1005 sembaok

Bantuan kembali datang. Kali ini dari sahabat-sahabat kami di Rumah Cemara, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang sosial. Awalnya kami mengira bahwa bantuan yang diberikan dari RC kurang lebih sama dengan bantuan-bantuan sembaok sebelumnya.

Paling isinya ada beras, gula, mie instan, sarden, susu, sabun dan yah sekiranya barang-barang yang dibutuhkan sehari-hari gitu deh. Kenyataannya memang seperti itu, cuman kali ini ada hal yang tidak biasa yaitu jumlah yang dikirimkan ternyata diluar dari perkiraan awal.

Emang ga kira-kira, jumlah yang dikirim ternyata sebanyak 1005 paket. Bener-bener edan! Jumlah segitu langsung bikin isi rumah penuh dengan karung-karung yang menumpuk.
Ga hanya itu saja, selain jumlahnya yang empat digit tiap paketnya pun ga kira-kira beratnya. Mungkin ada sekitar 4-5 kiloan, yang isinya antara lain beras 3 kilo, 1 kaleng besar sarden, 1 kaleng susu dan 5 bungkus mie instan.

Nah ke semua paket tersebut dimasukkan ke dalam karung-karung yang isinya ada yang delapan ada yang sepuluh bahkan ada juga yang duapuluh. Bayangkan aja berapa beratnya klo ngangkut satu karung. Bongkok bongkok deh lu!
Jumlah segitu emang lebih dari jumlah yang dibutuhkan oleh RW-nya kang Nundang yang hanya 346 KK. Agak kesel juga waktu denger idenya si wakil RW yang menyarankan untuk memberikan 2 paket untuk tiap KK. Spontan saya langsung menolak secara langsung ide egoisnya tersebut. Saya pikir yang membutuhkan bantuan bukan hanya RW 19 saja. Mungkin masih banyak RW-RW lainnya yang juga membutuhkan atau bahkan sampai saat ini masih belum tersentuh bantuan.

Akhirnya, ide yang terbersit adalah membagikan sisanya untuk tiga RW terdekat yaitu RW 17, 18 dan 20.

Di seperempat malam kami disibukkan mencari data yang valid mengenai jumlah KK di tiap RW. Ternyata perangkat desa tuh ga tanggap terhadap bantuan, karena tiap ditanya data yang valid jawabanya masih kira-kira. Jadi mendingan disuruh datang aja ke posko besok.

Esok harinya, meskipun udah disuruh datang ternyata tetep aja ada yang ga datang. Umumnya mereka pada datang setelah mendengar kabar dari mulut ke mulut dari warga RW 19 yang sudah kebagian jatah sembaok. Baru deh para RT itu inisiatif datang. Hmm dasar emang dasar.

Macam-macam saja tingkah polah si RT. Ada yang sok cool, ada yang berbangga hati mengenai RW-nya, ada juga yang sok istimewa. Lebih dari itu saya sempat percaya terhadap salah satu RT yang menurut saya “jujur”.

Cerita tentang si RT jujur ini pada mulanya sungguh bisa membuat saya percaya 100% klo dia adalah orang yang amanah. Untuk pembagian sembaok ini memang saya lebih menekankan hanya untuk yang sangat membutuhkan yaitu warga yang rumahnya rusak dan juga secara ekonomi kurang. Dengan penuh percaya diri dia hanya mengajukan 24 nama dari 48 jumlah total. Sebelum terjadi sesuatu hal yang tidak mengenakkan di kemudian hari, saya sempat bertanya tentang ‘jika seandainya nanti ada warga di luar dari daftar yang ditulis menanyakan kenapa ia tidak kebagian’ apa yang akan dilakukan oleh bapak RT? Jawabannya cukup meyakinkan, yaitu berani untuk menjelaskan tanpa ragu kepada warganya.

Lain di mulut lain pula di tindakannya. Ah ternyata dia tidak seberani seperti apa yang dia ucapkan. Karena takut akan tekanan warganya sendiri akhirnya dia terpaksa membuka isi paket dan membagikannya secara merata. Damn! Yang begini nih yang tidak sesuai harapan.

Padahal, jika dia memang merasa masih kurang kenapa tidak menambahkan datanya. Justru akibat perbuatannya itu mengakibatkan spekulasi negatif bahwa dia berbuat curang. Ah sudahlah… Toh dia sendiri yang menanggung akibatnya.

Akibat ulah si RT tersebut membuat saya sedikit lebih tegas kepada perangkat-perangkat der lainnya yang datang mengambil sembaok. Saya terpaksa bertindak keras agar kejadian seperti membuka paket kembali tidak terulangi lagi.

Walhasil mereka pada manut-manut mendengar nada suara saya yang sedikit tinggi, mungkin kaget juga ternyata tampang culun gini bisa juga ngamuk hahaha. Setidaknya kejadian yang tidak diinginkan itu nggak kejadian lagi.

Sebuah catatan kecil: ternyata perangkat desa belum tanggap darurat. Terbukti dari susahnya dapat data valid mengenai jumlah warga yang menjadi korban bencana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s