Adventure Kids Camp

Mengisi liburan ngapain ya?

Jalan-jalan ke tempat wisata, hmmm itu mah biasa. Diem di rumah aja, wah kurang kerjaan. Nongkrong ke Mall, cape deeeh mustikeluar duit banyak. Mau liburan yang nggak biasa, ini nih liburannya adik-adik dari beragam sekolah dasar Bandung Jakarta.

Di liburan kali ini mereka mengisinya dengan kegiatan berkemah. Kegiatan yang punya judul Adventure Kids Camp ini diinisiasikan oleh kakak-kakak yang tergabung dalam Ecoethno. Selain asal sekolahnya yang beragam ternyata tingkat pendidikannya pun beragam, ada yang kelas 0, 1, 2, 3, 4 bahkan baru naik kelas 5.

Sebelum kegiatan berkemah dimulai, terlebih dahulu adik-adik ini berkumpul di Taman Ganesha ITB. Disini kami memulai perkenalan satu sama lain, baik antar peserta dan kakak-kakak pembimbing. Sayang, aku melewatkan sesi tersebut. Harap maklum saja, status aku di kegiatan ini hanyalah outsourcing yang ditugaskan untuk menyampaikan salah satu materi yang diminta.

Pukul satu siang, peserta siap berangkat: Tapi sebelumnya, elf rombongan adik-adik mampir dahulu ke Superindo. Katanya sih, adik-adik disuruh belanja bahan-bahan makanan yang dibutuhkan selama berkemah. Dan nantinya mereka akan memasak sendiri makanannya. Wah menarik juga. Apalagi klo barang belanjaannya kakak yang bayar. Senangnya.

Pukul tiga sore, peserta tiba di Ranca Upas: Setibanya di lokasi camp, tugas pertama kami semua adalah mendirikan tenda. Setiap kelompok dibantu dan diawasi oleh kakak-kakak pembimbing. Tidak mudah memang bagi adik-adik ini untuk mendirikan tenda. Apalagi jika mendirikan tenda adalah pengalaman pertama bagi semua peserta.

Setelah tenda berdiri, masing-masing peserta sibuk membawa masuk tas-tas mereka yang tersimpan diluar. Bahkan beberapa diantaranya sudah bersenang hati membuka sleepingbag dan tiduran. Duh, udara dingin Ranca Upas mulai menyelimuti setiap pori-pori dalam tubuh.

Pukul tujuh malam, nightwatching: Setelah puas beristirahat, makan malam dan beradaptasi dengan suhu dingin Ranca Upas, peserta berkumpul di lapangan dan bersiap-siap untuk melakukan pengamatan malam. Untuk materi malam ini seluruh peserta akan diajak ke sebuah tempat. Disana semua peserta harus memperhatikan dan mengamati bunyi dan suara yang mereka dengar.

Lokasi pengamatan sebenarnya tidak begitu jauh dari pusat keramaian area camp. Tapi tetap saja, beberapa diantara mereka cukup ketakutan untuk melangkahkan kakinya diantara semak-semak. Apalagi setelah terdengar suara-suara hewan yang sayup mayup. Imajinasi mereka mulai bermain pada saat menebak suara dan bunyi yang terdengar. Yang pada akhirnya malah membuat mereka ketakutan sendiri.

Pukul sembilan malam, tidur.

Hari kedua, pukul lima pagi, birdwatching: Di hari kedua ini adalah waktunya aku dan Sigit temanku beraksi. Yup, pagi ini adalah tugas kami untuk memberikan materi Birdwatching. Berhubung binocular -teropong- yang kami punya sangat terbatas, wayahna kelompok pengamatan dibagi menjadi dua kelompok besar. Dan tiap peserta harus bergantian memakai binocularnya.

Materi pengamatan burung sebenarnya tidak terlalu expert-expert amat. Yang pasti peserta dapat menggunakan binocular dengan baik lalu mengamati objek burung. Lebih bagusnya lagi jika mereka bisa mengamati objek burung hingga mendapatkan informasi berupa ciri-ciri burung dan menggambar sketsa yang tidak harus indah.

