aku ditelan waktu

Minggu-minggu ini saya sampe nggak sempat buat posting. Selain karena sedang kehabisan ide dan objek buat nulis, saya sedang ditelan oleh waktu dalam kesibukan yang amat sangat sehingga saya menikmati setiap detik yang berputar.

Agenda di minggu ini sungguh amat padat sekali. Hampir setiap hari saya pulang malam. Hari-hari sebelumnya juga saya sering pulang malam kok! Tapi hari-hari ini beda Banget!! Banget…

Ada kenikmatan yang berbeda. Kenikmatan mencurahkan tenaga dan pikiran untuk sesuatu yang positif bagi orang lain. Positif bagi orang tapi tidak sepenuhnya positif bagi saya sendiri yang saat ini berada dalam kondisi pelarian tak jelas.

Tapi saya benar-benar menikmatinya.

Saya menikmati saat-saat dimana saya harus bersepeda sepanjang hari dari Bandung Utara menyeberangi garis demarkasi menuju Bandung Selatan untuk mengirimkan sebuah undangan kepada nenek-nenek pejuang.

Belum lagi membuat rangkuman kisah sejarah mereka yang membuatku hanyut lebih dalam tentang sejarah peran Wanita dalam Perang Revolusi. Hal-hal yang semakin membuka mata saya tentang arti penting perjuangan yang sebenarnya waktu dulu SD sampe SMP selalu diulang-ulang kisahnya namun nggak pernah masuk dan mengugah hati.

Saya melihat sisi lain dalam arti kata perang perjuangan. Bukan semangat patriotisme yang selalu digembor-gemborkan dalam film perang. Ada humanisme, Romansa, keluguan, serta kekonyolan-kekonyolan yang terjadi. Yah pokoknya hal-hal yang senantiasa jarang didengar dalam buku teks sejarah.

Meski saya larut dalam epoch perjuangan itu semua tidak lantas membuat saya menjadi seorang pemuda yang penuh akan jiwa nasionalisme. Saya masih tetap warga negara Indonesia, selama kaki tetap berpijak di tanah Indonesia dan KTP berlaku di Jawa Barat. Karena saya sendiri bingung tentang bagaimana menunjukkan jiwa seorang nasionalis.

Apakah selalu membawa atribut merah putih kemana pun pergi, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai ejaan yang disempurnakan, menggunakan produk dalam negeri, mengagumi artis-artis lokal yang membawakan lagu-lagu berbahasa Indonesia tulen nggak digado-gado dengan bahasa planet lain atau ikut-ikutan menghujat negeri tetangga yang doyan ngintip dan curi-curi kebudayaan.

Apapun itu, saya memilih ber-sms dengan menggunakan format ejaan bahasa Indonesia yang baik sesuai eyd saja. Jarang-jarang kan ada sms susunan katanya  baku banget. Hhahahahaha.

Mudah-mudahan Ibu Pertiwi suka dengan sms yang saya kirimkan.

Amin.

 

Salam perjuangan.

9 comments

  1. mbak dan · Maret 26, 2010

    Kepada Agung, terima kasih telah berpartisipasi dalam menempatkan kembali bahasa Indonesia ke jalan yang benar. Jaman membuat kata-kata mengalami banalitas (pendangkalan makna kalau kata teman saya), dan sudah tidak dihargai lagi sebagai mana mestinya.

    Tertanda,

    Petjinta Kajoemanis

    • Ismail Agung · Maret 26, 2010

      Terimakasih kembali, atas apresiasi anda dalam berbahasa.

      Semoga banalitas tidak semakin mengguncang negara kami…

      Amin amin amin amin

  2. jendelakatatiti · Maret 26, 2010

    Bahasa Indonesia Agung bagus sekali, jarang ada blog yang penulisannya rapi dan bahasa tertata, ini sudah satu wujud nasionalime Agung. Teruslah menulis, berbagi dalam kebaikan, semoga sukses dan semangat!jendelakatatiti.wordpress.com

    • Ismail Agung · Maret 26, 2010

      Hehehe, jadi malu… (ismail agung mukanya sedang kemerah-merahan).

      Terimakasih atas pujiannya.
      (ismail agung sedang sibuk menangkap hidungnya yang terbang)

  3. Mas Ben · Maret 27, 2010

    Indonesia tanah air beta pusaka abadi nan jaya … hidup bahasa Indoensia dengan EYD🙂

    Salam bentoelisan
    Mas Ben

  4. Naja Raya · Maret 27, 2010

    Padahal saya sedang berusaha menjadi mahluk yang multilingual (benar atau tidak, kang?)…eh malah kang Ung mengingatkan untuk berbahasa dengan bahasa ibu sesuai dengan kaidah. Jadi bingung mana yang harus didahulukan …😀

    • Ismail Agung · Maret 28, 2010

      Ga ada salahnya jadi makhluk multilingual.. Lagipula itu kan juga demi kemajuan kita dalam menghadapi globalisasi. Asal jangan hilang jati diri saja. Hingga akhirnya malah seperti yang komentar paling pertama maksud yaitu terjadi banalitas, pendangkalan makna.

    • Ismail Agung · Maret 28, 2010

      Bahasa Indonesia itu bahasa nasional.

      Bahasa Ibu itu bahasa daerah, bener ga sih?

      Bicara tentang bahasa Ibu, kemarin saya baru belajar menulis dengan menggunakan aksara Sunda. Ya sejenis Aksara Sansekerta Pallawa.

      Ntar lah saya posting. Klo sempat itu juga.

  5. Huang · April 1, 2010

    selamat ber-gowes ria mas🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s