berpikir dua kali untuk PAKAI SEDOTAN

Beres angkut-angkut barang sekaligus menataletakannya di ruangan, saya langsung kembali ke tempat nebeng lama yang jaraknya sekitar satu kiloan.

Sambil jalan kaki lewat PUSDAI eh ada tukang es kelapa muda. Waduh kayaknya seger nih siang-siang gini. Apalagi es kelapa muda yang dijual disitu bener-bener kelapa muda. Bukan ngaku-ngaku muda tapi digigit berasa kres kres. Kelapanya sih muda, tapi yang jualnya kayaknya dah nggak muda lagi. Warna kelapa muda ama rambut si bapak kurang lebih sama. Sama-sama putih.

Setelah berdiri di gerobak si bapak, sejenak saya berpikir dan teringat akan percakapan antara mak Anil dan mang Hadisome yang membahas tentang sedotan.

Di situ mak Anil yang dengan gencarnya mengkampanyekan gaya hidup ramah lingkungan (mau hijau kek, biru kek, frugal kek, sama saja lah) menelaah sebuah kebiasaan kita-kita pada saat membeli jus yang dipinggir jalan dan dimana pun tersedia.

Klo dulu sih biasanya kemasan jus “blender di tempat” selalu menggunakan plastik bening. Tapi sekarang udah mulai gaya pake cup-cup yang punya tutup istimewa dengan lambang plus ditengahnya sebagai akses buat nusuk sedotan.

Perubahan gaya menyajikan minuman ternyata tidak mengubah permasalahan yang ada. Tetep aja ujung-ujungnya sampah plastik. Betul juga. Dan lagi tidak hanya kemasannya saja yang berujung menjadi sampah. Sedotan sebagai perantara mulut dan minuman pun pada akhirnya menjadi barang yang sekali pakai.

Pernyataan di atas lagi-lagi bener. Lagipula siapa sih yang mau menggunakan kembali sedotan bekas bibir entah siapa. Masih mending klo bibir artis yang seksi dan bebas TBC. Coba klo bekas bibir pengidap sariawan, bersin, batuk-batuk dan berdahak. Euh… Gua jitak tuh sedotan…!!!

Andai bisa dicuci pun, sepertinya belum pernah saya dengar alat khusus untuk mencuci sedotan.

Jangan pesimis gitu dong Ung, kan masih bisa di daur ulang. Jadi karya seni hiasan meja dengan bentuk bunga-bunga atau dibikin jadi binatang-binatang lucu seperti prakarya dari Jepang gitu deh.

Oh ya ya ya, bisa juga tuh edinya (ide, red). Eh tapi-tapi, bukannya aku pesimis. Hanya saja aku jarang lihat prakarya-prakarya itu dibuat 100% dari limbah yang sudah tidak digunakan dan tak terpakai lagi. Maksudku, justru prakarya tersebut malah menggunakan sedotan baru yang belum terjamah bibir. Ah mungkin akunya aja yang nggak Ghaol gitu deh (mudah-mudahan). Syukur deh klo prakarya-prakarya tersebut dibuat 100% dari limbah yang sudah tak terpakai.

Wah berpikir sejenak si Ung panjang sekali. Curiga si Ung ngahuleung (bengong) di depan gerobak sambil ngeliatin es kelapa mudanya!

Mengingat postingan mang Hadi tersebut saya seperti disintreuk (disentil) dan diingatkan bahwa sekecil apapun tindakan kita berusahalah untuk mengurangi yang namanya sampah.

Baiklah, jadi…. nggak jadi dong beli es kelapa mudanya? Kan kurangi sampah!!

Weee… tunggu dulu! Urusan kesegaran beda lagi kasusnya. Berusaha mengurangi sampah bukan berarti menghalangi niat saya untuk membeli es kelapa muda.

“Pak Es Kelapa Mudanya satu!! Minum di sini ya Pak!!! Ga pake sedotan plis.”

11 comments

  1. hadisome · Maret 11, 2010

    wakakaakakakaka..
    ung, si anil harusnya di depannya pake awalan mak… ameh pas, mak anil dan mang hadi hahahahahaha..
    ung teu penting pisan sih ngabahas nu ngajualna geus teu ngora deui wakakakkkkkakakakkakkaakak

    • Ismail Agung · Maret 11, 2010

      hahahhahaha, segera di revisi mang!!!

      bae atuh.. biar semua orang tahu, meskipun barang dagangannya ada embel-embel muda, yang jualnya mah pasti sudah tidak muda lagi…

  2. cantigi · Maret 11, 2010

    ai seger, herang, mah ka dago tea house atuh heuheuu.. sugan weh..

  3. cantigi · Maret 11, 2010

    atawa ka ‘ngopi dulu’ deket borromeus, iraha atuh bade ngajak?

    • Ismail Agung · Maret 12, 2010

      meni gaya ngopi di kopdul!!! biasa na oge warung kopi… 3000 sagelas penuh… ato 15rebu sacangkir alit

  4. banny · Maret 11, 2010

    berarti berfikir yang ke tiga kalinya juga pake sedotan juga donk…hiks!…hiks!…hiks!….lam kenal ah kang..

    • Ismail Agung · Maret 12, 2010

      Mau ampe seratus kali juga boleh. Asal ga ganti-ganti… Hahaha.

      Salam Rimba Kang!!

  5. mbak dan · Maret 12, 2010

    diposting di sejuk bumi ya gung :p boleh tak?

  6. asepsaiba · Maret 24, 2010

    Semoga sukses di KumKumnya.. hehe…

    Salam kenal ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s