SHOW YOUR LOVE for environment

soul 011-copy

Bagaimana sih cara jitu agar kita bisa mengajak teman atau kerabat terdekat kita untuk lebih greenlifestyle?

Pertanyaan tersebut diajukan salah satu peserta yang ikut duduk dalam Talkshow Green Consumer yang diadakan oleh rekan-rekan mahasiswa Fakultas Ekonomi Unpad pada hari Jumat tadi (5/03).

Mungkin istilah atau kata greenlifestyle atau gaya hidup hijau bukanlah kata baru yang kita dengar saat ini. Mengingat semakin rentannya bumi ini untuk menanggung beban hidup manusia yang semakin lama semakin tidak ramah, upaya gaya hidup hijau memang perlu sekali dilakukan.

Pertanyaan dari salah satu peserta tersebut mungkin biasa-biasa saja, namun sering kali mencoba sesuatu yang berkaitan dengan menyelamatkan lingkungan terkadang tidak mudah. Apalagi jika hal tersebut berkaitan dengan gaya hidup yang sering kali tidak kita sadari melampaui batas-batas normal kehidupan yang sewajarnya.

Jangankan untuk mengajak orang lain. Melakukan untuk diri sendiri pun terkadang kita dikalahkan oleh ajakan “KONSUMERISME” yang selalu bergaung-gaung di media-media dimana pun kita berada dan membuat kita berkesan menjadi makhluk paling kuno bila tidak meng-up date status kita dengan sesuatu yang baru.

Selalu saja seperti itu dan terus menerus.

Berapa banyak alam yang telah kita korbankan demi mencapai sebuah kepuasan?

Tak pernah kita bisa menghitungnya dengan mutlak. Sama halnya dengan nilai kepuasan seseorang yang tak kan pernah ada habisnya.

soul 009 Kembali ke acara SOUL yang merupakan kepanjangan dari Show Your Love. Mungkin terdengar ganjil jika menghubungkan upaya penyelamatan lingkungan dengan para panitianya yang notabene berkutat dengan Ekonomi.

Bukan bermaksud untuk meremehkan atau meniadakan keberadaan mereka, justru rekan-rekan yang bergerak di bidang Ekonomi ini punya peranan yang sangat penting untuk menciptakan sebuah gebrakan terhadap pola masyarakat yang (tentunya) berbasis terhadap ekonomi namun seharusnya bisa menciptakan sebuah terobosan baru yang lebih ke arah “ekonomi hijau”. Sebuah sistem ekonomi yang tidak mengeksploitasi segala sumber daya berdasarkan nilai sesaat tapi juga sebuah upaya keberlanjutan. Mengutip sebuah status yang temanku (korong kering) tulis di facebooknya yaitu,

sustainable future ditopang oleh sustainable people, dan sustainable system salah satunya adalah sustainable economy

maka, untuk bisa meraih sebuah masa depan yang tidak pernah terputus diperlukan orang-orang ekonomi yang bisa membawa seluruh umat manusia menuju ke arah sustainable economy. Can we? yes we can!!

Maaf jika reportasenya menclok-menclok, maklum citizen jurnalisme membawa sedikit masalah hati.

Kembali lagi ke SOUL.

Acara ini menghadirkan dua orang pembicara dengan dua tema yang berbeda namun masih dalam koridor “green”.

soul 013 Pembicara pertama menghadirkan saudara Mohamad Bijaksana Junerosano yang berbagi cerita mengenai Green Entrepreuner. Sano yang aktif bersama kawan-kawannya yang terhimpun dalam Greeneration Indonesia mencoba untuk menyebarkan semangat kepedulian dan cinta lingkungan melalui pernak-pernik yang tidak lepas dari keseharian manusia. Semangat GI ini dikembangkan melalui produk-produk yang selain tentunya ramah lingkungan juga bersifat persuasif terhadap isu-isu lingkungan yang tengah terjadi si sekeliling kita.

