Goes in Bandung

Untuk keduakalinya KSK memaksaku untuk bangun pagi. Namun pagi ini acaranya tidak lagi bermain bersama adik-adik yang masih SD, melainkan menikmati penghujung akhir tahun dengan napak tilas keliling kota bandung dan beberapa spot yang pernah menjadi kenangan di masa lampau dengan menggunakan sepeda.

Menyambut tahun baru Hijriah dan tahun baru Masehi, kami memulai perjalanan dari basecamp KSK di jalan DU (Dipati Ukur) 65 pav. Lokasi pertama yang kami tuju adalah pemukiman Under the Brigde Cikapayang. Lokasi ini merupakan lokasi pilihan Haris, pemuda antropologi UNPAD. Dari DU kami melalui jalan Dago kemudian tembus ke Balubur dan akhirnya masuk ke pemukiman under the bridge. Di tengah padatnya rumah-rumah dan sempitnya gang memaksa kami untuk menenteng sepeda perlahan dan beriringan. Tibalah kami di sungai Cikapundung dan jembatan kecil dengan kondisi cukup mengkhawatirkan. Di lokasi ini Haris bercerita kenapa ia memilih lokasi tsb.

Selesai bercerita, kami pun melanjutkan perjalanan kembali.

Keluar dari pemukiman padat, kini kami sudah berada di jalan Cihampelas. Spot berikutnya adalah pasar kembang Wastukencana. Lokasi ini adalah pilihanku.

Sesampainya kami disana, giliranku untuk menceritakan alasan memilih lokasi tersebut. Kenapa aku memilih pasar kembang, karena menurutku pasar kembang merupakan titik nol perubahan dan kisah tentang perjalanan hidupku di Bandung.

Maklum aja diriku kan anak pindahan dari sekolah luar pulau Jawa, meskipun sebenarnya orang ASELI sunda banget gituloh. Yang dulunya culun sekarang jadi sedikit culun, yang dulunya kuper kini sedikit caper (cari perkara), yang dulunya nggak kenal cinta akhirnya kenal cinta pertama deh.

Ah sudah cukup cerita cinta pertamanya, kita lanjut lagi ke lokasi berikutnya.

Beranjak dari pasar kembang kini kami menelusuri jalan Merdeka menuju titik nol Bandung yang sebenarnya yaitu daerah Alun-alun. Sepanjang perjalanan kami tidak lupa untuk foto-foto (narsis). Untungnya ada neng Kandi yang selalu setia mengabadikan perjalanan kami di tiap sudut kota.

Akhirnya, sampai juga di Alun-alun. Sepeda kami parkir di Masjid Agung. Tujuan kami adalah masuk ke menara masjid Agung dan melihat pemandangan Bandung. Untuk masuk ke menara kami harus merogoh kocek sebesar Rp. 2000.

Meskipun saya sering main ke daerah Alun-alun, tapi ini adalah pertamakalinya masuk dan naik ke menara Masjid Agung (kasian banget). Di dalam lift, puncak menara terdapat di lantai 19. Namun ada yang ganjil di tombol lantai lift. Tidak semua lantai tertera disana, hanya beberapa lantai saja yang tercantum. Dan kenyataanya, lantai-lantai selain yang tertera di tombol memang tidak tersedia. Hanya tangga darurat saja.

Jangan kaget melihat pemandangan kota Bandung yang penuh sesak dan tampak semrawut. Walaupun begitu, pegunungan yang mengelilingi Bandung terlihat indah dan cukup menjelaskan bahwa bandung itu dulunya adalah sebuah danau purba.

Cukup lama kami menikmati pemandangan dari puncak menara. Mengira-ngira dimana tempat kami tinggal dan jarak yang sudah kami tempuh dengan bersepeda (ternyata jauh juga).

