unExpected Jambore Petualang Indonesia

jambore

Dinginnya bertahan lama, sedangkan panasnya cepat terasa. Itulah suasana berkemah di Bumi Perkemahan Ranca Upas.

Jumat, sabtu dan minggu lalu, para petualang dari seluruh Indonesia berkumpul dalam acara Jambore Petualang Indonesia. Acara yang entah diadakan oleh siapa ini memang sangat meramaikan Ranca Upas pada hari itu. Bayangkan saja sekitar 1200 orang (katanya) tumpah ruah memadati tanah-tanah hijau area perkemahan.

Event ini bisa dibilang event yang sangat besar, jika dilihat dari sponsor-sponsor yang terpampang di spanduk-spanduk serta embel-embel kata “Jejak Petualang” salah satu program acara televisi yang banyak diminati pemirsa. Wajar saja jika embel-embel kata JP diambil karena wajah-wajah familiar yang sering nonggol di acara tersebut akan datang untuk menghibur para Petualang Indonesia yang mengidolakannya. Sebut saja Riyani Djangkaru, Medina Kamil, Ulung Putri dan Syifa Kumala, para wanita-wanita cantik host Jejak Petualang akan berbagi cerita mengenai petualangan-petualangan yang pernah mereka lalui.

Jambore Petualang Indonesia kali ini merupakan jambore ketiga yang pernah diadakan. Saya sebenarnya kurang begitu tahu mengenai jambore-jambore sebelumnya, namun dari beberapa informasi yang didapat konsep saat ini sangat berbeda sekali. Bila dibandingkan dengan sebelumnya, mungkin nuansa petualangan di jambore sebelumnya lebih terasa dibandingkan jambore sekarang yang cenderung menonjolkan sisi pelatihan dan wisata alam. Maaf-maaf aja klo aku berpendapat bahwa jambore kali ini mirip-mirip seperti kempingnya anak-anak sekolahan.

Dilihat dari segi kegiatan yang ditawarkan, kegiatan jambore memang sungguh-sungguh sangat menarik minat sekali. Ada kegiatan yang berupa pelatihan atau berpetualang seperti bersepeda gunung, orientasi medan yang menyenangkan, survival, pengenalan tanaman obat, pelatihan mengenai ular, fotografi alam, interpretasi hutan, dan jurnalistik alam bebas serta ada juga lomba-lomba semarak 17 Agustus yang menyajikan hadiah-hadiah yang menarik. Hanya saja, untuk kegiatan pelatihan setiap peserta harus memilih satu dari delapan kegiatan yang ada.

Antusiasme peserta sangat menonjol sekali pada kegiatan survival, orientenering, dan interpretasi hutan. Bayangkan saja, jumlah peserta yang mendaftar memaksa panitia untuk menutupnya karena telah melebihi kuota yang ada. Akan tetapi, kegiatan lainnya pun tidak kalah ramainya.

Jambore ini punya tagline yang sangat bagus, tapi sumpah saya lupa kalimatnya. Yang jelas tagline-nya ada kata-kata “petualang berjiwa Konservasi”, maknanya kena banget lah. Memang sudah seharusnya para petualang Indonesia menjadi militan-militan yang bisa membawa perubahan positif bagi kondisi alam kita. Udah nggak jaman jadi penakluk alam, sudah saatnya kita jadi penyelamat alam.

Berhubung ada embel-embel konservasi, di kegiatan jambore ini mendatangkan salah satu duta One Man One Tree (untuk lebih enaknya disebut OMOT saja) yang nantinya akan mengajak para peserta untuk menanam pohon. Klo cewek-cewek liat si duta OMOT ini pasti keblinger, maklum dia tuh face-nya tangan beberapa gitu deh, rada-rada bule.

Ada juga stand-stand organisasi yang bergerak di bidang lingkungan, seperti Walhi, WWF, GreenPeace, Jakarta Green Monster, Greeners dan entah siapa lagi yang turut meramaikan dan menginformasikan upaya-upaya penyelamatan lingkungan. Dan beberapa isu yang tengah diangkat oleh rekan-rekan ini adalah upaya untuk menghentikan deforestrasi hutan dengan cara moratorium penebangan hutan dalam jangka waktu tertentu (bisa 10 hingga 100 tahun). Mantap lah.

