Dalam Perang, Wanita dan Pria itu Sama

Bagi orang Bandung, mendengar kata Laswi pastinya bukanlah sesuatu yang cukup asing. Nama Laswi dipergunakan sebagai nama salah satu jalan besar yang terbentang dan bersambungan dengan jalan Pelajar Pejuang.

Baik Laswi maupun Pelajar Pejuang, kedua nama tersebut memiliki ikatan sejarah yang kuat dalam kisah perjuangan Kota Bandung. Namun tidak banyak orang yang tahu. Termasuk saya.

Saya baru tahu jika Laswi, jalan yang sering saya lalui saat bersepeda ternyata bukanlah sebuah nama orang. Laswi merupakan organisasi Perlawanan Rakyat yang tidak dijiwai oleh sesuatu ideologi politik, tumbuh sebagai perwujudan hasrat rakyat yang meluap-luap untuk turut serta mengisi dan menegakkan Proklamasi 17 Agustus 1945.

Dalam perang, wanita dan pria itu sama. Itulah yang mengilhami Alm Ibu Aroedji untuk membentuk Laskar Wanita. “Pria dan wanita harus seia sekata dalam membela Negara.” begitulah ucapannya ketika mengutarakan alasan keinginannya membentuk Laskar Wanita kepada suaminya Aroedji Kartawinata yang juga menjabat sebagai pimpinan tertinggi Divisi III Tentara Keamanan Rakyat.

Ide tersebut mendapat tanggapan positif dan disetujui. Dan pada tanggal 12 September 1945, Laswi resmi dibentuk dan bermarkas di Gedung Mardi Hardjo di Jalan Pangeran Sumedang atau yang saat ini orang Bandung kenal denga Jalan Oto Iskandardinata. Langsung di bawah pimpinan Ibu Aroedji.

Para Laskar Wanita itu sendiri berasal dari pelajar putri dari berbagai sekolah menengah yang ada di Bandung dan beberapa ibu-ibu dari Fujingkai. Mereka diberi pelajaran mengenai kemiliteran seperti bongkar pasang senjata, menembak dan bela diri.

Jumat (19/03/10) kemarin saya dan teman saya Agni berkesempatan untuk bertemu dengan salah satu veteran perang yang dulunya tergabung dalam LASWI. Beliau kami kenal dengan nama Ibu Tuti Amir, atau Tuti Kartabrata nama gadisnya. Ingatannya masih cukup segar akan kisah perjuangan yang dulu pernah ia dan rekan-rekannya lalui. Sebuah pengorbanan untuk negeri tercinta. Meski ia adalah seorang wanita.

Usianya baru 18 tahun. Begitulah akunya. Ya, masih tampak seperti 18 tahun, segar bugar, bicaranya masih cukup jelas dan lantang, dan yang pasti obrolan kami cukup nyambung meski membahas sebuah peristiwa yang sudah berpuluh-puluh tahun terlewati.

Dalam rangka menyambut peristiwa Bandung Lautan Api yang jatuh pada tanggal 24 Maret nanti, teman-teman Sahabat Kota bermaksud mengundang beliau untuk hadir dalam kegiatan rutin Rabu Belajar sebagai salah satu pelaku sejarah dan berbagi cerita kepada kami para pemuda-pemudi masa kini tentang kisah dan semangat perjuangan yang telah dilakukan Ibu Tuti bersama rekan-rekannya demi kota Bandung tercinta.

Kisah perjuangan beliau memang belum banyak terceritakan pada saat kami berkunjung. Namun dari sedikit obrolan itu saya seperti terbawa hanyut akan kisah masa lalu beliau yang lugu dan polos ikut turut mengangkat senjata walau harus bermain kucing-kucingan dengan orangtua.

Bukan sekedar kisah heroik, hal-hal lucu dan romansa pun ikut terbalut ketika cinta terhadap kota harus dibayar mahal dengan lautan api.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s