Benang Merah Itu Namanya Koordinasi

Seminggu sudah acara “survei bersepeda ke kota baru parahyangan padalarang pada hari minggu” berlalu. Kini kami semua harus lebih fokus ke rencana acara yang tinggal dua minggu lagi.

Sebenarnya agak kurang sreg nih dengan ketidakjelasan posisi dalam acara ini. Apakah sebagai pendamping kelompok seperti kegiatan-kegiatan dahulu, atau masuk dalam bagian acara, atau sebagai kuli barang alias logistik, atau sebagai tim hore yang meramaikan suasana rapat koordinasi.

Pada akhirnya saya di posisikan untuk membantu Mr S dan Mr Y yang dalam kegiatan ini bertugas untuk mengembangkan ide di sesi Tresure Hunt. Mungkin yang lagi baca nih tulisan pada bingung, sebenernya si Agung tuh mau bikin acara apaan sih. Oke baiklah, akan saya jelaskan sedikit saja. Kenapa saya hanya menjelaskan sedikit saja, karena saya juga hanya baru ngeh sedikit.

Jadi, teman-teman dari komunitas kedapatan gawean dari Sekolah franchise Singapura yang berlokasi di kota Baru Parahyangan. Kegiatan ini punya judul “Science Night Camp”, sesuai dengan namanya di acara ini kami dan para peserta (adik-adik siswa SD tersebut) akan berkemah sambil praktek-praktek ilmu pengetahuan alam gitu deh. Namun ada sedikit hambatan-hambatan dari pihak sekolah yang akhirnya science night camp ini harus diadakan di dalam lingkungan sekolah. Istilahnya sih tetap kemah alias kemping di rumah.

Agar kemah ini berkesan seru, maka semua peserta akan bermain peran sebagai para penjaga bumi. Permainan dimulai dengan misi-misi yang harus mereka jalani hingga akhirnya mereka bisa bertarung untuk mengalahkan para pemboros air.

Kegiatan ini terbagi menjadi tiga segmen yaitu, Treasure Hunt, Api unggun, dan terakhir Hiking. Nah berhubung baru seminggu lalu surveinya dan draft rancangan acaranya baru disetujui oleh pihak sekolah, maka tugas untuk minggu ini adalah mengembangkan ide ceritanya sehingga dari ketiga segmen tersebut akan terkait satu sama lain sehingga terjalin sebuah cerita yang berkesinambungan. Intinya mah benang merah lah.

Masuk ke benang merah agak tersendat-sendat nih. Harap maklum aja, para panitianya terdiri dari orang-orang yang berbeda latar belakang akademisi sehingga terkadang sulit untuk duduk bareng membahas alur kegiatannya. Karena kondisi yang demikian, maka mau nggak mau saya sedikit demi sedikit menggeser porsi peranan PJ yang sejatinya adalah Mr S dan Mr Y. Tidak ada maksud untuk menyepelekan peranan mereka, namun karena kesibukan mereka yang entah mau gimana lagi akhirnya memanggil jiwa saya untuk berinisiatif terlebih dahulu. Lagipula saya bingung, kenapa musti ada dua PJ?

Waktu semakin mendekat, persiapan dan kesiapan semakin mendesak, orang-orang tetap dengan kesibukannya masing-masing. Dan saya tetap disibukkan dengan kesedihannya sendiri. Tidak ada yang perlu dikeluhkesahkan selama yang direncanakan masih dapat terkendali dan tertangani. Semuanya masih dalam kondisi baik-baik saja (versi saya).

Seminggu setelah mengembangkan benang merah para kakak-kakak pendamping dipertemukan satu sama lain. Pertemuan yang pertama ini bersamaan dengan orientasi lokasi kegiatan serta briefing awal seluruh rangkaian kegiatan science night camp. Dan sehari sebelum pertemuan para kakak pendamping, saya bersama si “Yelli si sepeda kuning” terpaksa berkeliling kota Bandung mencari-cari dan mempersiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk uji coba materi yang akan dibawakan di lokasi kegiatan.

Tubagus Ismail – Cikutra – Supratman – Pasteur – Pajajaran – Riau – dan berakhir di Muararajeun. Hari yang penuh dengan semangat!!

Minggu pagi di jalan tol padalarang. Tragedi kembali datang. Kendaraan yang kami tumpangi berhenti tepat pada tiang penunjuk “pintu keluar 0”. Sial! Padahal tinggal beberapa meter lagi. Segala upaya kami lakukan agar si VW Combi bisa menyala kembali. Mulai dari dorong hingga nongkrong-nongkrong. Tapi apa daya, dia tetap diam membisu diantara deru mesin lain yang melaju kencang.

Keputusan pahit pun harus kami ambil. Kami akan pergi berjalan kaki menelusuri perkampungan sekitar jalan tol. Dan kegiatan ini mungkin lebih tepatnya kami namakan “Tersesat di Padalarang”. Tanpa arah, satu tujuan, hanya modal keramahan serta belas kasihan untuk bertanya kepada warga sekitar bagaimana agar bisa keluar dari sini dan menuju Kota Baru Parahyangan.

Satu jam kami habiskan berjalan kaki. Satu kilometer jarak yang tersisa. Satu kendaraan datang menjemput kami, menyianyiakan kalori yang kami bakar hanya untuk menepati waktu. Perjalanan panjang “Tersesat di Padalarang” berakhir di dalam VW Combi yang pada awalnya (justru) membuang kami di tengah jalan.

last session

Jalur “tersesatnya” lebih menyenangkan dibandingkan jalur “survei sepeda”. Banyak view dan trek yang lebih tepatnya menarik jika sambil bersepeda di pagi hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s