Sepandai-pandainya tupai melompat, terkadang bisa jatuh juga. Seseru-serunya Jambore ini tentunya ada ketidakpuasan yang saya dan mungkin sebagian rekan-rekan lainnya alami. Diantaranya:

1. Nuansa berpetualangnya minim

Mungkin hal ini dikarenakan waktu dan trek yang digunakan minim. Sebenarnya tidak salah jika memilih Ranca Upas sebagai lokasi kegiatan, tapi kok jalurnya malah milih lokasi yang tidak menarik. Justru klo medannya sedikit ekstrim, akan menjadi satu tantangan dan pengalaman tersendiri bagi pesertanya.

2. Incapable tutor

Rasa tidak puas memang harus ada bagi tiap insan yang sedang belajar karena akan memotivasi untuk mencari lebih tahu. Tapi klo ketidakpuasan dikarenakan tutor tidak menjelaskan materi dengan baik, tentunya akan terjadi miss information dan akibatnya bisa lumayan fatal. Seharusnya panitia bisa lebih selektif lagi untuk tutor-tutor yang hendak mendampingi peserta, atau jika perlu kenapa tidak untuk menyertakan orang lokal sebagai pendamping yang tentunya lebih mengenal potensi hutan di Ranca Upas. Setidaknya informasi yang diberikan akuntabilitasnya bisa dipertanggungjawabkan dan masyarakat lokal pun dapat diberdayakan.

3. Asosial

Entah kenapa para panitia seakan menjaga jarak dari peserta. Atau mungkin saking sibuknya sehingga tidak sempat untuk berbaur dengan para peserta. Pastinya para peserta akan sangat senang sekali jika tendanya dikunjungi walau hanya sekedar say hai atau memberikan informasi-informasi yang sekiranya penting bagi peserta. Bukan sebuah sapaan dari speaker informasi yang selalu berbunyi “kepada pemilik kendaraan no blablabla harap memindahkan motornya” (terkadang suara pengumuman suka merusak suasana yang ada, konyolnya lagi pada saat menyanyikan Mars Rimbawan speakernya ikut nyanyi ningnongningneng).

Jika kamu bukan orang yang suka sok kenal dan sok dekat mungkin tidak ada satu tenda tetangga yang akan kamu kenal. Ini mungkin hal yang sepele, tapi kenapa tidak jika pembagian petak tanah dilakukan pada saat peserta daftar ulang. Alasannya sih simple aja, peserta yang baru tiba bisa lebih cepat mengakrabkan diri dengan peserta lainnya karena lokasinya bersebelahan.

Memang nggak penting-penting amat sarannya, tapi pada saat saya datang dan mendirikan tenda saya merasakan kesepian karena tenda-tenda peserta lainnya berjauhan sedangkan petak tanah di sebelah entah kapan akan terisi. Tapi, jika memang pembagian petak tanah diberikan pada saat pendaftaran setidaknya ada penataan tempat dimana antara satu tenda dengan tenda lainnya bisa saling bersosialisasi, misal tendanya saling berhadap-hadapan. Sekali lagi saya tekankan, saran ini nggak penting-penting amat kok! Hehe.

4. Menanam, sebuah seremony atau aksi nyata?

Saya bukannya tidak suka dengan menanam, justru saya mendukung sekali upaya duta OMOT untuk mengajak rekan-rekan petualang menanam. Hanya saja ada beberapa hal yang saya kritisi dari aksi menanam yang dilakukan saat itu yaitu:

Siapa yang bertanggung jawab untuk merawat bibit-bibit pohon selepas para petualang pulang ke rumahnya masing-masing?

Efektifkah menanam disaat musim kemarau tengah melanda? Meskipun Ranca Upas sangat sejuk tetap saja ada pengaruhnya.

Jarak antara lubang menanam ke lubang lainnya sekitar 1-2 meter? Saya kira untuk teknis menanam seharusnya tidak boleh seperti itu, karena pohon yang ditanam adalah jenis Eucalyptus yang merupakan pohon besar sehingga butuh jarak antara satu pohon dengan pohon lainnya sekira 5 meter atau lebih.

Itulah beberapa kritikan tentang aksi menanam yang saya harapkan bukan hanya sekedar aksi seremony saja.

5. Keterlibatan organisasi lingkungan lokal?

Meskipun saya berasal dari Bandung bukan berarti saya iri karena rekan-rekan organisasi lingkungan dari Bandung nggak diajak. Tapi setidaknya jika rekan-rekan organisasi lokal diajak mungkin lebih bisa mengenalkan kondisi lingkungan Bandung yang tidak hanya sekedar minuman bandrek, bajigur dan strawberry saja. (Terimakasih kepada teman-teman dari Greeners magazine yang sudah mewakili Bandung).

