Di Balik Layar Bersepeda

Gowes-gowes bersepeda… Setelah baca postingannya Bang isro, saya jadi kepingin berbagi pengalaman saya sewaktu bersepeda. Tanpa dinanti lama-lama, baiklah lets get ride.

Enam bulan terakhir ini bersepeda sudah menjadi aktivitas sehari-hari saya selama tinggal di Bandung. Hampir setiap hari saya selalu menggunakan sepeda kemana saja, baik dekat maupun terkadang lumayan jauh. Klo ditanya jauhnya seperti apa, ya kira-kira sejauh Bandung-Padalarang, Bandung-Stadion Jalak Harupat, Bandung-Jatinangor dan yang lumayan cukup jauh dan melelahkan menurut saya adalah saat menantang batas diri saya dari Bandung ke Pangalengan hanya untuk mengirimkan beberapa surat balasan untuk adik-adik SD. Itu sangat-sangat melelahkan, tapi saya puas karena saya bisa juga sampai ke Pangalengan dengan selamat.

Lalu kenapa saya bersepeda? Alasan utama saya adalah karena saya nggak mau kalah sama Bapak saya dan kedua adik saya. Di keluarga saya, hanya saya sendiri waktu itu yang nggak bisa naik sepeda. Waktu itu adalah kelas 3 SMA. Saya pertegas sekali lagi saya baru belajar naik sepeda waktu kelas 3 SMA, dan itu pun saya belajar sendiri di sekolahan sambil minjem sepeda punya teman.

Setelah sedikit lumayan lancar, saya mulai mencoba menggunakan sepeda yang ada di rumah dan bersepeda di sekitaran kampung yang dekat-dekat rumah. Yah namanya juga baru lancar, jangankan menggowes sambil berdiri, lepas tangan satu aja saya masih nggak berani. Alhasil setelah selesai bersepeda biasanya kulit telapak tangan saya suka terkelupas dan merah seperti kepanasan karena mengenggam setang dengan sangat keras.

Pernah kejadian sewaktu saya coba-coba menggowes sambil lepas tangan kiri. Awalnya sih lancar-lancar aja, tapi pas ngelindes polisi tidur… entah karena kaget atau reflek, rem depan langsung dicengkeram kuat-kuat.

grep…

heug…

ah…

Ban belakang sedikit naik, dan dengan gagahnya anuku nabrak si setang.

Nggak berkutik sesaat.

Sepeda langsung dilepas dan jongkok sambil megang-megang anuku yang nyut-nyutan.

Duh buyung, malang nian nasib mu nak…

Meskipun pernah merasakan sakitnya bersepeda, itu semua nggak bikin saya kapok. Saya jadi makin rajin setelah tujuh tahun berlalu. Lalu apakah saya sudah benar-benar lancar. Saat ini sih bisa dibilang lumayan, walaupun terkadang kejadian kegagahan anuku pernah terulang kembali gara-gara hal yang serupa.

Ceritanya sih karena sok-sok belagu pengen belajar handsfree gitu deh. Yang saya tau waktu itu klo pengen handsfree harus dalam kecepatan yang lumayan cepat. Setelah sepeda digowes dengan penuh semangat dan kecepatan yang saya rasa cukup, perlahan-lahan kedua tangan langsung saya lepas bersamaan.

Belum sampai hitungan ke dua, sepeda sudah oleng ke kanan. Di tengah kepanikan, otakku langsung teriak..

rem… rem… rem…!!

ckiiiit…

dug…

heug…

ah.. ah.. ah…

Kena lagi…

Untungnya ga ada yang liat dan nggak ada yang ngeloncat (apaan tuh yang ngeloncat?).

——————————–||——————————–

Nah kira-kira, apa hal yang paling nggak enak saat bersepeda?

Jawabannya adalah kena serangan darah kotor di bagian yang paling sensitif untuk bersepeda. Klo nggak ngerti, baiklah akan saya terawang dengan lebar. Serangan darah kotor = bisul, sedangkan area sensitif untuk bersepeda = pantat. Jadi artinya adalah, serangan bisul pada area pantat. Dan setelah saya googling, ternyata kasus bisul di pantat bukanlah hal yang langka. Malah banyak.

