Saatnya Pembinaan Mahasiswa Lebih Peduli Pada Lingkungan

Gling glo gling glo…

Jatinangor jatinangor, belum usai cerita bersepeda saya di jatinangor.

Setelah sampai di kampus tercinta yang sudah lumayan lama jarang dikunjungi, junior-junior (jieh punya junior) yang saya tidak kenal namanya pada sibuk untuk mengundang/ mengajak akang teteh senior yang bolak-balik sekitar kampus untuk menghadiri salah satu kegiatan himpunan yang akan mereka laksanakan pada hari sabtu ini.

Acaranya, ya nggak jauh-jauh dengan maba lah!

Apakah saya tertarik, hm tidak terlalu. Sudah cukup bagi saya untuk ikut terlibat dengan hal begituan yang menurut saya dari tahun ke tahun skemanya selalu saja salin tempel dengan yang sebelum-sebelumnya. Belum ada inovasi terbaru yang mengubah segalanya.

Saya ga terlalu tahu dengan isi keseluruhan dari kegiatan yang akan dilaksanakan. Tapi sedaya tangkap ku, kegiatan yang junior-junior ku bakal lakukan punya tajuk One Day Trip to Manglayang. Seingatku nama One Day Trip itu aku yang populerin deh (mulai sombong). Meskipun bukan aku yang melaksanakannya.

Menjelang persiapan pemberangkatan para maba terlebih dahulu diberi materi yang berkaitan dengan kegiatan di lapangan. Dari manajemen perjalanan, biopraktis, hingga ppgd.

Nah entah kenapa tiba-tiba saya juga ikut memberikan materi. Sebuah materi di luar dari ke tiga materi di atas. Awalnya karena saya bertanya kepada salah seorang pematerinya, “Dari dulu itu-itu mulu materinya, apa ga ada yang lebih ke cinta alamnya?” begitulah tanyaku.

Saya kira selama ini pembinaan lapangan di kampus sudah mengalami kemajuan yang lebih cinta alam. Padahal dari dulu hingga sekarang nama kegiatannya adalah pembinaan cinta alam. Lalu kemana kah si cinta alam ini? Entahlah. Lalu si pemberi materi pun berkata, “Ya udah atuh Kang, coba aja disampaikan. Kayaknya waktunya cukup untuk satu materi lagi.”

Materi yang saya berikan sebenarnya baru saya kuasai sekitar dua bulan lalu, yaitu 7 prinsip leave no trace. Meskipun begitu, materi ini sudah lumayan cukup lama ada. Ini hanyalah sebuah aturan dasar bagi mereka yang hendak melakukan kegiatan alam bebas. Apakah itu kemping atau sekedar berwisata saja.

Padahal banyak organisasi-organisasi penggiat alam di kampus. Tapi kenapa ketujuh prinsip ini sepertinya tidak pernah tersampaikan? Kurang informasi kali ya.

Tanpa persiapan sama sekali, saya langsung unjuk gigi di depan kelas dan menjelaskan ketujuh prinsip tersebut satu persatu.

Saya yakin sebenarnya setiap orang memahami tentang mengapa kita harus ramah terhadap lingkungan sekitar. Namun pada prakteknya, kita sering kali mengabaikannya. Entah karena lupa, tak acuh, atau tak ada yang mengingatkan antara satu sama lain sehingga merasa kenapa hanya saya seorang yang harus berubah. Kamu tidak sendiri kawan.

Tidak ada pertanyaan yang diajukan setelah materi selesai. Tapi bukan berarti apa yang saya berikan sudah memenuhi semua permasalahan yang ada. Apa yang saya berikan hanya satu titik cahaya di antara ribuan kemilau bintang. Mereka sendiri lah yang justru harus menentukan dan mencari tahu lebih banyak, apakah akan selalu seperti sebelum-sebelumnya atau mengubah dunia dengan sebuah perbuatan kecil yang berarti. The choice is yours.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s