamnya untuk mencoba mengklarifikasi atau hendak mengkoreksi bila ada tulisan saya yang kurang berkenan dan saya memakluminya. Silakan.

      mengenai skema, apakah selalu seperti itu :)? hmm bisa iya bisa tidak. tapi klo ditanya awal mula merokok, jawabannya “ditawarin temen, coba-coba, ketagihan.” itu jaman saya smp dulu.

      mengatasi aibon dengan rokok. saya membantahnya!!! dengan keras sekali, memberikan solusi dengan masalah. bagus banget. pernah berhadapan dengan anak-anak pengguna aibon? pernah main bareng mereka? bercanda tawa dengan mereka? ngobrol dengan mereka? cobain dulu deh, baru anda bisa pilih ngasih rokok atau sesuatu yang lain…

      hahaha, tutup pabrik dan berhenti menanam tembakau. sungguh klasik. dari dulu teman saya selalu bercanda setiap kali dia merokok. “saya merokok karena ingin membantu petani tembakau, coba klo saya tidak merokok. bisa jadi pengangguran mereka!”.
      klo anda membaca komentar saya di atas, saya bukan golongan garis keras pendukung fatwa haram. ibu saya juga perokok. dan saya tidak melarang dia merokok, saya hanya bertanya “sampai kapan mau merokok?” dan itu pilihan dia karena dia merasa nyaman bila saat tertekan ada rokok disampingnya.

      dari permasalahan saya dan ibu saya, saya tidak mau lagi ada anak-anak kecil lainnya yang terjerumus hanya karena cara pandang seorang anak kecil polos terhadap rokok sebagai sesuatu yang wah!!!

      klo sempet coba tonton yang satu ini.

      terimakasih atas pandangannya.
      Salam Acuh (acuh=peduli, coba cek KBBI)

  9. Ping-balik: Promosi dan Itikad Baik « Beranda Putu
  10. putu · April 12, 2010

    🙂

    terima kasih untuk semua koreksi dan masukannya.
    semoga kedepannya tidak terjadi hal – hal yang tidak diinginkan lagi dan dapat memberikan dampak positif lebih besar lagi kepada masyarakat.

    salam hangat,
    Putu Agnia

  11. Ismail Agung · April 12, 2010

    Sekedar berbasa-basi…

    maaf klo penggunaan judulnya mungkin berkesan seperti “something wrong in here”,

    yang ini klarifikasi dari saya, bahwa penggunaan judul “dibalik layar” tidak ada maksud untuk menyudutkan satu pihak tertentu. jika anda memang jeli, pada periode tanggal 22-28 hampir sebagian postingan yang saya tulis menggunakan judul “dibalik layar”.
    dibalik layar beswan saung angklung udjo
    dibalik layar workshop aksara sunda
    dibalik layar seminar dan workshop kewirausahaan sosial
    dibalik layar rabu belajar bandung lautan api

    semua itu adalah postingan kegiatan yang saya lakukan dalam satu minggu yang sangat padat. jika anda cermati paragraf terakhir pada postingan ini, anda akan menemukan tulisan “Yap, sekian lah satu minggu yang saya lewati.” karena tulisan ini menutup petualangan saya selama seminggu dengan segala aktivitasnya.

    terima kasih atas perhatiannya.

  12. kausa Lovers · April 14, 2010

    JANGAN DIBACA Kalau TiDAk faHam,DAn Hal Ini Bukan Untuk DimEngeRti…(karena Bukan Mata Pelajaran)haa

    hallo mas agung…senang sekali rasanya bisa jumpa kembali.y walau hanya dalam dunia maya.hee.sebelumnya say mw mengucapkan terlebih dahulu rasa terima kasih kepada mas agung,dan teman2 yg telh meramaikan acara qt semua,,karena walaupun dalam acara yg kmi selenggarakan tidak terdaftar nm mas agung ,,tp mas agung mempunyai sikap kepedulian yg tinggi akan terselenggaranya acara ini..hee(gurauan Sang Penyair)

    mungkin saya tidak mau mencapur aduk dngn persepsi2 lainnya,tapi yang sy ingin ketahui mengenai tulisan seperti yang dibawah ini.dn sy ingin mengetahui langsung,mksud dan tujuannya mas..!bolehkan orang awam bertanya kepada penulisnya..?karena sepengetahuan saya,seorang penulis jg mmpunyai beberapa kode etik dan aturan2 didalmnya.(jika mengetahui boleh diangkat)