Ada pun produk-produk mereka, bukan hanya ditonjolkan dengan desain-desain atraktif namun juga memberikan sebuah solusi lain yang berkaitan dengan gaya hidup yang dapat meminimalisir beban yang manusia berikan terhadap bumi. Seperti mensosialisasikan penggunaan tas kain untuk belanja sebagai pengganti alternatif kresek, dengan desain dan model yang lebih stylish sehingga orang tidak ragu atau malu untuk menggunakannya.

soul 005 Pembicara kedua adalah saudari Anil, staff dari YPBB (Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi). Sosok perempuan ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi para pengiat peduli lingkungan Bandung. Bahkan di Kompasiana pun profile tentang dirinya sudah diangkat sebagai Calon guru yang peduli lingkungan. Pada sesi ini, saudari Anil berbagi cerita dan pengalaman mengenai Green Consumer. Yang pada akhirnya berkaitan erat dengan gaya hidup hijau yang puji syukur sudah Anil coba terapkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Pertanyaan-pertanyaan mengenai gaya hidup hijau pun mengalir deras kepada saudari Anil, dari masalah kebiasaan makan anak kostan, mencuci pakaian, informasi dan forum  lingkungan yang kurang memadai, hingga peraturan pemerintah yang mendukung upaya gaya hidup hijau.

Semuanya dijawab saudari Anil dengan semangat yang tak pernah lelah. Dan meyakinkan setiap orang yang hadir bahwa semua orang dapat melakukan hal tersebut tanpa harus merasa terbebani dengan permasalahan-permasalahan yang kerap kali muncul menghambat niat tulus untuk memulai sebuah keramahan terhadap bumi.

Jadi kenapa kita harus menunda-nunda?

Green lifestyle, Delay no more!!

soul 018

15 comments

  1. Naja Raya · Maret 5, 2010

    sebentar kang…sebelum saya mengikat komitmen dengan gaya ke-ijo2an, gimana saya memunculkan hasrat terlebih dahulu???pripun kang?

    • Ismail Agung · Maret 5, 2010

      memunculkan hasrat, hmmm kira-kira itu sama dengan ketika kita bertemu pandangan pertama dengan seseorang yang kita cintai… hingga akhirnya aku adalah miliknya dan dia adalah milikku. setengah jiwaku ada padanya, dan setengah jiwanya ada padaku.

      sebuah perasaan dimana kita tak mau sesuatu yang buruk menimpanya, perasaan sayang, cinta bahkan peduli.

      sebuah perasaan takut bilamana ia meninggalkan kita, dalam kesia-siaan.

      hahahaha, kok aku jadi melankolis gini yah…. (semenjak menulis Rabu).

      yang jelas, jangan lah kau paksakan cintamu pada bumi. karena bumi pun ingin dicintai dengan setulus hati.

      klo cowok hilang satu masih bisa ada cowok yang lain, nah lo klo bumi hilang satu? masih adakah bumi yang lain yang mau kita cintai?

      (kayaknya topik di atas seru nih klo jadi tulisan hehehehe)

  2. Ismail Agung · Maret 5, 2010

    cintailah bumi dengan tulus, karena ia tak kan pernah tergantikan…

    • Naja Raya · Maret 5, 2010

      ah iya,kang ung ung benar…tapi saya bergaya begini kan bukan berarti saya ga cinta bumi,alasan kepraktisan saja kang…tolong dimaklumi ya…😀

      • Ismail Agung · Maret 5, 2010

        nah itu dia kendala yang selalu dihadapi untuk lebih AWARE…

        nilai-nilai kepraktisan.

        jaman kita saat ini adalah zaman nggak mau repot.

        kepraktisan membuat manusia malas, kepraktisan membuat manusia berpikir (bukan sederhana) singkat.
        kepraktisan membuat manusia selalu ingin enak…

        mengutip sebuah pernyataan tentang kabut peradaban manusia, semakin jauhnya hubungan manusia dengan alamnya disebabkan oleh sistem-sistem yang membuat manusia hidup semakin mudah. sehingga pada akhirnya hubungan manusia dan alam sukar dipahami.

        praktisnya, manusia menggunakan bahan bakar minyak untuk memenuhi perjalannya dari satu tempat ke tempat lain termasuk pula menerangi hari ketika malam telah tiba.

