Kisah Sebuah Benda, Dibeli dan Akhirnya Dibuang

Kembali ke hari rabu. Waktunya rebel -rebo belajar- kembali.

Setelah beberapa minggu sempat off dulu dikarenakan kemalasan yang amat sangat, kemaren mencoba untuk refreshing sambil berkumpul dan belajar bersama kawan-kawan yang lain.

Tema kegiatan kemaren adalah mengenai keberlanjutan, atau bahasa kerennya mungkin “Sustainability Development for Environment” (alagh, sok tau banget sih si agung, bikin judul sengenae dewe), lupa lagi euy pokoknya mah tentang “keberlanjutan” gitu deh.

Stop-stop ga usah diperpanjang lagi, mudah-mudahan yang baca nih tulisan udah pintar dan ngerti apa yang saya maksud.

Sangat seru, karena selain berperan sebagai orang yang sedikit linglung, saya dan beberapa teman lain yang sudah mencapai usia dewasa produktif baik secara hormonal maupun reproduksional dan juga sakutebal -kuitansi utang- harus membimbing adik-adik yang usianya berkisar anak smp.

Acaranya sendiri terbagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama yaitu games tentang daya dukung. Sesi kedua games menjadi nelayan yang berkelanjutan. Dan sesi terakhir menononton film dengan judul “The Story of Stuff”.

Kedua games yang dibawa bukanlah sekedar games biasa. Keduanya merupakan games yang menjelaskan sebuah konsep meskipun tidak persis sama sekali namun konsep yang sulit dipahami menjadi lebih mudah untuk dimengerti. Kedua permainan tersebut mengetengahkan sebagian dari isu lingkungan yang saat ini sedang terjadi.

Hasil yang didapat dari permainan pun beragam, karena melibatkan pengalaman si peserta baik pada saat bermain maupun dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak ada yang salah dan benar ketika kesimpulan dari permainan dijelaskan, disinilah justru titik penting bahwa kita pada akhirnya mengerti benar bahwa setiap keputusan yang diambil memiliki efek yang berbeda dan pilihan terakhir tentunya ada di tangan kita semua.

Di sesi yang terakhir, sebuah film independen yang entah punya siapa -mungkin bisa dicari di situs video- mengalihkan semua perhatian kami pada baris-baris kalimat serta gambar-gambar yang dijelaskannnya. Film ini termasuk film yang mudah dicerna, apalagi sudah ada teks bahasa Indonesianya -terimakasih untuk relawan subtitle- sehingga kami tidak usah buka-buka kamus klo nggak ngerti.

Filmnya sendiri menceritakan tentang asal usul sebuah benda yang kita gunakan sehari-hari, benda apapun yang ada di sekitar kita. Film semi animasi ini memaparkan bahwa benda/ barang-barang yang selalu setia menemani kita ini melibatkan empat elemen utama, yaitu:

Bumi: sebagai sumberdaya alam yang terbatas, dimana hampir setiap hari isinya selalu dieksploitasi, diobrak-abrik, diobok-obok dan jika sudah habis satu lalu pindah mencari lahan baru kemudian terulang lagi deh lingkaran setannya.

Industri: proses berikutnya dimana sumber daya alam dibawa lalu diproduksi dan dikombinasikan dengan bahan-bahan kimia berbahaya menghasilkan produk yang nantinya akan digunakan oleh kita. Secara sosial, dampak dari eksploitasi sumberdaya alam justru mengubah orientasi masyarakat yang awalnya mengantungkan hidupnya pada alam kini tergantung pada cerobong-cerobong asap yang akan mengupah mereka agar bisa tetap bertahan hidup. Cukup miris juga, karena hampir kebanyakan para buruh pabrik merupakan perempuan dalam usia produktif yang memaksa mereka bersetubuh dengan toksik kimiawi. Dan pada akhirnya, para calon bayi merekalah yang menjadi korban dari kejahatan kasat mata ini.

Toko: barang-barang yang sudah dibuat akhirnya dijajakanlah di toko-toko dan menunggu orang seperti kita-kita inilah untuk membelinya. Patut dipertanyakan pula tentang pantas tidaknya suatu harga pada barang yang kita beli, mengingat bahwa untuk menciptakan sebuah barang ternyata melewati beberapa proses dan jarak yang bisa dibilang lumayan panjang. Misal, untuk sebuah HP buntet BuruBeli yang pabrik utamanya berada di Kanada ternyata beberapa komponen lainnya semisal material logam dipasok dari Afrika, kayu dari Indonesia, plastik dari China, dan mungkin di antaranya menggunakan pekerja dibawah usia hingga akhirnya sampai di tangan anda dengan harga tiga juta. Itu baru HP BuruBeli, coba kalo HP-HP murah lainnya (HTC -hape ti cina-) yang ternyata prosesnya pun sama saja.

