YOU HAVE 3297 UNREAD MAIL

Heeuuu…

Kebayang kan klo ada segitu banyak email yang belum ke baca. Jangankan untuk menyortirnya. Melihatnya saja sudah males.

Maka terkadang pilihannya adalah,

1. membiarkan email-email itu teronggok begitu saja.

2. dilihat-lihat yang punya title menarik lalu dibuka.

3. select all lalu delete, masa bodo dengan email yang penting.

Dalam perkembangannya, saat ini email tak ubahnya hanya prasyarat yang tidak lagi penting untuk dilirik. Meskipun begitu email tetap saja penting bila kita hendak mendaftarkan diri pada suatu social network atau situs-situs lain yang membutuhkan verifikasi.

Dulu, menerima email yang masuk inbox itu sungguh sangat menyenangkan sekali. Bahkan, saking serunya menanti sebuah email telah difilmkan dengan baik pada film drama cinta You’ve Got Mail. Serunya mendapatkan sebuah email memang pernah saya rasakan juga sebelumnya, tentunya sebuah email dari seseorang yang sangat spesial. Sebuah email yang rutin dikirim seminggu dua kali, dan pada akhirnya membuatku jadi maniak warnet hanya untuk sekedar mengecek inbox.

Dunia social network yang berkembang pesat telah mengeserkan nilai-nilai serta keseruan-keseruan yang pernah kita alami saat membaca sebuah email yang masuk. Saya yakin, mungkin orang-orang sudah sangat jarang sekali membuka inbox mailnya. Saat ini orang lebih cenderung untuk membuka notifikasi dan melihat siapa saja yang sudah memberikan komentar atau menandai foto dan tulisan sehingga saya harus lihat dan baca.

Seru memang, tapi terkadang nilai-nilai yang bersifat privasi seperti menghilang ketika sebuah pertanyaan muncul pada kolom komentar yang isinya pun tidak bisa dikategorikan sebagai komentar. Sebuah pertanyaan atau pernyataan yang nggak nyambung dari pokok bahasan dan konsekuensinya adalah terbaca oleh ratusan member yang sudah tergabung sebagai teman kita.

Etika. Ya sebuah etika dalam menulis. Dengan mudahnya ketika melupakan bahwa apa yang kita tulis bukan saja dibaca oleh saya dan si pemilik halaman web. Tapi hampir semua yang sudah masuk dalam ruang pertemanan pun bisa membacanya. Syukur-syukur klo semua teman kita itu bukan sembarang teman.

Setelah kemarin saya berbalas kirim email. Sepertinya ada sesuatu yang hilang (dilupakan) dan tiba-tiba memori asyiknya berkirim email seakan-akan ruhnya telah kembali. Sulit untuk dijelaskan memang, tapi ada nuansa yang berbeda ketika kita menulis dan tidak dihadapkan pada foto profile si penerima pesan.

Entah apa perasaan itu. Yang jelas, saya selalu menanti sebuah email masuk untuk saya baca dan kemudian saya balas kembali…

3 comments

  1. Naja Raya · Maret 5, 2010

    eh kang ung ung jatuh cinta lagi sama si imel ya???rajin-rajin cek si imel kang…ntar “kegemukan” jadi repot…

    • Ismail Agung · Maret 5, 2010

      iyah, klo udah gemuk, antara yang penting dan tidak penting terlihat seragam semua…

      aku sekarang pake fasilitas office outlook, jadi si imel langsung masuk diunduh. jadi bisa baca saat offline. yang penting bisa diselamatkan, yang ga penting bisa dihapus. hehehehee…

  2. mylitleusagi · Juli 11, 2010

    iya..suka pusing liat inbox yang ngegununh
    inbox yahoo ku..4.987
    males hapusnya..(^_^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s