PENDAPAT SEORANG PENJAGA KEAMANAN tentang taman kota

Perjalanan meluncur begitu saja dengan si Yelli. Mengantarku kembali ke sebuah Taman Kota yang rindang. Taman Kota yang penuh dengan kenangan (menyakitkan).

Mengisi waktu dengan angin semilir, riuh rendah kesejukan pepohonan, gigitan gatal nyamuk-nyamuk nakal. Dan menuliskannya bersama Tara.

Pak Dargan, sebut saja namanya itu. Sesuai dengan emblem yang melekat di dada kanannya. Jika kita beruntung, dalam 3×24 jam kita bisa bertemu dengannya di Taman Dewi Sartika atau biasa kita kenal dengan Taman Balai Kota.

Pak Dargan adalah komandan regu satuan penjaga kawasan Pemkot Bandung. Sehari-harinya ia berkeliling mengecek keadaan kawasan Pemkot Bandung termasuk pula Taman Dewi Sartika agar keadaan aman dan terkendali.

Pembicaraan dibuka ketika Pak Dargan yang tiba-tiba melintas bertanya tentang berapa harga Tara. Merasa pertanyaannya cukup wajar bagiku dan tidak ada maksud untuk mencurigai, saya pun menjawabnya.

“Tiga juta Pak!” jawabku mantap.

“Klo yang murah ada nggak?”

“Ada kok pak, yang dua juta juga ada?”

“Itu laptop kan?” tanyanya memastikan.

“Oh yang ini bukan Pak, ini netbook, kemampuannya sedikit dibawah laptop.” Jawabku menerangkan.

“Klo laptop berapaan?” tanyanya lagi penasaran.

“Tergantung Pak, tergantung merk dan kemampuannya. Tapi biasanya di atas tiga juta.”

“Iya nih, anak lelaki saya yang bungsu kepengen dibelikan laptop!” tiba-tiba saja ia berkeluh kesah.

“Padahal dia masih SMP. Katanya sih buat belajar komputer.” Tambahnya, sambil terus memperhatikan si Tara yang tampak kusam.

“Waduh, anak SMP dah kepengen punya Laptop!” Seruku.

“Terlalu kebagusan itu mah!”

“Klo komputer sama laptop bagusan mana?” tanyanya lagi memastikan keingintahuannya.

“Klo menurut saya sih bagusan komputer Pak, soalnya kemampuannya bisa dinaikkan sesuai kebutuhan. Klo laptop lebih gampang untuk dibawa-bawa aja. Tapi klo untuk anak bapak sih saya sarankan mending komputer aja dulu. Toh untuk belajar ini kan Pak. Lagipula komputer lebih murah. Satu jutaan juga udah cukup bagus!” Jawabku panjang dan mencoba meyakinkan.

“Mending komputer ya?”

“Iya Pak, laptop itu riskan. Apalagi untuk anak bapak yang masih SMP. Klo rusak nggak gampang ngebenerinnya.

“Klo printer berapa?” tanyanya lagi.

“Kemarin saya lihat di BEC sekitar Rp. 600 ribu. Malah ada komputer yang dijual sejutaan udah termasuk printer klo mau tambah beberapa ratus ribu.. klo untuk belajar anak bapak mah, saya sarankan mending komputer aja dulu. Penggunaan komputernya juga bisa lebih terkontrol.

Pembicaraan tentang komputer, laptop dan si Tara pun berakhir. Sepertinya Pak Dargan sudah punya keputusan tentang apa yang hendak ia belikan untuk belajar anaknya nanti.

Basa basi komputer berlanjut tentang perkenalan siapa saya, dari mana saya, sedang ngapain. Sebagai tamu yang baik, saya pun menjawab semua pertanyaan Pak Dargan dengan senyum manis.

Sekedar menikmati kesejukan taman kota itulah maksud saya datang ke Taman Kota ini -yang sedang ramai dengan berbagai aktivitas masyarakat di dalamnya-.

Pernyataan saya tentang taman kota menjadi bumbu pembicaraan yang semakin meluas. Bahkan bisa dikatakan diskusi ringan tentang sebuah Taman Kota yang ideal.

Kami lalu hanyut membicarakan tentang taman, sebuah fasilitas publik dimana setiap orang berhak untuk menikmatinya. Tapi lain menurut pendapat Pak Dargan khususnya Taman Dewi Sartika yang tidak bisa dikategorikan sama dengan fasilitas publik lainnya semisal Taman Maluku atau Taman Ganesha.

Kata dia, Taman Balai Kota sebenarnya bukan fasilitas publik yang bisa digunakan seenaknya. Mengingat bahwa Taman ini masuk dalam kawasan Pemkot yang notabene kantor pemerintah.

