Aksi Para Ibu

Beres ngurus anak-anak, kini para ibu-ibu yang musti diurus.

Setelah anak-anak pergi meninggalkan rumah, kini suasana rumah diramaikan oleh para ibu yang sibuk mengobrak-abrik tumpukan baju bekas layak pakai. Sumbangan baju lumayan cukup banyak, ada sekitar 5 karung besar. Dan itu semua cukup merepotkan, selain karena menghabiskan banyak ruang untuk gudang tentunya teknis pembagian baju tidak bisa dibagikan secara merata alias dibungkus per KK, melainkan dengan sistem siapa cepat dia dapat.

Yang namanya ibu-ibu sudah barang tentu comelnya minta ampun. Walaupun tangan sibuk memilah-milah, bibir nggak kalah sibuknya saling mengomentari satu sama lain bahkan saling sikut dan rebut. Ampun lah.

Belum habis acara bedah karung, kini perhatian ibu-ibu teralihkan ke obat-obatan yang tersedia. Berhubung sedari pagi saya yang menata dan mendata obat, mau tak mau saya musti meladeni permintaan para ibu-ibu yang haus akan barang gratisan.

Awalnya para ibu-ibu meminta obat untuk anak, seperti obat pilek, batuk, demam dan masuk angin. Berhubung obat yang tersedia terlihat cukup banyak, maka mereka pun tidak tanggung-tanggung meminta beragam obat. Padahal sebenarnya anak-anak mereka tidaklah sedang sakit. Alasannya sih simpel “buat jaga-jaga”.

Setelah puas dengan obat-obat anak, kini giliran obat-obat dewasa yang mereka jajali. Agak parah pada saat pembagian obat khusus dewasa. Tak sungkan-sungkan para ibu-ibu ini menjulurkan tangannya ke depan, mirip-mirip adegan pembagian zakat maut gitu lah. Untungnya, meskipun tidak ada pagar pemisah di antara stock obat dan para ibu-ibu haus obat, mereka masih punya kesopanan untuk tidak asal comot barang yang ada di depan mata. Setidaknya para ibu-ibu ini hanya akan menerima barang yang diserahkan secara langsung oleh penanggung jawab obat yaitu saya sendiri.

Jeleknya, ya itu tadi. Ibu-ibu cenderung sulit untuk tertib, maunya paling duluan. Lagi alasannya adalah takut nggak kebagian. Perilaku tidak tertib ini pada akhirnya menurun kepada anak-anaknya, karena beberapa kasus yang sudah terjadi sebelumnya anak-anak cukup sulit untuk ditertibkan terutama bila mereka tahu akan diberi hadiah. Dan parahnya lagi, jika si ibu-ibu ini ada pada saat pembagian hadiah untuk anak-anak, tanpa merasa malu mereka juga ikut meminta dengan alasan “untuk anaknya di rumah”. Please deh!! Ga malu apa sama anak-anak yang udah capai-capai ikut kegiatan nyanyi-nyanyi, nari-nari bahkan lari-lari dan tanpa tahu jika mereka nantinya akan diberi hadiah.

Bukannya saya pelit, tapi sudah semestinya kita lebih menghargai mereka yang telah berusaha. Dan lagi, jika saya memberikan begitu saja kepada ibunya maka hilang satu kesempatan bagi saya untuk mengenal si anak dan mengetahui kondisinya saat ini.

Begitulah sedikit aksi ibu-ibu korban gempa yang senantiasa selalu bikin suasana meriah sekejap. Untuk ibu-ibu lainnya jangan dicontoh ah, nanti anaknya ngikutin loh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s