Pendidikan lingkungan di Gambung

Seminggu setelah Birdrace, saya kembali ke Ciwidey. Huff, ternyata dalam hidupku emang belum lepas dari Ciwidey. Selidik punya selidik ternyata saya memang punya garis keturunan dengan yang namanya Ciwidey. Dan kakek saya yang terakhir pun (alm) dimakamkan di sana. Ciwidey adalah ciwidey.

Ceritanya, waktu itu KONUS diundang oleh salah satu SMP swasta yang ada di Kota Bandung untuk memberikan materi pendidikan lingkungan dalam kegiatan Ilmu Hidup (setahuku nama kegiatannya itu). Tentunya bagi konus ini bukan pertama kalinya mereka memberikan materi pada SMP tersebut, ini adalah tahun ketiga kalo nggak salah. Karena diriku sedang berkeliaran di kantornya konus, maka Bu Melly (staf edukasi) mengajak diriku yang tiada daya ini untuk ikut bergabung bersama dirinya dan keempat orang lainnya membawakan materi tersebut. Tanpa pikir saya pun mengiyakan.

Singkat cerita, pada hari jumat pagi kami berangkat menuju Ciwidey, tepatnya di Desa Gambung di salah satu Wisma milik SMP tersebut. Saya, Bu melly, Bogel dan Mas Sony (keturunan Jawa) berangkat dari Bandung, sedangkan Sigit dan Aa Soni (keturunan Sunda) berangkat dari Ciwidey (maklum penduduk aseli Ciwidey) dan bertemu langsung di lokasi. Meskipun saya punya silsilah orang ciwidey, tapi saya baru tahu klo daerah Gambung merupakan daerah yang banyak dihuni oleh Vila Mewah… ckckck. Tidak beda jauh dengan kawasan puncak Cipanas.

Sesampainya disana kami langsung disambut oleh bapak ibu gurunya. Pemberian materi dilakukan di dalam aula. Secara garis besar materi yang diberikan adalah pemahaman siswa terhadap isu-isu lingkungan yang saat ini terjadi.

Sebelumnya kami memutarkan sebuah film animasi yang berjudul Save Animal Planet (bagi yang penasaran cari aja di youtube). Film yang terdiri dari 11 kisah dan belasan tokoh Hewan sebagai pemeran utama ini menceritakan mengenai permasalahan-permasalahan lingkungan serta solusi yang bisa dilakukan oleh manusia tentunya yang disampaikan dengan gaya hewani sebagai objek yang terancam keberadaannya untuk menyelamatkan bumi. Sampah, hemat energi, air, kantong plastik, daur ulang, pola makan, polusi, dan gaya hidup ramah lingkungan adalah beberapa kategori yang disampaikan dalam film tersebut bagi yang tertarik silakan ditonton (high recomended film).

80 siswa SMP ini akhirnya kami bagi menjadi 6 kelompok. Setelah dibagi kelompok, tiap kelompok diberi tugas untuk mengangkat salah satu isu lingkungan yang tengah berkembang baik lokal maupun interlokal. Dan nantinya tiap kelompok harus mempresentasikan dan menjelaskan isu yang mereka pilih. Pada saat presentasi nanti, semua kelompok diberi kebebasan dan kreativitas dalam menggunakan media penyampaian.

Apa salahku ya Tuhan? Ternyata oh ternyata, anak-anak SMP kelas II ini sulit sekali diatur. Sudah ½ waktu berjalan, namun kelompok Kucing Garong ini belum merumuskan isu yang ingin diangkat. Anak-anak cowoknya ogah-ogahan dan bengal, sedangkan ceweknya pendiem. Baru kali ini aku merasa kewalahan dengan sikap acuh tak acuh anak SMP. Pyuh, lagipula diriku tidak bisa memaksakan pemikiran yang ada di kepalaku kepada mereka, apa yang akan mereka presentasikan nanti itu adalah murni buah pemikiran mereka sendiri. Tapi diriku tidak kehilangan akal, mungkin kelompok ini merasa bebas karena tidak seperti kelompok lainnya yang berkumpul di dalam aula sehingga merasa diawasi oleh gurunya maka diriku akhirnya meminta bantuan salah seorang guru untuk menemani dan mengawasi Kucing Garong.

Ditemani oleh pak guru, kondisi Kucing Garong sebenarnya masih sama saja, tapi sedikit lebih baik lah. Ternyata sikap mereka terhadap pak guru tidak jauh berbeda terhadapku, ampun deh… setidaknya mereka sudah menemukan topik isu yang akan diangkat.

Waktu terus bergulir dan habis, semua kelompok berkumpul kembali di aula.

Kini saatnya tiap kelompok maju untuk mempresentasikan isu-isu lingkungan yang mereka angkat. Macam-macam saja ide mereka. Ada yang menyampaikannya dalam bentuk teatrikal dan ada pula yang hanya sekedar ilustrasi gambar. Tapi menurutku yang teatrikal sangatlah menarik. Sangat simple tapi bermakna dalam. Mereka memerankan tokoh pohon sambil berdiri berjajar dan kedua tangan terangkat ke atas. Tiba-tiba muncul seorang tokoh lainnya dengan gaya menebang setiap pohon yang ada. Pohon pohon pun tumbang berjatuhan tak bersisa. Namun tidak lama kemudian, bencana banjir datang dan menyeret si penebang. Kisah yang tragis, lalu pada akhirnya.. Marilah kita menanam.

Lalu bagaimana dengan isu kelompok lainnya?

Entah kenapa hampir kebanyakan dari semua kelompok bercerita tentang pohon-pohon yang ditebang serta akibat yang ditimbulkan dan menanam pohon adalah solusinya. Intinya adalah global warming.

Kenapa ya mereka cenderung mengangkat isu tersebut?

Padahal menurutku masih banyak isu-isu lingkungan lainnya yang tengah marak dan ramai dibicarakan. Mungkin saja karena informasi yang saat ini gencar adalah Desember bulan menanam kali yaa, atau bisa juga karena pohon dan lingkungan adalah satu kesatuan yang erat dan sulit untuk dipisahkan. Dari isu yang mereka angkat kita bisa mengetahui sejauh mana pemahaman mereka mengenal permasalahan-permasalahan yang terjadi pada lingkungan sekitar.

Tapi mereka cukup beruntung, karena pada akhirnya mereka mengetahui lebih jauh bahwa lingkungan tempat mereka tinggal ini sebenarnya membutuhkan perhatian untuk diselamatkan. Bagaimana caranya, itu tergantung dari diri mereka dimana mereka akan memulainya. Dan pada akhirnya, nasib bumi ini akan diserahkan kepada generasi muda.

Akhirnya kegiatan ini berakhir. Meskipun di dalam hati ini ada perasaan kurang puas atas segala yang telah diriku lakukan. Semoga saja masih ada hari esok untuk memperbaiki kekurangan ini. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s