Sepeda Amatir Goes to Pangalengan

Apa bedanya sepeda amatir dengan sepeda profesional?

Jawabannya ada pada celana yang mereka kenakan. Sepeda amatir cenderung menggunakan celana yang semau gue, mau pake celana cutbray kek, celana pensil, celana jeans, celana seketer, celana panjang pendek ato bahkan nggak di celana pun nggak masalah. Nah klo pesepeda profesional, sepenglihatan aku sih mereka tuh doyannya menggunakan celana-celana pendek ketat merecet dan cenderung menonjolkan kepunyaannya yang terhimpit oleh jok. Jadi klo ada yang melihat orang bersepeda menggunakan celana ketat, anggap aja dia atlet sepeda profesional, hehehehe.

Bicara tentang sepeda atau lebih tepatnya sesepedahan (soalnya klo ngomongin sepeda nanti nyambungnya ke masalah onderdil dan part-part sepeda yang sama sekali saya tidak mengerti), selasa kemarin saya mencoba untuk menantang diri saya secara pribadi. Tantangannya sih simpel aja yaitu, berapa jam waktu yang dibutuhkan untuk seorang pesepeda amatir dari Bandung menuju Pangalengan?

Bener-bener simpel sekali.

Sebelum pemberangkatan, terlebih dahulu saya merencanakan segala tetek bengek yang dibutuhkan. Maklum ini adalah pertamakalinya saya bersepeda dengan lokasi dan jarak yang bisa dikatakan cukup jauh. Mulai dari menentukan rute yang akan diambil, barang yang akan dibawa hingga, kostum yang akan dipakai. Dan lagipula, perjalanan sepeda nanti bukan perjalanan satu hari pulang pergi. Saya berniat menginap barang dua atau tiga hari di lokasi yang dulu pernah saya tempati sewaktu menjadi relawan gempa. Bersilaturahmi sekaligus ada misi lainnya yang nanti akan saya ceritakan di postingan berikutnya.

Pukul sembilan pagi tiga puluh menit, sebuah start perjalanan yang bisa dibilang cukup telat untuk melakukan perjalanan jauh. Maklum aja, niatnya sih udah pakem di dalam hati, cuman praktek bangun paginya aja yang rada susah.

Perjalanan dimulai dari Jalan W. R Supratman, Bandung. Dengan kekuatan yang sebelumnya diberikan oleh PSK (Pedagang Sangu Koneng=Nasi Kuning) ku kayuh sepeda dengan semangat membara. Mengambil rute Pelajar Pejuang lalu belok kiri di Buah Batu lurus terus masuk Bojong Soang lalu belok kiri lagi ke arah Dayeuh Kolot dan masuk ke jalur Banjaran. Satu langkah perjalanan berhasil dilalui tanpa hambatan dan lancar-lancar saja. Dan waktu yang diperlukan antara Bandung-Banjaran kurang lebih sekitar satu jam tigapuluh menit.

Sebuah permulaan yang bagus, waktu yang ditempuh untuk langkah pertama ini hampir sama dengan waktu tempuh Bandung-Padalarang. Hanya saja rute ke Banjaran tidak banyak turunannya, datar-datar saja.

Tiba di Banjaran, istirahat dulu di Masjid Alun-alun. Santai dikit lah, namanya juga sepeda amatir. Harus dinikmati. Banyak godaan yang datang saat melewati pasar yang ramai. Dari es campur, es krim hingga es kepala. Apalagi waktu menunjukkan pukul 12 siang. Akhirnya, mau nggak mau saya musti menelan ludah dan melanjutkan saja perjalanan ini. Lagi kere nih musti banyak penghematan!

Langkah kedua, Banjaran-Pangalengan dimulai.

Kalau dilihat-lihat di peta, jarak Bandung-Banjaran dan Banjaran-Pangalengan tampak similiar panjangnya dan sama jauhnya. Dan lagi menurut informasi yang didapat, waktu tempuh oleh sepeda motor, sepeda motor, sekali lagi, sepeda motor ialah sekitar satu jam. Jadi klo dikira-kira pake sepeda mah mungkin dua atau tiga kali lipatnya. Begitulah menurut pendapat saya.

Lain dihitungan, lain pula dikenyataan. Kekuatan dan daya tahan tubuh manusia bukanlah matematis, tidak selalu konstan saudara-saudara! Perkiraan awal mengenai waktu yang akan ditempuh meleset jauh sekali. Bukan dua atau tiga kali lipatnya, melainkan empat kali lipat dari waktu tempuh sepeda motor.

Sepanjang jalan, jumlah turunannya bisa dihitung dengan jari. Sisanya adalah tanjakkan yang tiada henti. Namanya juga sepeda amatir, apa salahnya jika berhenti ditengah perjalanan dan beristirahat sejenak. Namanya juga sepeda amatir, nggak hina-hina amat kalau ditanjakkan turun dan ngedorong sepedanya, hahaha. Yah namanya juga sepeda amatir, senang banget klo nemu turunan yang tak seberapa panjangnya, merasakan hembusan angin yang sedikit menyejukkan.

Entah berapa kali saya beristirahat, dan entah berapa tanjakkan yang memaksa saya harus mendorong sepeda. Namun, setiap kali saya didera rasa lelah tidak terbersit sebuah pikiran yang membuat saya urung untuk melanjutkan perjalanan. Keteguhan hati dan semangat sepeda amatir membuat saya lebih menikmati perjalanan ini ketimbang mengerutu karena lelah.

Banyak hal yang bisa saya temukan selama perjalanan, dari gadis-gadis desa yang terkagum-kagum (mustahil), sopir mobil yang tiba-tiba berhenti sekedar untuk bergetar-getar (pipis maksudnya), tukang buah alpukat di sisi jalan yang bisa saja saya colong buahnya sewaktu dia terkantuk-kantuk, suasana dingin yang menyergap di ketinggian 1000 mdpl, anak-anak kecil yang bermain dengan sepeda hasil modifikasi rangka dan jok bambu, hingga akhirnya nemu Alfamart. Hore, sampai euy!

Pukul limabelas poho menit. Sambutan hangat saudara-saudara di Pangalengan menutup sementara kayuhan sepeda menapaki jalanan aspal di hari selasa. Waktunya selonjoran hahahaha…

2 comments

  1. undang · Februari 7, 2010

    jalan ke pangalengan sejuk ..

    • Ismail Agung · Februari 8, 2010

      Wah, yang sejuk itu jalan pulangnya kang. Apalagi klo lewat jalur gambung. Jalur hutan, nggak banyak kendaraan, sejuk pastinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s