Rumah: akhirnya, barang tersebut mampir dan menjadi bagian dari rumah. Kenapa dikatakan mampir, karena entah kenapa kualitas dari barang-barang sekarang di desain hanya untuk tahan selama kurang dari lima tahun. Belum lagi ditambah dengan pergerakan fashion yang selalu berubah setiap saat. Jangan percaya bahwa penjajahan di dunia sudah dihapuskan. Penjajahan tak pernah bisa menghilang, ia hanya berubah bentuk saja hingga akhirnya muncul kembali dengan istilah “kapitalisme”. Penjajahan kapitalis ini akhirnya menyebarkan virus-virus berbahaya yang bisa kita sebut sebagai “konsumerisme”. Virus-virus ini juga semakin didukung dengan kehadiran media baik secara audio maupun visual yang menawarkan, mengiming-imingi hingga akhirnya menciptakan garis batas yang sangat jelas antara si miskin dan si kaya, si gaul dan si kuper, si hitech dan si lowtech, si up to date dan si up to you. Bayangkan saja, hanya karena sepeda merk Federal seseorang menjadi urung untuk bergabung dalam komunitas bersepeda ke sekolah yang anggotanya rata-rata menggunakan sepeda dengan merk HARGA di atas satu juta plus aksesoris pendukung gaya bersepedamu yang sebenarnya nggak penting-penting amat untuk digunakan -teori bung  Aso, sebuah komunitas hobi terkadang malah menghilangkan esensi dari hobinya sendiri dan menjadi ajang unjuk gigi kepunyaannya bukan kebisaannya-.

Last but not least semuanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir: Barang-barang yang sudah tidak layak digunakan/ rusak akhirnya dibuang begitu saja. Dikubur, dibakar, dikubur, dibakar terus menerus seperti itu dan pada akhirnya racun-racun yang dulu dibenamkan pada saat proses produksi kini terurai bebas mencemari tanah, air dan udara. Daur ulang, upaya yang memang sebaiknya dilakukan namun tetap saja hanya menyentuh sebagian dari barang-barang yang bisa di daur ulang. Dan sampah terus saja semakin bertambah, karena setiap barang baru dibuat terkadang dibuat berbeda jauh dari versi sebelumnya sehingga memaksa kita untuk membuang versi lama hanya untuk sebuah versi baru yang mungkin dalam kisaran satu bulan ke depan akan tergerus kembali oleh kemunculan versi yang lebih baru lagi. Begitu dan seterusnya.

Nah dari keempat elemen tersebut tentunya ada elemen-elemen lain yang cukup berperan penting menunjang keberlangsungan mereka. Elemen-elemen luar tersebut antara lain adalah:

Kita: ya kita, aku kamu mereka kalian situ ogut dikau ente loe gue maneh urang-urang you me ambo beta awak -manusia- sangat berperan penting dalam setiap proses yang terjadi di tiap elemen. Tanpa kehadiran manusia, tak mungkin setiap elemen tersebut bisa berjalan.

Pemerintah: pihak berwenang yang seharusnya bisa mengatur dengan lebih baik dan bijak. Aparatur tertinggi yang seharusnya menunjukkan keberpihakannya pada rakyat bukan pada suatu golongan atau kalangan. Dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat. HIDUP PEOPLE POWER

Para Penguasa saham/ Pengusaha: Merekalah yang sebenarnya sangat sangat sangat diuntungkan. Pemerintah justru menjadi penjilat dan bagian pencuci bersih segala noda yang ditinggalkannya. Kebijakan-kebijakan pemerintah hanyalah sebuah citra dipermukaan yang seakan membatasi namun membuka seluas-luasnya kesempatan mereka asal Pemilihan nanti jangan lupa sokongan dananya yah…

Well, itu lah sekelumit kisah yang ternyata terjadi pada barang-barang yang sejatinya selalu menemani kita sehari-hari. Nah sekarang, mari kita coba untuk lebih bijak terhadap barang-barang yang kita punya. Karena proses benda tersebut untuk sampai di tangan kita ternyata tidak sesimple yang kita perkirakan. Mudah-mudahan saja barang yang kita punya saat ini bisa bertahan sekurang-kurangnya untuk 10 tahun ke depan. Dan upaya keberlanjutan ini dapat menyelamatkan bumi yang hanya ada satu-satunya -tidak dapat tergantikan- untuk bertahan lebih lama lagi di luar dari ramalan-ramalan yang diperkirakan oleh para ahli. Hopefully.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s