        bagaimana dengan 10 atau 20 tahun kemudian, di saat bbm menjadi barang langka.

        masihkah kepraktisan itu bisa kita rasakan?

        atau nikmati saja kepraktisan itu saat ini juga, yang nanti biarlah terjadi nanti karena “SAYA TAK YAKIN JIKA SAYA AKAN HIDUP 10 ATAU 20 TAHUN LAGI”

        saya tidak hendak menyalahkan kamu, meskipun (mungkin) saat ini kamu belum sepenuhnya Aware terhadap lingkungan. kamu tidak sendiri kok, saya pribadi juga bukanlah manusia yang seutuhnya 100% greenlifestyle!

        dan saya tidak percaya jika ada manusia yang 100% greenlifestyle. bahkan masyarakat baduy pun yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya lokal dan menghormati alamnya pasti harus menebang pohon, menghasilkan asap pembakaran bahkan menghasilkan gas metan dari hewan ternaknya. Yang berbeda dari mereka dengan masyarakat kota seperti kita adalah, mereka bisa menyelaraskan apa yang mereka telah ambil dari alam selalu mereka kembalikan lagi kepada alam.

        SELARAS..

        hehehe diskusi yang menarik… jangan berkesan seperti saya mengurui dirimu ya. kita sama-sama belajar. cuman kebetulan saja saya belajar lebih dulu… hehehehehe

  3. Naja Raya · Maret 5, 2010

    ah SELARAS…it’s mean SEIMBANG bukan??kita mulai dari mana dong buat seimbang?kang ung bilang “kembalikan apa yang sudah kita ambil” Padahal kalo ambil dari alam, ambil cepet, ngembaliinnya yang lama,ngambilnya “cash” ngembaliinnya pake “kredit”…mulai dari mana dong menyeimbangkannya?

    • Ismail Agung · Maret 5, 2010

      hahahaha bagus juga perumpaannya…

      ambilnya cash ngembaliinnya credit…

      iya juga..

      klo buat masyarakat kota macam kita ni (cieh masyarakat kota) yang emang nggak bisa secara langsung mengembalikan apa yang kita ambil kita coba deh mulai untuk mengurangi hal-hal yang menurut kita nggak perlu (being frugal). mencoba untuk lebih bijak terhadap semua kebutuhan kita yang praktis-praktis itu agar tidak semakin membebani si bumi malang.

      yang instan itu hanya mie.

      lakukan saja bertahap, dari hal yang bisa kamu lakukan. semisal,
      “100 meter, lebih baik jalan kaki aja deh kan deket ini”
      “belanjaannya nggak usah pake kresek mbak, langsung masuk kantong aja”
      “sedia botol minum untuk diisi ulang, daripada beli air minum dalam kemasan”
      “wah hp ku dah full nih, chargernya musti dicabut”

      yang mudah-mudah dulu lah. pemanasan. tingkat lanjutnya kamu bisa lebih berkontribusi bukan hanya untuk kamu sendiri.

      yang paling sulit adalah mengubah kebiasaan yang sudah mengakar (seperti menyepelekan kresek, sumpah klo yang satu ini saya juga suka terpaksa menerimannya).

      siap mencoba?

  4. Naja Raya · Maret 6, 2010

    mencoba???siapa takut???

  5. Ismail Agung · Maret 6, 2010

    copy paste komentar dari salah seorang temanku Ayu Nurinsiyah(mantan)mengenai tulisan ini yang aku repost di note fesbuk.

    Mau sekedar berbagi juga. Aku pernah dapet kuliah tentang consumerisme gung..

