Sun In My Mouth

Mungkin matahari telah marah padaku.

Beberapa hari ini saya tak lagi bisa menikmati matahari yang datang menyambut pagi.
Penyebabnya?
Tak lain karena keterjagaanku di setiap malam. Meski mata terpejam tapi pikiranku menerawang. Jauh dari realita yang ada.

Dan aku terbangun, hanya beberapa detik sebelum batas pagi sirna tergantikan siang.

Matahari masih marah padaku.

Siang yang cerah tak lagi muncul mengisi hari. Awan sendu, rintik-rintik hujan, dan gelegar petir menyilet langit hingga gemetar kaca-kaca jendela dibuatnya.

Tak ada tawa riang bocah-bocah kecil yang bermain, Ibu-ibu berbincang di pagar depan rumah, dan Nyanyian-nyanyian bahagia orang-orang yang bersuka cita. Semuanya hilang. Sementara.

Bagi mereka, itu adalah hening sesaat. Tidak untukku. Aku terjebak. Dalam tembok dingin yang aku ciptakan. Sendiri. Bersembunyi dibalik selimut.

Matahari tetap saja marah padaku.

Hanya beberapa jam sebelum ia benar-benar menghilang di ufuk barat. Sedikit waktu untuk menikmati kebersamaan yang terlewatkan. Matahari aku datang.

2 comments

  1. ahnku · Februari 13, 2010

    hemmm salam kenal ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s