Meskipun titik jatuh bisul tidak tepat mengenai sadel, namun kegelisahan dan gundah gulananya bikin pantat nggak bisa duduk diem. Geliat-geliat kayak cacing kepanasan lah. Kadang menclok di kiri, lalu menclok ke kanan, goyang ke depan, goyang ke belakang. Semua posisi di coba sampe nemu tempat yang paling PW. Mungkin klo ada kendaraan yang ngeliatin dari belakang, dia pasti berpikir,

“Yang sepedahan di depan kagak bisa diem apa, goal geol gutak giteuk mulu!”

Bagi yang belum pernah merasakan, jagalah aset berhargamu itu dengan baik.

——————————–||——————————–

Kejadian yang paling memalukan -i hate this part- saya pernah ngalamin juga. Ceritanya pas malam-malam saya mau belanja ke Alfamart. Dengan setelan celana kolor dan kaos oblong saya bersepeda sambil santai ke Alfamart yang nggak begitu jauh dari kostan.

Setelah beres belanja-belanja saya lalu kembali menuju kost-an. Karena jalanan lumayan tidak terlalu ramai, di tengah jalan saya mulai sok-sokan untuk menikmati angin malam sambil berdiri di atas pedal sepeda trus duduk-duduk di bagian rangkanya biar kelihatan ceper. Nah pas mau berdiri dari rangka, tiba-tiba celana kolor yang saya kenakan melorot karena nyangkut sama sadel sepeda.

“eng ing eng”

Kolor warna biru favorit saya dengan sangat jelas terpampang menghiasi pemandangan pengendara mobil yang ada di belakang.

Yang bikin malu banget yaitu waktu si mobil menyalip saya sambil membunyikan klakson dua kali dan terdengar tawa cekikikan di dalamnya

Sial!!!!

Untungnya malam-malam, jadi dia nggak bisa lihat dengan jelas siapa kah pemilik kolor biru bersepeda itu. Huff..

Yup, itulah sebagian kisah dan pengalaman pahit saya selama bersepeda. Mudah-mudahan cukup saya seorang saja yang mengalami hal tersebut. Lain kali klo ada yang lihat kolor biru saya musti bayar! Hahahaha

12 comments

  1. zipoer7 · Februari 6, 2010

    Salam Takzim
    Terimakasih sahabat atas keikutsertaannya pada acara kemeriahan di humberqu, artikelnya saya langsung sampaikan ke meja juri yah
    Salam Takzim Batavusqu

    • ismail agung · Februari 6, 2010

      terimakasih pak… mudah-mudahan meriah!!! sekali lagi MERIAH….

  2. Ping-balik: Kaget Ditunjuk Menjadi Juri « Leysbook's Blog
  3. yayat38 · Februari 8, 2010

    Salam kenal Mas.
    Atas permintaan Mas Isro, saya ijin menjemput artikelnya ya Mas.
    Trims.
    Salam🙂

  4. arif · Februari 8, 2010

    baru kelas 3 sma baru belajar, busyer dah, hehe..saya TK dah belajar, smp-sma ke sekolah naik sepeda😀

    • ismail agung · Februari 9, 2010

      Namanya juga anak muda. Nah loh kok pembelaannya ga nyambung ya… Waktu kecilnya ga dibeliin sepeda sih, jadi baru bisa pas udah gede.

  5. Ping-balik: 59 Peserta Bersepeda Masuk Bui « Batavusqu
  6. Ping-balik: Para Jawara Sepeda yang Hadir dalam Hamberqu « CITRO MADURA
  7. Ping-balik: Ini dia 59 Kontestan Sepeda dalam Pesta Kemeriahan Bersepeda di Humberqu « Rachmadwidodo's Weblog
  8. Mas Ben · Februari 16, 2010

    Hahaha with sepeda ride, become bisulan kah ? hahhaha

    Salam bentoelisan

    Mas Ben

    • Ismail Agung · Februari 16, 2010

      Pantat itu aset bersepeda bang Ben, hahaha… Musti di jaga baik-baik…

  9. Ping-balik: Peduli Sahabat « Batavusqu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s