Skenario Cinta Bandung Lautan Api

Cinta…

Lagi-lagi cinta.

Dimanapun dan dalam situasi apapun, perasaan cinta bisa tumbuh dan berkembang.

Dan menjadi sebuah melodrama..

Seperti kisah Titanic, sebuah kisah cinta yang bersanding dengan tragedi yang tidak bisa dihindari.

Bukan Romeo dan Juliet dimana semuanya berakhir tragis. Berakhir begitu saja dengan kesedihan.

Ah cinta…

Begitu pula dengan Bandung Lautan Api. Sebuah kisah herosime kota Bandung yang ternyata penuh dengan kekonyolan bila ditelaah lebih mendalam.

Meskipun begitu, temanku berkata bahwa hal-hal konyol itu juga berdasarkan cinta yang sangat mendalam. Cinta terhadap kotanya. Cinta terhadap sesuatu yang sangat berharga. Lebih baik aku benamkan saja cinta ini dalam hati daripada ku harus berbagi cinta kepada mereka yang tak mengerti bagaimana kesungguhan cintaku.

Begitulah semangat para pejuang mempertahankan cintanya. Cinta terhadap kota.

Namun jauh dari cinta terhadap kota Bandung. Di sana juga, dua etnis yang berbeda kultural harus merasakan kepedihan yang mendalam.

Berpisah.

Bandung, 23 Maret 1946

Si perempuan harus pergi mengungsi ke selatan kota bersama keluarganya.

Dan si pria tetap bertahan di kota bagian utara, daerah yang bebas dari pembumihangusan.

Mereka berpisah dengan keterpaksaan diiringi sebuah harapan untuk bersua kembali. Tanpa kekurangan satu apapun termasuk rasa cinta mereka selama ini.

Hanya sehelai kain, bukan tanda perpisahan. Tapi tanda perhatian si perempuan untuk si pria agar selalu ia ingat kepadanya.

Bandung berkobar, seperti senja yang menyemburatkan warna keemasan kala kegelapan merasuk.

Dua tahun. Berlalu dalam penantian.

Si perempuan tak kunjung kembali ke kota. Si pria resah, gelisah. Kenapa pujaan hatinya tak kunjung kembali.

Sungguh besar rasa cinta si pria. Ia terus mencari kemanakah kekasihnya mengungsi. Terus berharap akan hari dimana mereka bertemu dan memadu kasih lagi.

Ah cinta, menunjukkan jalannya bagi mereka yang tulus.

Sepotong kain yang dibenamkan dalam nasi timbel menjadi saksi akan kesungguhan si pria, bahwa ia merindukan kekasihnya untuk kembali. Kembali ke kota dan bertemu, merajut kisah cinta yang sempat terhenti. Merangkai masa depan yang bahagia.

Bandung, 1985

Si perempuan pergi selamanya. Meninggalkan kenangan indah selama 37 tahun bersama si pria. Dan dua minggu kemudian setelah kepergian istrinya, si pria menyusul. Sudah cukup baginya berpisah selama dua tahun. Jangan lagi berpisah, karena perpisahan kali ini bukanlah penantian.

Bukan kisah cinta yang sederhana.

Sumber: Didi David Affandy (true story), Dimas Sandya (recomended story), aleut community (inspiring story)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s