Setelah puas, kami turun kembali dan melanjutkan perjalanan menuju tempat lainnya. Namun, belum sempat kami keluar dari area masjid Agung muncul ratusan rombongan murid sekolah maupun masyarakat yang sedang pawai memperingati tahun baru hijriah. Kami terjebak, tak bisa keluar karena pintu keluar kami berlawanan arus dengan rombongan pawai tsb. Cukup lama kami berdiam diri sambil memegangi sepeda menunggu arus pawai ini reda. Sepertinya akan lama sekali bila harus menunggu pawai dan iringan orang-orang berakhir. Mau tak mau kami harus mencari jalan keluar lainnya, yaitu mengangkut sepeda melewati pagar, seperti yang dilakukan oleh para PKL.

goes-bdg-61Beres sudah masalah kemacetan di Masjid Agung. Lokasi berikutnya adalah jalan Braga. Jalan yang dikenal sebagai ikon kota Bandung ini memang banyak menyisakan peninggalan jaman baheula. Saat ini Pemda bandung berupaya merevitalisasikan jalan Braga agar kembali bersinar. Tak heran bila Pemda musti keluar dana banyak untuk mengganti badan Jalan Braga dengan batu andesit. Sayangnya, peresmian belum dimulai, batu-batu andesit tsb sebagian ada yang sudah pecah dan harus diperbaiki. Wajarlah jika batu-batu andesit itu pecah, intensitas kendaraan yang hilir mudik adalah salah satu penyebabnya. Sebaiknya jalan braga menjelma menjadi kawasan city walk atau free car lah. Biar terlihat mantap -ah kumaha Pemda Bandung we lah-.

Di braga kami bersepeda di trotoar, untungnya braga tidak cukup ramai hari itu. Mungkin esoknya braga akan ramai, mengingat besok akan digelar festival tahunan “Braga Festival”.

Dari jalan braga kami lanjut ke Balaikota bandung. Niat kami untuk masuk ke dalam Balaikota harus kami buang jauh-jauh. Kami tidak diijinkan masuk oleh para penjaga dengan alasan sedang ada Pak Dada (yey, maksud loh). Ya sudah, akhirnya kami meninggalkan Balkot dengan dongkol yang mendalam (itu dada mu bukan dada ku).

Target berikutnya adalah SMP 2 dan 5, kedua SMP ini bersebelahan dan request dari Dila (peserta paling muda, masih SMP gituloh) dan Inay. Setelahnya kami mengunjungi kawasan SMA 3 dan 5.

Lokasi berikutnya adalah SMPnya Dila yaitu SMP 44 di jalan Cimanuk (dimana yah). Dengan bangganya akhirnya Dila bisa menunjukkan sekolahnya, maklum aja dia sering diledek karena banyak yang nggak tahu lokasi sekolahnya. Oh ini toh SMP 44.

goes-bdg-41Selesai dari sekolah Dila kami beristirahat dan makan siang di Taman Cilaki. Lumayan pegel juga setelah setengah harian bersepeda, terutama pantat dan daerah selangkangan –i need ice-.

Puas beristirahat, kami lanjutkan perjalanan yang tinggal 1 spot terakhir, yaitu Monumen Perjuangan. Jaraknya tidak begitu jauh dari Taman Cilaki, hanya beberapa ratus meter.

Akhirnya, tiba juga kami di titik terakhir perjalanan. Wah ternyata, jauh juga petualangan bersepeda walau hanya saucrit kota Bandung. Dari pemukiman padat dan gang sempit, jalan yang ramai dan penuh lalu lalang kendaraan, keindahan bangunan tempoe doeloe serta komplek perumahan yang hijau asri dengan pepohonannya. Yah itulah sepengal dari roda sepeda yang berputar di akhir tahun 2008 Masehi dan awal tahun 1430 Hijriah

Sebelum berpulang ke basecamp dan mengembalikan sepedah, tidak lupa deh berfoto di monumen, cheese…

see more photo

-Today i’m goes in Bandung-

­­­goes = bersepeda

2 comments

  1. bud · Februari 4, 2009

    senangnya! kalo lebih banyak pohon naik sepeda pasti lebih menyenangkan🙂

    • agungsmile · Desember 12, 2009

      sumuhun kang… alias benar sekali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s