Metafora Hewan

Hello bumi apa kabar? Semoga saja semua masih dalam keadaan aman terkendali dan tidak kekurangan sesuatu apapun.
Baru-baru saja saya membaca tulisan di blog pelangi.kata tentang metafora dan semiotika.
Nggak terlalu ngerti banget memang saat saya baca apa itu semiotika, klo metafora mah masih lumayan dimengerti. Kan dulu pernah makan bangku sekolah.
Dari tulisannya saya baru sadar bahwa saat ini bangsa kita tengah latah dengan perumpamaan-perumpamaan hewan yang diyakini mewakili suatu objek yang katanya nggak beda jauh tingkah-polahnya dengan yang diumpamakan.
Sebut saja buku George Alitjondro dengan judul Gurita Cikeas, atau sebelumnya televisi kita diramaikan dengan perseteruan dua institusi yang penuh dengan konspirasi yaitu perseteruan Cicak vs Buaya. Ditambah lagi dengan kekonyolan Azis Gagap dengan ejekan Caplak (sejenis serangga).
Penggunaan metafora hewan tersebut memang sedikit lebih halus dibandingkan hewan-hewan yang pernah digunakan sebelumnya, sebut saja Anjing, Babi, Buaya, Monyet, Lintah yang jelas-jelas terkesan kasar, menghina bahkan merendahkan. Pokoknya bikin sakit hati orang yang diumpatnya.
Pada akhirnya, kita jadi terbiasa menggunakan istilah perhewanan dalam konteks berbahasa dan menganggap itu semua lumrah. Boleh-boleh saja toh, lagipula tak ada yang melarang ini kok. Selama kita menggunakannya dengan baik -meskipun sering dipakai untuk menyindir-.
Jadi, sebenarnya apa yang mau saya bahas ditulisan ini? Hmm apa ya…
Klo ngebahas tentang metafora, lebih baik baca saja postingan pelangi.kata disana mungkin lebih jelas. Klo di sini saya nggak akan jauh-jauh dari hewan yang lagi naik daun dalam perumpamaan kata.
Oke, mungkin saat kita mendengar kata Gurita, Buaya atau Cecak kita semua sudah bisa membayangkan bagaimana rupa dari hewan tersebut. Namun lain halnya bila saya menulis Tangkasi, Dare, Yaki, Dihe, Dige, Boti, Hada, Endoke. Pasti nama-nama itu terdengar asing kan? Mungkin hanya warga lokal sekitar habitat hewan itu saja yang tahu benar. Tapi lain lagi ceritanya jika saya mengatakan bahwa nama-nama itu tergolong dalam keluarga si Monyet. Pasti anda semua mengenalnya bukan! Tapi monyet yang seperti apa? Atau apa bedanya Monyet dan Kera? Dapatkah kamu temukan apa bedanya? Apakah sama saja?
Sedikit berbau biologi memang.
Sekedar informasi saja, negara kita ini punya 41 jenis primata (kera, monyet dan prosimian) yang tersebar dari sumatra hingga sulawesi -maluku dan papua tidak termasuk-. Dan kemungkinan ke 41 jenis tersebut akan bertambah bila ada penelitian lanjut. Itu baru keluarga si monyet, belum termasuk jenis mamalia, reptil, amfibi dan juga serangga lain yang jumlahnya bisa hingga 5x lipat lebih.
Hmm, betapa kayanya negeri ini. Hanya sayang, kepopuleran si hewan-hewan itu kalah pamor oleh hewan-hewan lain yang notabene bukan satwa asli Indonesia. Sebut saja Singa, Jerapah, Unta, bahkan Gorila. Padahal hewan-hewan kita itu punya tingkat endemik yang cukup tinggi alias nggak ada di tempat lain. Rumput tetangga memang lebih hijau daripada rumput di rumah sendiri.
Jadi bagaimana agar kita bisa mengenal para hewan aseli Indonesia? Nggak usah muluk-muluk harus tau semua hewan yang tersebar di 33 propinsi, cukuplah satu propinsi di tempat kita tinggal dulu. Pastinya ada hewan yang digunakan sebagai maskot yang mewakili kawasan tempat tinggal. Klo emang ga ada, hm kasian juga. Dan jangan lupa cari tahu habitat hewan tersebut agar senantiasa kita bisa menjaganya untuk tetap lestari.
Sayang kan, saat kita tahu tentang hewan yang dimaksud, eh malah susah ditemukan karena habitat alaminya sudah dirusak edan-edanan.
Jadi… yuk kita cari tahu hewan-hewan yang kita punya sebelum mereka hilang ditelan jaman.

Salam satwa….
Ung ung kik kik

2 comments

  1. David · Januari 21, 2010

    Salam satwa kawan. Saya, satwa dari jawa timur, berkunjung dan meninggalkan satu komentar

    • ismail agung · Januari 25, 2010

      selamat datang kawan… sebagai satwa yang baik anda telah meninggalkan jejak yang baik di sini.
      wilujeng di enjoy..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s