    1.Maksudnya “anda adalah Produsen disini apa y ??
    karena jika saja tulisan itu bisa saya andaikan kepada diri saya,mngkin saya akan melakukan suatu hal yg mngkin mas agung sukai..hee…

    2.dan tulisan mengenai “Atau memang anda semua (para Beswan) dididik untuk menjadi seorang perokok” ?

    nah kalo yang ini,mungkin sy ingin mencoba menjwb pertanyyanya sendiri mas,,saya tidak dididik untuk meroko mas,tidak semata-mata karena kami dibiayai.tp kami diajari(dididik=diajari)untuk merokok.dan menurut sy menaggapi slh stu pertanya mas dipembahasan2 diatas..(CSR Tidak = BEswaN)menrut sy y..yg sll berfikir untuk positiv thing..z..dan kami para beswan sudah dewasa dan benar kami punya pilihan.(sidikt tersungging nih)karena membawa nama secara keseluruh.jika mw menarik sebuah kesimpulan.perlu diteliti terlebih dahulu mas seperti ilmuan2 dsna…haa..

    3.menurut pendapat saya lagi ni mas.sepertinya mas krng tepat ketika mas agung mengunakan sarana ini untuk mengungkapkan keluhan dirimas..terlebih hal itu menyangkut hak/kepentingan orang lain.y ini c hanya ungkapan yang sy ketahuin dan hal ini diakui kebenranya dngn hukum dan aturan yg berlaku..

    tp salutlah mas…dengan kata2nya…kata-kata ambigu yg jika tidak dimengerti mksud dan tujuannya akan membuat bnyk persepsi2 yg unik2…hoo

    -Dan saya suka dengan tulisan yg ini.
    Melihat sebuah permasalahan menjadi sebuah peluang.

    catatan Kecil :”Pengandaian Bahasa” for all
    Banyak orang berkata bahwa cinta itu buta,,tp ketahuilah bahwa sesunngguhnya cinta itu tidak buta,karena cinta sabuah rasa yg tulus,murni dan allah memeberikan dengan kebesarannya…yang membuat semua itu buta bukanlah cinta melainkan Nafsu.maka Jagalah Nafsu itu hanya untuk diri sendiri tidak untuk orang lain.

    “janganlah kita pernah ber ambisi,sekalipun ambisi itu mempunyai hasil yang terbaik” Kausa Lovers

    • Ismail Agung · April 14, 2010

      JANGAN DIBACA Kalau TiDAk faHam,DAn Hal Ini Bukan Untuk DimEngeRti…(karena Bukan Mata Pelajaran)haa

      harusnya dari awal saya turuti…

  13. riski arista · April 14, 2010

    aslmualaikum..
    halo teman-teman yang gemar menulis, salam kenal dan salam hangat ^_^

    wahh, saya salut dan kagum akan pemikiran-pemikiran mas-mas dan mba-mba disini, hmm…saya disini hanya ingin melihat suatu hal dari perspektif hukum saja, dan saya menilai berdasarkan kenyataan yang ada pada postingan tulisan di blog ini, sekali lagi mengenai apa yang telah dijelaskan oleh Mas Agung, Mba Putu, Mas Hendra, dan penulis lainnya yang saya tidak sempat sebut yang ada diatas, kiranya saya tidak perlu lagi mengulang apa yang telah dijelaskan/disebutkan opininya,namun saya akan mengambil beberapa saja opini yang saya anggap menjadi episentrum perdebatan opini disini.

    mas-mas dan mba-mba tahu mana yang benar secara faktuil dan mana yang tidak seharusnya dibenarkan karena tanpa dasar fakta yang kuat..

    Yang terhormat mas Agung, pertama-tama saya ingin mengekspresikan rasa kekaguman akan tulisan mas yang bisa dibilang melihat suatu sisi hal/keadaan dari perspektif pribadi dengan gaya bahasa yang anda kuasai, namun mas agung..ada yang perlu mas ketahui.
    perkembangan dunia maya sudah pesat mas, bahkan bisa dikatakan borderless atau tanpa batas, segala macam informasi yang tertuang dalam lingkup yang ada dalam dunia maya dapat berlangsung signifikan secara cepat dan meluas ke tiap orang, baik itu yang punya akses secara langsung ke dunia maya itu sendiri maupun yang tidak.