Menurutnya lagi, seharusnya orang-orang, baik itu anak-anak yang bermain sepakbola, komunitas yang sedang berlatih, dan juga termasuk saya yang hanya duduk nangkring tidak diperkenankan untuk masuk tanpa ijin tertulis. Alasannya, ya itu tadi.. kawasannya berdampingan dengan balaikota sehingga rawan bila terjadi sesuatu hal yang bersifat tidak baik.

Baiklah saya setuju dengan pendapat Bapak yang cukup masuk akal (dari sudut keamanan, sesuai profesi si Bapak).

Saya pun tak mau kalah. Olah pendapat saya coba sampaikan berdasarkan argumen-argumen yang pernah saya dengar dari si korongkering (teman saya) tentang sustainable system dan juga antara publik dan taman kota menurut Komunitas Aleut.

Tidak untuk menjugde, menghakimi, benar atau salah, sekedar membuka wacana bahwa seharusnya ada korelasi positif, simbiosis mutualisme antara si pemkot dan publik. Pemkot sebagai penyedia Taman, dan publik sebagai pengguna fasilitas yang disediakan.

Seringkali kita melihat bahwa taman kota yang diperuntukkan untuk warga kota, entah itu olahraga, bersantai, bahkan bermesraan tidak menjadi tempat yang semana mestinya. Sampah  yang suka dibuang dimana saja, coretan-coretan tak jelas, fasilitas kenyamanan yang menjadi tak nyaman, bahkan terkadang pemandangan yang tidak pada tempatnya.

Jika boleh mengambil contoh, misal saja Taman Maluku. Yang dulunya terkenal sebagai basis dari para Bencong Bandung. Kini Taman itu tak ubahnya sebagai ruang publik yang tidak lagi menjadi milik publik. Tembok tinggi tiga meter dan gembok baja menjadi sebuah ultimatum bagi para pengguna taman. Tak ada lagi publik yang bercengkerama di dalamnya. Meskipun begitu, taman ini menjadi semakin asri, bersih dan membuat iri bagi orang-orang yang melintas sekedar menikmati semilir angin sejuk.

Permasalahannya bermula ketika Taman digunakan tidak sebagaimana mestinya. Tunawisma, bencong sedikitnya telah mengganggu keasrian Taman dengan perilaku mereka yang jorok. Pihak pertamanan pun akhirnya jenggah. Dibuatlah tembok tinggi. Masih jorok. Digembok menjelang malam hari. Masih jorok. Tak ada jalan lain, gemboksaja seharian penuh. Baru deh tampak bersih dan asri.

Taman Maluku semakin berseri, namun tak ada satupun orang yang bisa menikmati keasriannya secara langsung.

Seandainya korelasi diantara kedua pihak (penyedia dan pengguna) baik, maka baik pula si tamannya. Maka tak ada lagi keluhan-keluhan Pak Dargan mengenai sampah berserakan, fasilitas yang rusak, bahkan tanaman hias yang tak lagi Indah. Meskipun begitu, Pak Dargan menyadari. Bukan hanya si pengguna saja yang harus disalahkan karena tindakannya yang acap kali merusak, tapi pemkot bidang terkait juga harus dipertanyakan. Kenapa biaya perawatan taman seakan tidak ada, padahal pajak mengalir masuk dengan lancar?

Proses yang tidak mudah memang untuk mengubah semua kebiasaan itu menjadi lebih baik, lebih ramah, lebih menghargai dan menghormati. Sedikitnya butuh proses yang lumayan panjang agar semua ini bisa berubah.

Pak Dargan yang akan pensiun 2012 nanti dan bercita-cita membuka usaha kafe, rumah makan atau toko roti ini berharap warga Bandung bisa lebih menghargai taman-taman yang ada di kota Bandung. Bukan menuntut lebih, tapi menjaganya bersama-sama. Walau hanya untuk sekedar menikmati semilir angin sejuk di tengah hiruk pikuk kota dengan segala problematikanya.

Saya juga berharap Pak.

Salam Acuh dari saya untuk semua Taman Kota di Bandung.

Didedikasikan untuk Pak Dargan yang telah meluangkan waktunya. Berbagi cerita dan pendapat.

2 comments

  1. Jiewa · Maret 3, 2010

    Waahh.. anak smp jaman skrg udah minta laptop..😀
    Btw, di taman itu ada wifi-nya kah?

    • Ismail Agung · Maret 3, 2010

      Iyah, dasar anak jaman sekarang. Mintanya aneh-aneh.

      Sayang sekali di taman ga ada wifi.. Klo ada mah, makin seneng aja ngademnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s