SEPEDA SUBUH, menikmati bandung dalam hening pagi

Bersepeda memang tidak mengenal waktu.

Nggak harus pagi, siang, sore atau malam. Subuh-subuh juga bisa kok.

Bersepeda subuh nggak salah loh?

Lah apa salahnya. Dingin iya, sepi iya, nikmat juga iya.

Kapan lagi coba bisa bersepeda sambil menguasai jalanan kota yang setiap harinya selalu penuh dengan hiruk pikuk mesin-mesin dengan raungan garang dan dengusan nafas hitam tak segar menyesakkan.

Sabtu subuh kemarin kami (saya dan teman-teman sahabat kota) diundang oleh Bandung Cycle Chic selaku pengagas kegiatan dan berkumpul di Taman Cikapayang tepat pukul empat pagi, ya lebih-lebih dikitlah. Maklum ada yang telat bangun gitu deh.

Jalanan kota Bandung masih menyisakan lembab dan basah hujan semalam. Lumayan menyegarkan, meskipun dingin tapi lumayan lah dinginnya nggak terlalu dingin-dingin amat.

Setelah semua personel yang mengkonfirmasi kehadiran datang kami lalu memulai perjalanan menuju Masjid terdekat untuk shalat Subuh Berjamaah terlebih dahulu di Masjid Salman ITB. Barulah sehabis shalat kami menuju titik pagi yang pertama yaitu Jembatan Cikapayang.

Cukup mengidam-idamkan bagaimana suasana jembatan di kala subuh. Melihat lampu-lampu pemukiman yang baru membuka mata dan sepinya kendaraan-kendaraan yang biasa melintas dengan kecepatan tinggi. Karena jalanan sepi, kami pikir ini adalah kesempatan yang lumayan untuk berfoto “gila-gilaan” di tengah jalan dan di antara tiang-tiang pancang jembatan.

Puas menjadi foto model, kami lalu bergerak ke selatan ke arah Stasiun Bandung. Mengejar kereta. Sungguh beruntung, kami bisa bertemu dan melihat kereta memulai perjalanan dan melihat kesibukan pengawai kereta memutar lokomotif agar bisa berbalik arah.

Disela-sela stasiun kami mencoba untuk mencicipi cakueh dan odading atau orang Jakarte bileng Kue guling dan Kue bantal yang masih panas-panas hangat. Untuk kedua kue ini saya beri nilai 8 karena suasana hangatnya.

Kehangatan Odading Cakueh harus kami tinggal karena perjalanan menuju ST 12 sudah menanti. Kami mengitari jalan Stasiun Timur bermaksud bertemu dengan Charlie van Houten (wo wo jangan jangan kau lakukan itu….). Namun sayang kami bingung dimanakah no 12 berada. Ya sudahlah akhirnya kami bertemu dengan Patung Pejuang Laswi di sekitaran via Duct, yang telah kehilangan pistolnya karena patung itu ternyata suka sembarangan tidur kalo dingin menyelimuti Kota Bandung.

Eh asal tahu ya, Patung Pejuang Laswi itu dulunya dibikin oleh Bapak Sunaryo dan model patungnya itu adalah Nenek Tuti Amir veteran Laswi. Kok hapal sih? Ya iya lah wong hari sebelumnya saya ketemu dengan beliau (Oma Tuti, red).

Mentari sudah mentereng di timur, waktunya menyudahi perjalanan di titik pagi yang terakhir yaitu sarapan di Roti Gempol. Mantap Bos rotinya, apalagi mayonaise-nya… wiw.. saya kasih nilai 8 juga ah karena suasana tokonya yang cozy. Cocok sebagai destinasi terakhir setelah bersepeda pagi.

Klo ada sepeda subuh yang berikutnya, musti berangkat lebih sangat subuh sekali. Minimal jam 3 pagi sudah go to. Okeh brother and sister, let’s go wes…

13 comments

  1. komunitasaleut · Maret 27, 2010

    Wih seru yah..:D

  2. amanda mita · Maret 27, 2010

    ahey!😀
    setuju kak ung, harus lebih pagi bangun nya :]

  3. diltakudilkudil · Maret 27, 2010

    Kayanya seru. Pengen nyobain de. Tapi ga punya sepedah😦

    • Ismail Agung · Maret 27, 2010

      Buat kamu aku pinjamin sepedaku. Biarlah aku berkayuh dengan becak…

  4. Dila · Maret 29, 2010

    Terima kasih atas info rute bersepeda dan cerita yang menarik. Sangat bermanfaat.

  5. Ping-balik: SEPEDA SUBUH, menikmati bandung dalam hening pagi « Komunitas Sahabat Kota
  6. ulu · April 20, 2010

    gung, boleh tak tulisannya dimuat di web mahanagari.com. ada yang diedit tapi dikiiiiit dan ada informasi yang kurang. hehehe. eh tapi ini kalau boleh dipasang di web kami. gitu. kumaha gung?

    • ung · April 20, 2010

      hallo Ulu, tulisan mana nih yang mau dimuat di mahanagari.com?

      bole-boleh aja, asal ada backlink ke blog aku.

      silakan saja di repost, diedit dan ditambahin dikit juga boleh.

      • ulu · April 22, 2010

        tulisan yang bersepeda subuh ini ama yang keliling pasar pake sepeda tea. Asik! nuhun yaaaa

      • Ismail Agung · April 22, 2010

        Oke ulu silakan di repost…

  7. Rahmat Miftahul Habib · April 4, 2012

    Profil Bapak Sunaryo itu bisa dilihat dimana ya? Patungnya itu sejak kapan dibikin? Thanks..

    • Ismail Agung · April 4, 2012

      Coba saja dikontak via Selasar Sunaryo Art Space (sorry ngga bisa kasih link, akses internet terbatas). Siapa tahu dapat jawaban yang lebih memuaskan ketimbang dari saya pribadi. Gud luck🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s