Dari Cikapayang ke Braga Festival

Katanya sih hari minggu pagi ada pertemuan penggiat sepeda di Taman Cikapayang. Sebagai pemuda sepeda, sudah sepatutnya saya datang ke acara ini. Tapi yah namanya juga pemuda, acara yang dimulai dari jam 6.30 saya malah baru datang jam 9.00.

Dijadwalnya sih dikatakan klo acara sekitar jam sembilan para penggiat sepeda sedang bebersih Taman Cikapayang. Tapi kok sepi sekali yah? Wah curiga nih, kayaknya mereka semua udah berangkat ke Gedung Kompas yang di Jalan Riau dan memulai diskusi tentang Bike Line lebih awal.

Eh tanpa diduga, saya malah ketemu Kandi, Agni dan Yandi (semuanya berakhiran i) barudak KSK. Padahal nggak janjian ketemuan. Akhirnya, berangkatlah kami bersama-sama ke Gedung Kompas.

Sesampainya di Gedung Kompas, lumayan cukup ramai dan penuh dengan para penggiat sepeda dari berbagai komunitas. Ada bike to work, ARCC, pesepeda onthel dan pesepeda work for bike (eta mah urang). Sewaktu kami datang, diskusinya sudah hampir berakhir. Moment yang sempat saya lihat adalah sewaktu Abah Iwan memberikan sepedanya untuk Wakil Walikota Bandung Pak Ayi dan merelakan dirinya pulang ngangkot. Teuing naon maksud na, padahal mun saya mah lebih baik merelakan sepeda itu untuk Pak Sariban yang sudah cukup lama berjuang secara sukarela bebersih kota Bandung.

Ya mudah-mudahan sih dengan diberikannya sepeda oleh Abah Iwan, para petinggi Kota Bandung mau membuatkan Bike Line khusus para pengguna sepeda. Berharap dikit boleh dong.

Kami tidak berlama-lama nangkring di Gedung Kompas meskipun sebenarnya diskusi belum berakhir (waktu itu kebagian ngemeng-ngemeng Pak Walkot). Tercetuslah ide untuk keliling Bandung, karena kebetulan hari minggu ini ada beberapa event menarik yaitu Pekan Kreatifitas Jawa Barat di Graha Siliwangi dan Braga Festival.

Beranjaklah kami dari Gedung Kompas lalu menuju ke PKJB yang terletak di jalan Aceh. Tiba-tiba saja si Agni mencetuskan donor darah di PMI yang letaknya berseberangan dengan Graha Siliwangi. Sebelumnya kami pernah juga bersepeda sambil donor darah, terakhir kalinya adalah oktober lalu. Baik waktu itu dan sekarang, saya tetap dengan pendirian saya untuk tidak ikut mendonor. Agak-agak geli liat jarumnya.

Beres mendonor kami lalu masuk ke area Pameran. Lumayan ramai juga pengunjungnya, stand-stand nya pun lumayan kreatif. Saya sempat beli permen gulali kacang, permen yang udah mulai jarang ditemukan di kota Bandung. Di salah satu stand, Kandi sempat mencoba untuk belajar mencanting batik. Menarik juga, malah saya juga ingin mencobanya. Tapi karena kami diburu-buru oleh cuaca yang diperkirakan akan turun hujan, saya mengurungkan niat untuk mencoba mencanting.

Sekarang kami menuju ke jalan Braga. Jalanan sedikit macet. Berhubung kami pake sepeda, maka trotoar pun kami libas saja.

Jalan Braga tidak kalah ramainya dibandingkan dengan PKJB. Kedatangan kami langsung disambut dengan kemeriahan Tatalu Percussion di depan Bank Jabar. Penasaran dengan kemeriahan di jalan utama Braga kami pun mencoba merangsek masuk. Belum sampai ke jalan utama, kami disuguhkan dengan tontonan menarik Reog Ponorogo. Setelah melihat dari dekat ternyata si kepala singa teh edan pisan. Berat banget siganamah. Belum lagi suara cetar-cetar cambuk, bikin meringis badan.

Stand-stand makanan, kriya bahkan souvenir memenuhi pinggiran jalan utama Braga. Saking penuhnya kami cukup kesulitan untuk membawa sepeda menembus kerumunan orang-orang yang hilir mudik. Meskipun begitu kami cukup beruntung karena kami disuguhkan sajian makan siang gratis. Entah sponsor mana yang menyajikan acara makan-makan ini. Pada awalnya saya cukup heran ketika segelintir orang mengantri seperti prasmanan. Tidak mau menolak rejeki kamipun ikut mengantri. Sayangnya Agni tidak bisa ikut menikmati sajian makan siang gratis ini karena dia pulang lebih dulu.

Makan siang gratis benar-benar menyelamatkan hidupku. Dari awal perjalanan sepeda saya hanya bawa bekal Rp. 2000. Tidak seperti kawan-kawan lainnya, saya hanya bisa jajan permen gulali seharga Rp. 500 sewaktu di pameran PKJB. Padahal banyak sekali barang-barang yang cukup menggiurkan untuk dibeli dan sekedar mencicipi.

Dengan perut kenyang kami lalu pulang ke kediaman masing-masing dan menutup acara sepedahan ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s