Pukul delapan pagi, memasak dan sarapan: Ini adalah saatnya barang-barang belanjaan Superindo digunakan. Ada yang memasak mie Instan, ada yang memasak sosis, ada yang merebus telur dan sayur, dan ada juga yang membuat omelet mie. Setiap kelompok memasak menggunakan Nesting dan bahan bakar berupa parafin. Hasilnya, yaa cukup mengenyangkan lah.

Pukul sembilan pagi, mencari jejak: Lumayan cape nih. Jalur kami saat ini mulai memasuki area hutan. Di sesi ini peserta akan mencoba menguji kualitas air sungai menggunakan kertas lakmus dan diperkenalkan mengenai tetumbuhan hutan yang dapat dimakan. Diantaranya adalah Begonia, tumbuhan herba dengan daun asimetris, batang dan bunganya dapat dimakan namun rasanya asam. Selain itu ada pula tanaman merambat Konyal yang masih satu famili dengan Markisa, klo menurut aku sih sama-sama wae antara Konyal dan Markisa mah.

Pukul sebelas siang, membuat bivoak: Dengan menggunakan perlengkapan yang sederhana, peserta mencoba membuat bivoak dari bahan-bahan alami berupa dedaunan dan ranting. Hasilnya lumayan untuk dua orang bersembunyi di dalamnya.

Pukul duabelas siang, istirahat: Saatnya makan siang. Makan siang kali ini peserta tidak lagi memasak sendiri. Ada ibu kantin yang sudah menyiapkan menu makan siang sayur lodeh.

Pukul setengah dua siang, belajar navigasi: Peta, dan kompas bidik. Peserta mencari posisi keberadaannya di peta. Titik acuannya adalah dua buah puncak gunung yang tampak di Ranca Upas. Mudah sih, tapi kok petanya rumit dan burem yah.

Pukul setengah tiga siang, kembali masuk hutan: Cuaca mulai mendung. Rintik air hujan turun. Jalan berlumpur dan licin. Medan terjal. Perjalanan sedikit terhambat. Beberapa trek mengharuskan kami berjalan satu persatu.

Pukul setengah empat sore, tiba di camp: Perjalanan yang melelahkan. Trek yang berlumpur memaksa adik-adik menanggalkan alas kakinya dan menitipkannya padaku. Ga berat sih, cuman pegel aja. Sekarang waktunya beristirahat kembali. Sebagian dari peserta pergi mandi, dan yang lainnya menunggu sambil bermalas-malasan di dalam tendanya masing-masing.

Pukul enam sore, shalat berjamaah di masjid: Penuh. Suasana perkemahan Ranca Upas saat itu sedang penuh. Banyak para pelajar dan umum yang melakukan mengisi liburannya disini.

Pukul tujuh malam, memasak makan malam: Menu malam ini adalah, sayur sop dan telur dadar. Eh ternyata ada juga yang masak sup jagung instan dan kornet.

Pukul sembilan malam, api unggun: Rencananya sih mau bakar jagung. Tapi adik-adiknya tampak kelelahan. Ya sudahlah, selamat tidur.

Hari ketiga, pukul lima pagi, shalat berjamaah: Masih ada sisa kayu bakar semalam. Pagi ini sarapan jagung bakar yang ga sempet di bakar semalam.

Pukul setengah tujuh pagi, hunting treasure and animal trap: Di Ranca Upas banyak burung Puyuh, dan tak jarang pula mereka bertelur banyak sekali. Lumayan kalo nemu banyak nanti bisa dimasak untuk sarapan. Usai pencarian telur, adik-adik belajar membuat perangkap hewan dengan menggunakan batang perdu yang masih lentur. Mudah-mudahan saja nanti perangkapnya berhasil menangkap hewan.

Pukul sembilan pagi, memasak sarapan pagi: Menu pagi ini adalah sarden, cah kangkung plus telur puyuh.

Pukul sepuluh pagi, naik perahu lalu manjat pohon: Kegiatan hari ini ada adrenalinnya euy. Bakal jadi pengalaman yang menyenangkan.

Pukul duabelas siang, ikan: Menu makan siang yang terakhir.

Pukul dua siang, beres-beres perlengkapan: Bersiap untuk pulang.

Pukul tiga sore, selamat tinggal Ranca Upas. Terimakasih atas liburan yang menyenangkan dan tak terlupakan. Good Bye.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s