6. DUGEMnya kurang meriah!

Mungkin karena saking dinginnya malam membuat otak para petualang beku. Hiburan dan celetukan MC seperti kentut tanpa bau dan bunyi alias biasa-biasa saja, ditambah pula soundsystem yang redup tenggelam membuat MC sibuk ngomong sendiri. Seharusnya dugem jangan hanya DUduk GEMbira saja, tapi ada aktivitas yang bisa melawan hawa dingin seperti Push Up, Sit Up, Back Up atau Joged Ajep Ajep Dangdut Mania.

Untungnya kehadiran Teh Riyani dan Syifa Kumala yang berbagi cerita bisa membuat suasana menjadi hangat, apalagi mereka bagi bagi hadiah bagi para petualang yang bertanya. Lumayan daripada lumanyun daritadi.

Wah, makin lama aku nulis jadi makin kayak Curhatcoret. Maklum-maklum aja lah, kemarin kan diriku ngambil jurnalistik alam bebas. Jadi wajar-wajar aja kalau nulisnya banyak banget, sekalian latihan gitu loh!

team jurnalistik JPI

Untuk pelatihan jurnalistik pun ada sedikit kerancuan buat aku pribadi. Mungkin karena penggunaan namanya yaitu jurnalistik alam bebas, sedangkan materi yang didapat lebih seperti jurnalistik traveling atau jurnalistik wisata. Tapi dari segi muatannya, cukup lumayan untuk brainstorming otak (Terimakasih mbak Dina atas berbagi pengalamannya).

Puas atau tidak puas, menurut saya Jambore Petualang Indonesia ini telah memberikan pengalaman baru, teman baru, motivasi baru, hadiah-hadiah baru yang membuat saya nggak rugi-rugi amat telah mengeluarkan uang sebesar 100 ribu rupiah untuk pendaftarannya (dapat topi eger, topi the master, kaos eger, helm sepeda polygon, buku tentang konservasi, buku notes, kartu perdana pren dan lupa lagi -ini akumulasi satu tim loh-)

Mudah-mudahan saja di Jambore berikutnya saya masih bisa untuk mengikutinya meskipun menurut bocoran katanya bakal diadakan di luar Pulau Jawa. Tentunya dengan konsep yang berbeda dan nuansa petualangan yang makin seru. Saya tunggu.

SALAM PETUALANG!!

7 comments

  1. superwid · Agustus 21, 2009

    Yup, terima kasih atas catatannya. Mohon ijin difollow up ke panitianya ya. Biar untuk evaluasi ke depannya.

    Mewakili Panitia JPI juga meminta maaf yang sebesar-besarnya apabila ada banyak hal yang kurang berkenan. Semoga ke depannya akan lebih baik lagi.

    Terima kasih sekali.

    • agungsmile · Agustus 25, 2009

      sama-sama,
      maaf-maaf juga klo bahasa tulisannya ceplas-ceplos. Yup semoga untuk kedepannya JPI bisa lebih baik dari yang sudah-sudah.

      salam petualang

  2. aji · Agustus 21, 2009

    wah kereen masukannya..🙂
    thx ya.. ini yangkita tunggu2 buat perbaikan ke depan..

    met berpetualang..🙂

  3. cayo · Agustus 21, 2009

    aw,,aw,,aw,,,
    bener uyy HADE,,, haji dede maksudna,,, hahahahaha,,,🙂
    tah peserta nu kritis kieu yeuh nu d butuhkeun ku panitia teh,,

    saya kabneran panitia nu ti bandung
    hatur nuhun juragan atos ngemutan,,,
    mudah mudahan bisa dijadikan acuan utk jambore berikutnya,,

    terima kasih yang sebesar besarnya,,

    salam,

    akang bandunk

    • agungsmile · Agustus 25, 2009

      meni Sun’da pisan…

      Sami-sami kang, mugi-mugi ieu kritikan tiasa janten perbaikan ka payun na.

      Pokonamah ABCD -anak bandung cinta damai-

  4. Qim · Agustus 22, 2009

    Sip… sip… masukan nya kang… Saya atas nama panitia ngucapin makasih banyak atas masukan nkritikannya.. Mudah2an bisa lebih baik kedepannya..

    Salam Petualang.

    Qim Deebraska

    • agungsmile · Agustus 25, 2009

      Saya juga berterimakasih atas hadiahnya yang melimpah.
      Ngomong-ngomong, foto-foto kegiatannya ada ga?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s