Food Not Bombs Bandung, Ini Bukan Kegiatan Amal

Pernahkah kamu berpikir bahwa sebenarnya sayur-sayuran yang kamu beli di Supermarket-supermarket besar ternyata selalu menyisakan sayur-mayur yang tidak layak pajang. Ya, hanya karena alasan tidak layak pajang atau tidak menarik sehingga tidak lolos quality control, sayur-sayuran tersebut dengan terpaksa dikembalikan lagi ke distributornya. Belum lagi sayur-sayuran yang sudah lewat dari batas pemajangan pun berakhir “dibuang” dan menjadi “sampah sayuran kurang segar lagi”.

Sayuran yang dikembalikan oleh pihak supermarket ke distributor pun jumlahnya terus menumpuk hingga berkarung-karung dengan status “return”. Memang sih sisa sayuran tersebut masih bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar baik diolah menjadi makanan sehari-hari, dijual kembali bahkan menjadi pakan ternak. Namun tetap saja sisa sayuran tersebut tidak habis sepenuhnya dan lagi-lagi berakhir menjadi “sampah” sayuran segar.

Beranjak dari hal tersebut, teman-teman yang terhimpun dalam Food Not Bombs chapter Bandung (selanjutnya kita sebut saja FNBBDG) menjalankan aksi mendistribusikan makanan secara gratis dengan prinsip memanfaatkan pengumpulan makanan yang bisa diperoleh secara gratis pula. Beruntungnya, teman-teman dari FNBBDG mendapatkan akses berkenalan dengan suplier sayuran Lembang, sehingga sayur-sayuran yang tidak lolos QC tersebut didonasikan untuk kegiatan FNB.

Meski kegiatan FNB membagikan makanan, mereka enggan menyebutnya dengan kegiatan amal. Aksi yang mereka lakukan lebih tepatnya disebut sebagai media kampanye politis dengan dan salah satu bentuk perlawananan terhadap sistem dengan mempergunakan isu pangan. Aksi mendistribusikan makanan gratis ini rutin dilakukan setiap hari minggu sore di Taman Cikapayang dan depan Planet Dago.

Hari minggu kemarin saya berkesempatan untuk ikut serta kegiatan teman-teman FNB. Awalnya memang tidak sengaja saya bisa ikutan. Kebetulan teman-teman FNB ini agenda masaknya selalu dilakukan di rumah senior saya yang sudah saya anggap sebagai teteh atau tante yaitu Bu Djuni. Ya, saya sering banget datang ke rumahnya terutama pada saat jam makan malam. Entah sudah keputus urat laparnya atau kepepet lapar jadi saya sudah tidak malu-malu untuk sering berkunjung. Mbah (Ibunya Bu Djuni) pun sudah memaklumi kebiasaan saya dan tidak sungkan untuk berbagi makanannya kepada makhluk menyedihkan yang satu ini. Saya memang tidak perlu bayar, cukuplah dengan mengajak anaknya Bu Djuni si Nino bermain haha hihi.

Kesibukan teman-teman FNB dimulai pada jam tiga sore di Gang Gagak. Dari menanak nasi, mengupas dan memotong sayuran, hingga akhirnya memasak dilakukan di dapur Mbah. Setiap minggunya ada hampir satu karung atau lebih sayuran yang teman-teman FNB ambil dari Carrefour PvJ yang merupakan sisa sayuran return dan sudah dilabeli dengan tulisan FNB. Menurut Joe, salah seorang relawan FNB mengatakan bahwa satu karung itu jumlah yang kecil. Ada berkarung-karung sayuran dengan label “return” menumpuk di gudang, dan FNB hanya mampu mengolah satu karung saja dan itu pun masih bersisa.

Jenis sayurannya pun beragam. Kalau teman-teman pernah belanja sayuran di supermarket, biasanya sayur-sayuran tersebut diwadahi dengan stereofoam dan dibungkus kedap udara dengan plastik bening. Begitu pula dengan isi karung yang terdiri dari kacang buncis, brokoli, kol, mentimun jepang, kentang, bawang daun, bawang putih, paria, cabe rawit, jamur kancing, dan jamur kulit masih dalam kemasan yang menarik dan barcode yang melilit. Walhasil akhirnya sayuran tersebut diolah menjadi cap cay (menu paling cepat dan mudah).

