Menggambar Rumah Idaman

Waktu sudah menunjukkan angka tiga. Sesuai dengan janji yang saya utarakan sebelumnya, kegiatan menggambar akan dilaksanakan jam tiga sore. Namun hujan yang tiba-tiba turun di setiap sore menjadi problema mengenai tempat kegiatan yang bisa menampung 80 orang sekaligus.

Karena kondisi darurat, mau tak mau ruang tengah rumah harus dibenahi. Dalam sesaat suasana rumah menjadi ramai oleh hiruk pikuk anak-anak yang masuk ke dalam. Sebagian anak yang tidak bisa masuk terpaksa harus menunggu di luar dengan harap-harap cemas.

Kertas dan alat gambar pun dibagikan. Jumlah alat gambar jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan semuanya. Meskipun begitu, segala kekurangan yang ada tidak menjadi kendala kegiatan untuk terus berjalan.

Untuk menggambar kali ini ada tema yang harus diikuti. Semuanya harus menggambar Rumah Idaman-nya dikemudian nanti. Tidak ada kesulitan pada saat saya menyampaikan tema yang dimaksud. Mereka semua cukup antusias untuk memulai mencoret-coret kertas dengan imajinasi yang ada dalam pikirannya.

Usai menggambar, tiap anak menggumpulkan dan menceritakan tentang Rumah Idaman-nya. Kebanyakan dari mereka enggan menggambarkan rumah yang bertingkat, bahkan jika rumah yang digambarkannya bertingkat mereka cenderung memilih kamar di bawah. Meskipun tidak menyebutkan alasannya secara jelas tapi tampak jelas bahwa mereka sebenarnya masih takut bila nanti gempa tiba-tiba datang kembali.

Sesi menceritakan gambar tiba-tiba sedikit mencekam. Hal itu disebabkan karena mereka semua merangsek maju dan berdesak-desakkan menyerahkan karya yang telah mereka buat. Selain itu juga mereka sebenarnya ingin karyanya ditanya-tanya, meskipun pada saat ditanya mereka malah malu-malu menjawabnya.

Kondisi berdesak-desakan tetap berlangsung, padahal setengah dari mereka sudah menyerahkan karyanya dan menceritakan isi gambarnya. Untunglah ada Sigit yang tiba-tiba datang dari kepergiannya yang sesaat. Tanpa berpikir panjang, anak-anak yang telah selesai bisa langsung mengikuti Kang Sigit untuk bermain di luar.

Akhirnya semua karya telah dikumpulkan. Hasilnya bagus-bagus, uniknya ada satu karya dimana rumah yang digambarkannya memiliki dua pintu. Pintu yang di depan adalah pintu utama, sedangkan pintu samping adalah pintu darurat yang terhubung langsung dengan kamarnya. Jadi bila nanti ada gempa lagi dia bisa cepat-cepat keluar.

Apapun gambar mereka semua yang penting mereka bisa sedikit mencurahkan isi hatinya melalui sebuah coretan yang mungkin hanya mengobati sedikit rasa takut mereka atas apa yang telah mereka alami sebelumnya.

Semoga saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s