ALMOST STOLEN hampir kapaok

Syukur Alhamdulillah…

Sapedah sim kuring teu janten kapaok (Puji syukur, sepedaku hampir saja tercuri).

Di kamis pagi yang lumayan cukup cerah, saya ada janji ketemuan dengan seorang teman baru. Sebut saja namanya Hanna, mahasiswi S2 Itebeh. Hanna yang butuh informasi mengenai hewan-hewanan mengajakku berdiskusi dan bertemu di Salman ITB.

Singkat cerita, kami pun bertemu sesuai waktu dan lokasi yang ditentukan. Perkenalan dan diskusi tentang hewan taman kota pun bergulir.

Tengah asyik berdiskusi (jieh), tiba-tiba seorang bapak-bapak menyapa saya dari belakang. Perawakannya lumayan gendut, buncit, pendek, berkumis, menggunakan baju batik, membawa map plastik biru dengan isinya berupa kertas-kertas yang tampak penting.

“Permisi Dek,” sapanya.

“Ya Pak,” balasku kaget (sok-sok drama gini).

“Sepeda itu punya Adek?” tanyanya sambil menunjuk si Yelli yang tengah berbaring dipasung pada tiang listrik.

“Iya Pak, ada apa?” tanyaku membalas.

“Ini… motor saya kuncinya ketinggalan di fotokopian,” kata si bapak buncit itu mencoba menjelaskan.

“Saya mau ngambil kuncinya di fotokopian deket kebun binatang,” lanjut si bapak sambil menyimpan map-nya di tembok.

“Motor Bapak yang mana?” tanyaku kepengen tahu.

“Ituh, diparkir di sana,” sambil menunjuk tidak jelas entah dimana.

Oh, oke si Bapak Buncit ini mungkin butuh pertolongan untuk mengambilkan kuncinya yang tertinggal di fotokopian. Eit, Agung kamu salah, bukan itu maksud si bapak buncit. Si bapak bermaksud meminjam sepeda saya yang sedang diparkir untuk sekedar mengambil kunci motornya yang tertinggal. Gitu loh maksudnya

Ooooh….

“Saya boleh pinjam sebentar sepedanya,” pintanya memelas (tampangnya waktu itu memang memelas).

Untungnya si Agung kebal rayuan manis dan hipnotis (emang dasarnya aja otaknya dongo, bisikan hipnotisnya lambat terserap).

Ngahuleung (ngelamun) sebentar. “Oh, bapak mau pinjam sepeda?” tanyaku memastikan.

“Ia, deket kok cuman ke fotokopian yang deket jalan ke bawah kebun binatang!” terangnya sungguh-sungguh mencoba meyakinkanku.

“Adek ngerokok nggak?” tanyanya.

“Tidak pak.”

“Nanti saya belikan minuman,” bujuk rayu nih yeee…

Wah mulai nggak beres nih.

Agung baik hati suka menolong dan mudah bersimpati sedikit waspada. Ujug-ujug dipikiranku melintas sebuah solusi lain yaitu.

“Biar saya saja yang ke tukang fotokopiannya,” pintaku.

Si Bapak buncit hening sejenak. Krik krik krik. Kriuk….

“Ah jangan nanti merepotkan, biar saya saja sendiri,” balasnya.

“Nggak usah Pak, biar saya saja yang cari fotokopiannya. Bapak tunggu di sini. Fotokopian yang mau jalan ke bawah bonbin kan Pak?” sambil mendekati si Bapak dan berjalan menuju si Yelli.

Si Bapak mengambil kembali map-nya yang disimpan di tembok dan berjalan mengikuti saya. Di depan si Yelli yang sedang saya buka gemboknya si Bapak Buncit tetep keukeuh tidak mau merepotkan saya. Dan saya keukeuh tak mau kesucian si Yelli ternoda oleh PANTAT LAIN (selain saya dan bapak saya tentunya).

“Nggak usahlah nggak usah!” seru si Bapak.

Berhubung posisi pantat saya sudah bersetubuh dengan jok si Yelli, saya anggeur (tetap) keukeuh untuk menolong si Bapak mengambilkan kunci motornya yang tertinggal. Berdasarkan informasi sealakadarnya berkayuhlah saya meninggalkan si Bapak Buncit yang berjalan di belakang saya. Tiba fotokopian yang dia maksud, deket rumah makan soto madura. Fotokopian yang di daerah sini cuman ada satu. Yo weis saya coba tanya deh.

“A a, ada yang nemu kunci motor yang ketinggalan nggak?” tanya saya ke si aa fotokopian.

Hulang-huleung sambil tanya-tanya ke staff lainnya (gaya benar, staff gitu loh) yang sama-sama nggak tahu, akhirnya si Aa fotokopian menjawab,

“Wah nggak ada Kang.”

“Terimakasih A.”

Baiklah, bergeser ke toko di sebelahnya yang jual aksesoris printer. Kayaknya si Bapak nggak menunjuk tempat ini deh. Memperhatikan wilayah sekitarnya dengan saksama dan dengan tempo waktu sesingkat-singkatnya. Musti balik dan nanya ke si Bapak Buncit deh, tapi sebelumnya sms si Hanna dulu.

Send: Si Bapak tadi masih ada di situ nggak?

Receive: Ga ada, cuman ada botol minum doang di tembok.

Di perjalanan menuju Salman kembali, saya sama sekali tidak berpapasan dengan batang hidungnya si Bapak Buncit. Kemanakah ia gerangan?

Klo saya boleh suudzon, ini bener-bener ada yang nggak beres. Almost almost…

Didedikasikan untuk sepeda Yandi yang sudah kapaok di parkiran Itebeh dan hanya tersisa gemboknya doang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s