    Ada 2 konsep perilaku konsumerisme berdasarkan pendorongnya:

    1. Perceived Obsolescene. Dorongan perilaku konsumerisme ini disebabkan oleh pikiran kita yang tersetel “gw mesti beli ini nih..” atau “kayaknya gw butuh ini deh..” atau “sebenernya gw masih punya A, tapi kayaknya yang B lucu d..” dsb,,dst….. See more
    Sering kali kita membeli sesuatu bukan karena kita membutuhkan barang tersebut, tetapi karena barang itu lucu, trendy, bermerek, dll.. Maka dari itu kita terjebak dalam perilaku yang konsumtif

    2. Planned Obsolescence atau konsumerisme yang terencana. Konsep ini bisa dideskripsikan dengan memproduksi barang yang terdiri dari berbagai kompartemen, lalu membuang sebagian besar kompartemen tersebut hanya karena satu kompartemen kecil butuh untuk diperbaharui. Contoh yang paling dekat dengan kita adalah hape. Hanya karena g ada kamera, hape tak berkamera sekarang nasibnya sudah tidak diketahui. Banyak kompartemen2 misalnya casing, batere, dll yang masih bisa direcycle. Tapi g sedikit kompartemen2 tersebut langsung dibuang begitu sajah!

    ya..sekian mungkin bagi2 ilmu dengan teman2..

    teuing nyambung teu gung dengan note mu? mudah2an selaras sehati kita yah. hehehe..

    Pendapat pribadi:
    “tantangan berat sebenernya untuk berperilaku tidak konsumtif. Susaaaahh banget buat menahan godaan untuk tidak berbelanja sesuatu yang tidak perlu. hehehe. Tapi memang perilaku ini harus berubah. Sedikit demi sedikit. Paling tidak, dimulai dengan menggunakan tas sendiri sebagai tempat belanjaan. Kan kalo tasnya kecil, bisa jadi penahan juga tuh. Da udah g muat kalo banyak2 mah. hehehe”

  6. Naja Raya · Maret 7, 2010

    kang,tadi aku blanja bawa tas sendiri lho…dan reaksi mbak kasir adalah menatapku dengan pandangan “aneh”…aneh ya…😀

    • Ismail Agung · Maret 7, 2010

      Hahahahahaha, selamat ya… kamu telah mencoba satu langkah lebih maju dari dirimu yang sebelumnya. Semoga langkahnya terus maju…

      Emang sih pertamanya suka kayak gitu. Mungkin di sekitar daerah mu jarang sekali ada yang berbuat apa yang baru saja kamu coba lakukan. Sebutannya bukan aneh kali tapi “unik”.

      Tahan banting aja dan berani. Coba baca tulisan saya sebelumnya.. https://agungsmail.wordpress.com/2009/12/26/kenapa-memilih-kantong-kresek/

      Nggak beda jauh ama kamu. [

  7. hani sentana · Maret 11, 2010

    Sebenernya gampang kok Gung… hidup apa adanya aaaja, nggak lebay…. nggak BM (banyak maunya) dan ikut cara hidup Rasulullah saw…. pasti dengan sendirinya gak akan menyakiti bumi ini, ramah lingkungan dan bersahaja. Di Islam kan segala sesuatunya gak boleh lebaay… 1 keluarga sebenernya mobil cukup satu, pergi haji cukup sekali, makan disuruh berhenti sebelum kenyang… yang saya contohkan mungkin acak2an ya…?

    Tapi intinya adalah selama kita menjalankan pemahaman Islam dengan baik yaitu idup bersahaja dengan sendirinya kita semua save the earth, nggak usah dibuat2. karena sebenarnya inti menjalankan kehidupan kan menjalankan agama. iya nggak…?

    • Ismail Agung · Maret 12, 2010

      dari semua isi komentarnya, saya nggak berani untuk menyanggah. Apalagi sudah menuliskan cara hidup Suri Tauladan kita.

      hanya saja tulisan “sebenarnya gampang” itu… sesuatu yang manis dimulut tak mudah untuk dilakukan…

      godaan manusia di dunia ini sungguh besar sekali. ada ini itu itu ini dan lain lain…

      jadi, berusahalah untuk melawannya!!

  8. Adsense FAQ Blog · Agustus 9, 2011

    Just wish to say your article is as surprising. The clarity in your post is just nice and i can assume you’re an expert on this subject. Fine with your permission let me to grab your RSS feed to keep updated with forthcoming post. Thanks a million and please continue the gratifying work.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s