Matahari Masih Marah

Kemarin saya berjanji akan menikmati matahari ketika terbit.

Syukurlah, hari ini saya bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Semalam saya bisa tertidur lebih awal tapi terkadang terbangun di waktu-waktu yang saya tidak sadari.

Tapi pagi ini…

Semua tidak sesuai dengan harapan. Setelah duduk menanti di atap rumah. Matahari tak kunjung tiba. Hanya pendar cahaya redup dibalik awan kelabu.

Mungkin matahari masih marah pada ku. Mungkin dia masih kesal karena hampir satu bulan saya nyuekin dia saat pagi tiba.

Saya pun kembali turun masuk ke dalam rumah. Sambil menunggu kedatangannya saya mencoba untuk mengisi pagi dengan memasak, cuci piring, dan cuci baju. Jika pekerjaan ini usai, mungkin dia akan muncul dengan senyum di bibirnya.

Harap dinanti ia tak kunjung tiba. Huh. Sudahlah.

3 jam setelah itu dia masih saja muram bersembunyi di balik awan kelabu. Tak lagi ia duduk di timur. Tempat ia selalu memulai hari.

Mungkin ia masih benar-benar marah padaku dan tak mau menampakkan dirinya lagi.

Saya menyerah. Mungkin lebih baik aku pergi saja. Pergi untuk menikmati siang agar matahari tahu bahwa aku benar-benar minta maaf.

Cepat tersenyum matahari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s