    Mas Agung, perlu dipahami disini, bayangkan saja jika seseorang atau badan atau korporasi ataupun komunitas tertentu (saya sebut subjek hukum) diinformasikan kejelekannya atau dalam bentuk lain berupa sindiran atau bentuk lain berupa teguran atau bentuk lain berupa penilaian tanpa didukung barang bukti yang kuat dan bahkan dapat dikatakan tidak bisa dibuktikan, beberapa opini/penilaian,dll yang bisa merubah pencitraan, persepsi masyarakat dalam melihat subjek hukum tersebut melalui web forum, blog, atau e-mail, kemudian orang (masyarakat) yang mengakses informasi tersebut menjadikan sebagai bahan pembicaraan kepada rekannya ataupun masyarakat sekitarnya yang sebenarnya tidak pernah mengakses informasi tersebut melalui internet dapat dipastikan subjek hukum tsb yang telah diinformasikan melalui bentuk-bentuk yang telah saya sebut diatas itu akan Dirugikan mas..baik itu didunia maya maupun kehidupan nyatanya.

    Beranjak dari kenyataan di Negara Indonesia ini mas, adalah negara yang berdasar hukum mas.. tidak serta merta kebebasan mengeluarkan pendapat ataupun opini dalam kapasitas tanpa batas, kebebasan berpendapat memang dilindungi dan diatur dalam Pasal 28 E ayat (2), Pasal 28 E ayat (3), Pasal 28 F, dan Pasal 28 I UUD 1945. namun apakah kebebasan berpendapat ini boleh digunakan tanpa memperhatikan situasi dan kondisi yang sebenar-benarnya? jika mas agung telah paham apa yang saya tulis diatas mengenai perkembangan dunia maya tentunya jika saya menjadi mas agung akan berpikir terlebih dahulu sebelum menuliskan ke dalam media blog ini, mengenai dampak atau akibat yang bisa timbul, kecanggihan jaringan elektronik dan perkembangannya telah membuat dapat diaksesnya media ini ke lingkup yang lebih luas. dalam blog ini, mas.. saya langsung saja sampaikan apakah benar dan dapat dibuktikan dalam penyampaian mas yang tertulis diatas,
    saya ambil bagian inti dari yang mas permasalahkan sehingga berinisiatif membuat tulisan ini.
    saya ambilkan opini mas yaitu pada inti tulisan mas “…Ada satu hal yang sebenarnya aku nggak suka dari Beswan ini. Saya melihat dengan kepala mata ini bahwa si pihak panitia menawarkan rokok pada Peserta. Dan sebelum itu pun si ketua pelaksananya malah terlebih dahulu bertanya kepada saya apakah saya merokok atau tidak….” nah disini dari saya sendiri bingung mengenai apa siapa yang mas maksud apakah itu peserta usia tertentu ataukah peserta yang memang sebenarnya tidak termasuk kualifikasi peserta namun hanya mendampingi atau bahkan bisa saja tanpanya para peserta tertentu tidak akan turut serta pada acara tersebut (bisa dikategorikan pembina/dll), saya disini menggunakan perspektif masyarakat umum dalam melihat suatu hal yang sama dengan lainnya yang sama-sama tidak tahu bagaimana kondisi sebenarnya (nyata nya) seperti yang mas maksud itu, atau bahkan bisa saja masyarakat dapat langsung men judge pernyataan mas di blog ini sebagai dukungan atau kontra dan semua itu tergantung penilaian masing-masing karena itu adalah hak..tapi disini berarti mas telah menimbulkan WACANA PUBLIK YANG BELUM BISA DIYAKINI KEBENARANNYA…apakah mas masih bersikukuh bahwa pernyataan opini mas diatas yang banyaaak sekali (termasuk tanggapan opini-opini nya itu adalah benar 100%????) dalam hal ini yang paling tahu mengenai hal tersebut tentu saja panitia, menurut saya apa yang disampaikan ketua pelaksana terkait dengan kegiatan CSR sudah tidak bisa terbantahkan lagi, mas agung boleh saja berpendapat seperti itu jika sebelumnya mas memberikan konfirmasi mengenai postingan opini terkait kegiatan acara tsb, tentu saja tidak akan terjadi hal-hal perdebatan opini disini, bahkan tidak akan meluas kepada publik di negeri ini.

