BBB (beres-beres bareng) di Rubel Sahaja

Apa yang ada di benak mu ketika melihat bocah jalanan yang tengah asyik bermain dengan kaleng kecil yang ia sembunyikan dibalik baju. Dan si bocah sibuk menenggelamkan dirinya dengan menghirup dalam-dalam aroma si kaleng lem hingga membenamkan setengah wajahnya kedalam kaus lusuh yang semakin melar karena terlalu sering ia tarik.

Mungkin ada perasaan sedih, atau mungkin antipati atau mungkin juga muncul stigma yang membuat kita lebih cenderung menghindarinya karena takut. Setiap orang boleh berpendapat, dan wajar-wajar saja jika kesan pertama yang kita dapat adalah seperti itu.

Bayangkan saja, ketika kita sedang naik angkutan umum dan tiba-tiba bocah itu masuk dan duduk di lawang angkot menyanyikan lagu sealakadarnya dengan alat musik seadanya. Bernyanyi dengan nada sumbang dan kondisi setengah sadar. Dan terkadang kata-kata kasar keluar dari mulutnya.

Mungkin dalam hati kita berkata “Cepat-cepatlah kau bernyanyi, ambil uang ini dan pergilah!!”. Sungguh kejam hati ini.

Tidak semua stigma bocah jalanan adalah benar. Meskipun mereka menghisap lem, penampilan kumal, urakan mereka tetap bocah kecil yang lugu. Mereka tetap anak-anak yang senang bermain. Dan mereka antusias untuk mempelajari sesuatu hal. Hanya saja kesempatan yang mereka dapatkan berbeda dengan anak-anak pada umumnya.

Jumat  lalu, teman-teman dari KSK mengajak saya untuk mengunjungi Rumah Belajar Sahaja yang terletak di Pasar Ciroyom. Pasar Ciroyom bukanlah tempat yang asing bagi saya. Ketika masih SMA, saya seringkali melewati pasar Ciroyom saat berangkat sekolah. Kondisi pasar Ciroyom saat ini dan dulu jauh berbeda, dulu lebih semrawut tapi sekarang sedikit lebih baik meskipun jalan becek dan sampah masih menjadi ciri khas sebuah pasar tradisional.

Rumah Belajar (selanjutnya disebut rubel) sebenarnya baru berdiri sekitar dua tahunan. Sebelumnya rubel menumpang di atap gedung bangunan pasar. Kondisi yang tidak nyaman kala hujan turun memaksa adik-adik merapatkan badannya di dinding tembok untuk berteduh dan meniadakan kegiatan belajar.

Puji syukur, saat ini rubel sudah punya tempat bernaung yang lumayan lebih baik. Sebuah rumah kecil berukuran 3×3 meter, tidak luas memang tapi disinilah adik-adik rubel bisa belajar dengan tenang tanpa khawatir kebasahan. Dan adik-adik rubel tidak perlu lagi tidur di lapak-lapak toko serta kedinginan ketika malam tiba.

Kepindahan Rubel Sahaja memang belum lama, oleh karena masih ada beberapa bagian yang perlu untuk diperbaiki. Dinding yang terbuat dari anyaman bambu mereka sulap dengan cat warna-warni, halaman depan pun diisi oleh tanaman-tanaman hias untuk menyegarkan suasana.

Namun suasana indah tersebut tidak bisa bertahan lama. Harap maklum saja, pasar tradisional Ciroyom memang tidak bersih-bersih amat. Belum lagi angkot-angkot yang hilir mudik menyemburkan asap dan debu. Sampah-sampah yang berserakan dan jarang diangkut. Lalat-lalat beterbangan dan hinggap disisa-sisa makanan.

Karena alasan tersebut maka kegiatan KSK kali ini adalah “beresberesrumahbelajarsahaja”. Sebelum keberangkatan menuju lokasi, saya sempat diwanti-wanti untuk jangan kaget melihat kebiasaan adik-adik rubel yang sangat lengket sekali dengan kaleng lem-nya. Ini memang pertamakalinya bagi saya berinteraksi secara langsung dan melihat kehidupan mereka lebih dekat.

Sesampainya di lokasi, adik-adik rubel tengah sibuk berlatih bernyanyi. Katanya mereka akan tampil mengisi salah satu acara yang diadakan oleh ITB. Kehadiran kami langsung disambut oleh adik-adik kecil. Agak kikuk juga melihat adik-adik yang tiba-tiba menyapa lalu menciumi tangan kami satu persatu. Dengan tutur kata yang lembut mereka menanyakan nama kami. Tampaknya mereka senang dengan kedatangan kami.

Tak berapa lama, Pak Gamesh -penanggung jawab rubel- menjelaskan maksud kedatangan kami untuk membantu beres-beres rubel. Memang sudah saatnya rubel untuk bersih-bersih. Debu-debu di lantai dan dinding sudah menebal, taman kecil di depan rubel sudah tidak jelas lagi bentuknya antara kumpulan sampah, tanaman hias dan lalat-lalat berukuran besar.

Tanpa instruksi lebih lanjut kami memulai beres-beres sesuai area yang telah disepakati sebelumnya. Barang-barang yang terdapat di dalam dikeluarkan, sedangkan taman kecil terpaksa kami bongkar dan diratakan kembali. Adik-adik pun turut ikut serta membantu kami.

Setelah setengah kegiatan berjalan, kini area yang musti kami bersihkan adalah adik-adik rubel semua. Kami berencana untuk memandikan mereka yang entah kapan terakhir kalinya mandi tidak diketahui sama sekali.

Kaget juga ketika melihat sisa-sisa lem yang menempel di tubuh mereka. Sisa lem tersebut menempel di bagian dada, perut bahkan ketiak. Mungkin ini disebabkan kebiasaan mereka menyembunyikan kaleng lem di dalam baju. Cukup sulit  untuk membersihkannya.

Usai mandi, kuku dan telinga pun tak luput kami bersihkan. Wajah kuyu dan pengaruh bau lem hilang dari diri mereka. Kini mereka nampak lebih segar dibandingkan sebelumnya. Walau hanya sesaat.

Kegiatan beres-beres hari ini telah selesai. Rumah Belajar Sahaja telah bersih dan indah. Adik-adik pun terlihat segar. Kami sangat senang karena kegiatan ini bisa berjalan dengan baik. Meskipun begitu kami sedih juga karena adik-adik kembali tenggelam oleh si kaleng kecil. Memang tidak mudah melepaskan ketergantungan lem secara seketika. Butuh waktu dan perjuangan serta ketabahan untuk mengahadapi mereka. Semoga saja jalan terang akan selalu menyinari langkah mereka. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s