Sepeda Surat, Bersepeda Sambil Mengirim Surat

Kesampaian juga akhirnya mengirimkan surat balasan dari adik-adik SD Neglasari Bandung untuk adik-adik SD Cijembar Pangalengan. Setelah kurang lebih tiga minggu surat-suratnya tertahan di dalam tas saya akibat kesibukan yang tidak jelas, akhirnya sampai juga tuh surat kepada alamat yang dituju.

Masih nyambung dengan postingan sebelumnya. Tujuan saya ke Pangalengan memang tidak hanya sekedar bersepeda saja dan mengetes batas kemampuan serta mengukur waktu tempuh seorang pesepeda amatir, tapi ya itu tadi saya juga harus mengirimkan kembali surat-surat balasan kepada mereka yang tercantum namanya pada surat.

Rencananya besok pagi saat mereka memulai aktifitas sekolah, saya akan datang dan bertamu terlebih dahulu kepada bapak kepala sekolah. Setelah itu saya minta izin setengah jam untuk mengajak adik-adiknya membalas suratnya lagi.

Eh taunya… dodol benar diriku ini. Ternyata besok semua anak SD libuuuuuuuuuuuur.

Setiap tanggal 25 November, Indonesia memperingatinya sebagai Hari Guru Bhayangkara. Lebih dodolnya, saya baru tahu klo tanggal 25 November itu adalah hari guru. Kacau benar anak muda jaman sekarang, melupakan jasa para pendidik yang telah dengan sabar meluluskannya dari bangku sekolah.

Karena lusa mereka baru masuk sekolah, maka dengan terpaksa sekali saya harus memperpanjang masa aktif saya disini. Tadinya mau tiga hari saja, tapi kalau begini keadaannya ya jadi empat hari saya bersemayam di Pangalengan. Dan itu berarti saya harus melewatkan hari Raya Idul Adha disini juga. Never mind.

Lusa tiba. Rasa lelah perjalanan baru terasa di malam yang kedua. Sedangkan skema dan rencana akan dimulai pagi ini. Bangun pagi terasa agak berat, padahal kemarin saya bisa bangun tepat jam lima. Mungkin sensasi dingin yang mulai membalut tubuh  membuat kata “malas” tumbuh berkembang dengan baik.

Segala sesuatu yang bisa mengalahkan rasa malas adalah niat. Sebuah niat yang bulat dan tekad yang kuat. Jadi jangan heran jika melihat saya yang sangat sangat pemalas,  karena saya belum menemukan sebuah niat yang bulat dan tekad yang kuat. Niatnya masih seperti awan, berbentuk tapi tak berbentuk, berwujud tapi menghilang diterpa angin. Tekadnya masih tekad tahu, kenyal-kenyal gampang hancur gitu deh. Nah loh kok tulisannya jadi mengarah ke galau-galauan gini yah.

Segera saja saya mengusir kata-kata “malas” akibat sensasi dingin dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Pokoknya hari ini saya harus pergi ke sekolah atau saya harus menunggu lusa karena besok mereka bakal libur lagi. Dan itu tidak boleh terjadi.

Sesampainya di sekolah saya langsung masuk ke ruangan Kepala Sekolah. Si bapak cukup kaget melihat kedatangan saya kembali, apalagi dalam penampilan yang berbeda (makin jelek sih). Tidak banyak berlama-lama, saya lalu mengutarakan maksud hati serta menjelaskan bla bla bla mengenai program surat-menyurat antar sekolah. Sedikit berpromosi juga tentang nilai-nilai positif yang bisa diambil jika adik-adiknya terbiasa menulis surat.

Sebenarnya program ini adalah hasil salin tempel dari rekan-rekan yang terhimpun dalam Komunitas Sahabat Kota tentang Jejaring Anak Indonesia dan juga program Sepeda Surat (bersepeda sambil mengirim surat). Dan lagi program ini juga sudah mendapatkan persetujuan dari sang empunya serta didukung penuh hingga proses pencarian sekolah yang akan dijadikan sebagai sahabat pena dari adik-adik SD Pangalengan.

Beruntunglah, respon dari sekolah sangat positif. Mereka menyambut baik niatan saya dan mempersilakan saya untuk melaksanakan programnya tanpa sungkan-sungkan. Jarang-jarang loh sekolah yang “terpojokkan” (jauh dari mana-mana) ini dapat program khusus untuk anak-anaknya.

Begitu masuk ke dalam ruangan kelas, seluruh adik-adik menyambut kedatangan saya dengan meriah. Mereka belum melupakan saya. Bahkan ada beberapa diantara mereka bertanya,

“nanti sore akan main?”

Sebuah rutinitas yang sebelumnya selalu saya lakukan selama menjadi relawan. Dengan berat hati saya menjawab tidak. Hari ini saya hanya akan mengajak mereka untuk membaca surat dan membalasnya kembali.

Satu persatu nama yang tercantum dalam surat saya panggil dan saya serahkan suratnya. Mereka sangat antusias menerima surat yang tak dinyana mendapat balasan. Usai membaca surat masing-masing, mereka tertawa-tawa sendiri. Mungkin itu adalah ekspresi senang karena bisa punya kenalan dari Bandung.

Tidak menunggu lama, mereka lalu membuat surat balasannya. Beberapa dari mereka ada yang cukup kesulitan untuk menulis, sedangkan yang lainnya cukup bersemangat hingga penuh satu halaman. Umumnya yang kesulitan menulis bukan karena kebingungan harus membalasnya seperti apa, tapi mereka benar-benar kesulitan untuk menuliskan kata-kata yang ingin mereka sampaikan. Padahal mereka udah kelas empat gitu loh.

Ya mudah-mudahan saja dengan menulis surat, mereka akan termotivasi untuk menulis dengan baik sesuai dengan ejaan yang telah disempurnain. Karena masih banyak di antara mereka yang tulisannya campuran bahasa Indonesia dan Sunda serta serapan asing yang ditulis dengan logat Sunda.

Maksa Visan.

Akhirnya beres juga. Surat-surat sudah dikumpulkan. Dan selanjutnya adalah mengirimkan kembali surat-surat tersebut ke Bandung. Mungkin bulan depan saya kembali lagi ke Pangalengan dan mengantarkan surat balasan dari Bandung. Mudah-mudahan saja dengan bersurat-suratan mereka jadi lebih pandai menulis dan bercerita. Dan klo jodoh, bisa saja suatu hari nanti mereka bertemu dan menjadi sahabat sejati. Witwiw…

NB: Besok Idul Adha, Selamat Pesta Daging Saudara-Saudara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s