    Namun jika anda mas agung, tidak dapat mempertanggungjawabkan dalam hal ini membuktikan tentang apa yang mas tulis disini ya tentu saja ada unsur menuduh, bukan begitu??
    bahkan postingan ini yang dapat diakses publik sudah masuk ke dalam unsur maksud tuduhan itu bisa tersiar (diketahui orang banyak)dengan tulisan secara melawan hukum,
    dengan sepihak mas agung memposting tulisan opini acara tsb secara sepihak dan tanpa sepengetahuan panitia dan kondisi fakta realnya bagaimana, anda seakan-akan yakin bahwa apa yang mas lihat seluruhnya adalah benar 100% bahkan mempostingnya namun kenyataannya adalah tidak seperti yang mas lihat… mas agung dapat saja menuduhkan suatu hal yang berbeda dengan kenyataan terjerat pasal tentang Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik, baik itu dalam KUHP dan Undang Undang yang mengatur langsung pada tindak pidana menggunakan media elektronik, ancaman hukumannya adalah penjara..

    jadi mas,tolonglah saya tidak ingin memihak pada siapapun namun disini saya memberikan perspektif atas dasar Fakta DAn Opini Yang ada pada blog ini.., jika mas merasa yakin atas perpektif mas, alangkah bijak dilaksanakan Negosiasi atau sekedar sharing saja dengan para panitia untuk meluruskan hal yang menimbulkan perbedaan pandangan, karena saya yakin hal tersebut terjadi karena tindakan sepihak.

    kita disini adalah bersaudara, kita tak kenal permusuhan, beda pendapat adalah wajar, namun jika menimbulkan kerugian salah satu pihak, hal tsb bukanlah suatu keadilan, hukum harus ditegakkan.

    sekian, mohon maaf yang sebesarnya jika ada salah kata dari saya pribadi.
    trimakasih

    • budi momo tomo mocha · April 18, 2010

      “Yang waras ngalah,” itu mungkin yang sering kita dengar jika ada dua pihak atau lebih sedang bertikai, bukan berarti saya menuduh anda sekalian semua adalah orang yang tidak waras lho :)dan hanya saya seorang saja yang waras, tidak, sama sekali tidak.

      Mungkin ada baiknya saudara agung dan dari pihak beswan bertemu untuk menghentikan ‘perseteruan’ yang mungkin tidak akan menemui titik temu jika pembicaraannya hanya dilakukan di media dunia maya seperti ini, selain keduanya saling ‘keukeuh’ dalam mempertahankan pendapatnya masing-masing yang paling benar juga jika terus-menerus seperti ini hanya debat kusir yang akan ditemui tanpa ada penyelesaiannya.

      Tentunya kedua pihak harus memiliki itikad baik dalam artian ingin menyudahi ‘perseteruan’ yang terjadi selama ini. Mungkin tidak mudah dalam prakteknya, namun menurut saya jika dari kedua pihak bersikap dewasa, saling memaafkan kekhilafan kedua belah pihak, mungkin akan didapat penyelesaian dari ‘perseteruan’ ini. Dan bukan tidak mungkin jika salah satu atau bahkan dari kedua belah pihak harus mengalah dalam mempertahankan pendapatnya yang ‘keukeuh’ demi terciptanya peyelesaian dari ‘perseteruan’ ini.

      Ayolah berdamai, bukan soal siapa yang benar atau salah kalau saya perhatikan comment demi comment sejak tulisan ini pertama kali diposting, namun lebih kepada bahwa setiap orang memang bebas untuk berpendapat tapi bukan berarti debat kusir yang akan merugikan nama baik kedua belah pihak.

  14. diki · April 28, 2010

    ah ribut melulu budaya jelek kog di pelihara!!!

    kalau anda merokok lakuakanlah kalau tidak ya tidak apa!!

    gitu aja kok repot…

    • Izul · April 29, 2010

      Mau kongkrit aja, yang masih merasa ga puas usulin pertemuan aja..

  15. agung supriyadi · April 29, 2010

    hei mas agung (namanya sama dan kita juga punya kepedulian yang sama untuk tidak merokok).. silakan kunjungi
    http://recyclearea.wordpress.com/2010/04/23/10-fakta-fakta-rokok-di-indonesia/

  16. syarhevaa · September 24, 2010

    waahhh..sekali baca, mata saya langsung kejang- kejang nih..hehe
    kalo kata Mbak Dorce..kesalahan ada pada saya, kebenaran ada pada Allah SWT.
    amiienn aahhhh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s