Setelah beres memasak kini kami bersiap-siap untuk berangkat ke Taman Cikapayang. Cuaca hari itu dan hari-hari sebelumnya memang sedikit kurang bersahabat sehingga FNB lebih memilih di bawah jembatan. Tidak menunggu lama, para tunawisma yang sepertinya sudah cukup kenal langsung menghampiri dan mengambil makanan yang disediakan.

Biasanya tidak butuh waktu lama agar makanan tersebut habis. Mungkin gerimis hujan membuat aktivitas disana cukup sepi daripada biasanya. Tapi pada akhirnya makanan itu habis semua tak bersisa. Pendistribusian makanan gratis telah usai, kini kami bersiap-siap membereskan segala perlengkapan dan kembali ke Gang Gagak untuk mencuci piring sendok dan gelas kotor.

Akhirnya sisa-sisa sayuran itu bisa termanfaatkan kembali. Padahal setiap harinya dunia ini membuang banyak bahan pangan layak makan hanya demi menjaga stabilitas ekonomi, sedangkan di sisi lain dunia juga dihuni oleh mereka yang tak memiliki akses yang layak pada makanan, apa yang engkau lakukan?

13 comments

  1. Ping-balik: diphZONE!!! » Blog Archive » Pengalamaman baru, tentang kegiatan sosial
  2. diph_tegh · Januari 24, 2010

    iya betul.
    aduh jadi keliatan kalau waktu kumpul ga memerhatikan. hha.
    ok. deh..
    tukeran link yuk

    • ismail agung · Januari 24, 2010

      Boleh-boleh tukeran link. Tapi kayaknya belum bisa saya tampilkan link-nya sekarang. Coz saya masih sering ol dan posting pake hp. Kamu temennya ami yang sma 13 ya?

      • diph_tegh · Januari 25, 2010

        enggak masalah kok. hha.
        iya . kenal sama ami?

      • ismail agung · Januari 25, 2010

        Baru kenal sebenernya sama ami. Dan baru kemaren ketemu lagi. Entah klo ami masih inget sama saya atau ga.

      • diph_tegh · Januari 26, 2010

        oh…

  3. Tukang Pukul Bandung · Februari 18, 2010

    sungguh kegiatan yang amat filantropis..

    sebetulnya saya sudah mendengar tentang FNB itu sejak 2 tahun yang lalu, namun karena kesibukan serta 1 dan lain hal, jadi tidak sempat mencari tahu tentangnya.

    emang gimana yah cara gabungnya?? bisa kasih info kah, bro?

    oh, iya, jangan lupa mampir-mampir ke blog saya (tepatnya kami)

  4. hani sentana · Maret 9, 2010

    sebuah kegiatan yang sangat bermanfaat
    terus terang saya suka gelisah kalau liat orang buang2 makanan, soalnya dari kecil nenek saya mengajarkan untuk tidak mubazir.
    Makanan hanya dibuang kalau sudah basi, bulukan, dan tidak layak makan.
    kalau bertamu juga minum harus dihabiskan. gitu lho

    • Ismail Agung · Maret 9, 2010

      Betul bu, saya juga sangat merasa sayang klo melihat makananan yang tersia-siakan. Saya sendiri juga selalu terbiasa untuk menghabiskan makanan tak bersisa. Terkadang teman-teman saya suka mengatai saya maruk dan terkaget-kaget dengan cara makan saya yang terbilang berbanding balik dengan postur tubuh saya. Orang lain boleh berpendapat, tapi hati saya selalu mengatakan bahwa makanan diciptakan bukan untuk disiasiakan. Karena makanan bukanlah bom!

  5. nadia sholihah · Maret 16, 2010

    kang agung nat jd nambah lagi idenya stelah baca postingan ini…
    ayo tebak apa itu….
    ya….
    pastinya
    berkaitan dengan green cafetaria

  6. dimas dio · Desember 6, 2011

    kang agung.. tlng di bina di buat kami yng sedang membentuk organisasi sprti food not bombs.. buat daerah cipanas-puncak. dan wilayah bogor..
    tolong di bantu’y..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s