Saya Kangen Akan Suasana Damai

Saya sangat merindukan sekali hari-hari yang pernah saya lewatkan selama saya tinggal di Pangalengan. Udara sejuk di pagi hari, hangatnya mentari di siang hari, keceriaan di sore hari dan keheningan di kala malam.

Hari-hari yang tak kan pernah kulupakan. Kesibukan bersama Kang Nundang membantu para warga yang membutuhkan sembako, berkreatifitas bersama adik-adik yang penuh potensi besar, menghabiskan waktu bermain bola di lapangan maupun di kotak hitam kecil, jalan-jalan di perkebunan teh dan sayuran, serta berkunjung ke sekolah mengajak adik-adiknya menulis surat sahabat pena yang sampai tulisan ini dibuat surat balasan untuk mereka belum sempat saya kirimkan kembali.

Saya juga merindukan suasana berkumpul di rumah Abah Bando. Hidangan makanan sederhana yang selalu hangat, emak yang penuh kasih sayang, rumah abah yang penuh dengan untaian doa, warung dengan jajanan yang sulit ditemui di kota, bahkan bangun subuh yang sebetulnya sangat jarang sekali saya lakukan. Dan tak bosan-bosannya emak selalu memuji saya, yang katanya orang dari kota tapi tidak seperti kebanyakan orang kota yang pernah ia temui. Saya tidak merokok, saya jarang minum kopi, kemana-mana selalu pakai sepeda, intinya sih nggak banyak macam-macam.

Selain itu juga saya merindukan aktifitas selama di Sancang. Bangun pukul lima subuh, sarapan pukul lima tiga puluh, pergi ke hutan pukul lima empat lima, pengamatan kurang lebih sebelas jam, pukul sembilan minum sereal, makan siang pukul duabelas siang, lalu pulang kembali ke pondokan pukul lima sore. Pukul enam tigapuluh mandi, pukul tujuh makan malam, pukul delapan diskusi kadang tidak, lalu pukul sembilan berkemas perlengkapan dan membuat menu untuk hari esok. Mungkin itu adalah rutinitas yang terprogram dari hari ke hari hampir sama saja, namun pertemuan dengan Tono, Tini, Udin, Cika, Jay, Ann, Amelia serta para peziarah-peziarah membuat rutinitas tersebut menjadi berbeda. Bahkan ada kalanya saya menajadi pendengar yang baik ketika Emak Haes bercerita tentang kisah Leuweung Sancang, atau problematika yang dihadapi para peziarah yang berkeyakinan bahwa doa dan harapannya bisa terkabul, atau cerita Kang Nana pria yang kesehariannya ia habiskan untuk menarik rakit dan menyeberangkan para peziarah ke mata air Cikajayaan tapi tidak sepenuhnya percaya akan kekuatan mistis serta orang-orang yang bekerja di balik seragam hukum kehutanan. Ada juga cerita-cerita dari para Kuncen seperti Pak Salim, Pak Jajang, Kang Mamat serta kuncen-kuncen lainnya yang memiliki wilayah kekuasaan masing-masing.

Meloncat lebih jauh lagi, saya juga kangen akan suasana yang pernah saya habiskan selama tinggal di Tasikmalaya desa Raksajaya. Suasana Idul Adha bersama bapak Sekdes  Iwa K, ngaliweut di bukit tandus miliknya yang akan ia investasikan dengan pohon-pohon mahoni, bau tanah basah yang disiram hujan, keluar masuk kebun bambu di malam hari mencari Kukang, hingga makan keripik singkong hangat sambil pengamatan.

Semua suasana yang pernah saya lakukan pada saat itu kini sangat sangat saya rindukan. Ingin sekali bisa mengulangnya, kembali merasakan suasana damai yang kini sulit untuk ditemukan kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s