YANG GRATIS ITU numpang makan di kawinan orang lain part 1

designall_003 Beberapa hari yang lalu saya baca artikel seseorang tentang Nurani bersih bersumber dari makanannya. Dan juntrungnya adalah “jadilah seorang vegetarian”.

Saya bukannya anti atau tidak suka dengan istilah vegetarian. Dan saya pun menyatakan diri tidak akan menjadi seorang vegetarian jika saya belumlah cukup berisi alias nga-gendutan alias teu beugeung alias teu kurus dan teu wareg. Tapi bukan berarti orang yang termasuk pemakan segala (omnivora) hati nuraninya tidak bersih. I’m definitly not agree (gaya beul pake bahasa Inggris, sabari salah oge).

Saya tahu dan sadar betul bahwa banyak manfaat yang bisa kita ambil dari yang namanya ber-vegetarian, apakah itu kaitannya dengan kesehatan secara personal bahkan penyelamatan lingkungan secara global.

Saya pernah baca sebuah artikel yang membahas tentang seluk beluk dunia peternakanyang ternyata menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lumayan cukup besar dibandingkan kendaraan bermotor. Ditambah lagi artikel-artikel yang mengajak kita untuk menjadi seorang vegetarian berdasarkan fakta anatomi dan struktur tubuh kita baik itu dari rahang dan juga usus yang lebih mirip peruntukkannya sebagai pemakan sayur-sayuran.

Apakah saya tidak bergeming membaca artikel-artikel itu?

(berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, bergeming itu adalah adjektif diam saja; tidak bergerak sedikit jua. Awas jangan salah paham membaca pernyataan saya yang di atas!)

Syukur Alhamdulillah, hingga saat ini saya masih bisa menikmati Hari Raya Idul Adha dengan pesta daging. Lagipula, jarang-jarang saya bisa makan daging. Dalam sebulan konsumsi saya terhadap daging bisa dihitung kok. Jika pun makan daging, pastinya daging putih (unggas dan ikan) lah yang biasa saya pilih.

Bukannya saya tidak mau mempercayai fakta atau data-data yang berhasil dikumpulkan. Tapi yang pasti rujukan data-datanya berkiblat ke peternakan-peternakan barat yang dikelola secara modern. Pernah teman saya Angga, seorang mahasiswa peternakan Unpad menunjukkan sebuah video tentang pengelolaan ternak Sapi. Disitu saya paham, kenapa si sapi-sapi itu berkontribusi besar terhadap gas rumah kaca. Bayangkan saja, untuk memeras susu sapi mereka menggunakan mesin-mesin yang dilengkapi sensor susu (tete sapi) lalu kemudian disemprot-semprot biar steril dan akhirnya ditangkap untuk disedot. Canggih.

Coba bandingkan dengan peternak susu lokal. Diperas sehari dua kali jam empat subuh dan jam empat sore. Biar licin tete-nya dioles pake mentega atau vaselin. Dan kemudian diperas dengan jari-jari handal yang entah sebelumnya dipakai buat apa (mungkin ngupil, garuk-garuk atau…).

Jadi, yang menghasilkan jejak karbon cukup besar itu ya peternakan luar negeri yang apa-apanya selalu mengandalkan tenaga listrik.

Makan daging merah (sapi, kambing, domba, kuda, babi) itu tidak sehat. Pernyataan yang ada benarnya. Ada beberapa resiko memang yang terkandung pada si daging merah, dari larva cacing, kolesterol dan teuing naon deui (entah apa lagi). Saya pun dapat tontonan mengerikan tentang pembantaian hewan ternak (Slaughter). Setelah melihatnya, saya jadi sadar kenapa resiko penyakit bisa-bisa muncul.

Film pendek tentang pembantaian hewan ternak itu pastinya berasal (lagi-lagi) dari peternakan orang barat yang apa-apanya selalu mengandalkan teknologi (lagi-lagi boros listrik). Klo orang Indonesia, untuk satu ekor sapi saja pasti butuh 4-5 orang. Bandingkan dong dengan yang di sono, cukup dengan satu tombol case close. Anjrit hebat banget deh lu pade.

Lalu kenapa resiko penyakit bisa muncul? Nggak pake Bismillah kali pas nyembelihnya, jadi nggak dapat rahmat dan hidayah tuh si hewannya. (selalu saja ada alasan).

Jadi panjang gini nih tulisan…

Padahal saya cuman mau cerita klo tadi siang saya makan gratis dikawinan seseorang yang ga saya kenal.. bersambung aja deh klo gitu..

4 comments

  1. Gitadine · Maret 8, 2010

    mana ah ga ada part 2 nya =_=;;
    makasih banget kang, gita jadi tau artinya bergeming teh apa.😀 cihuuuui gaul banget deh lu pade.

  2. hadisome · Maret 9, 2010

    haha.. tau deh yang nulis itu, di kompasiana kan?
    inisialna KR?
    urang mah tara maca tulisan manehna hihihihi

    • Ismail Agung · Maret 9, 2010

      Topik yang diangkatnya sih oke. Cuman tidak berbanding lurus dengan kenyataan warga Indonesia bahkan negara dunia ketiga. Dan setelah saya komentari, dia malah jawab “ya itu pilihan masing-masing”. Itu sih tidak menjawab permasalahan yang dia angkat..

      Kalem kalem…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s