Bandung + Pontianak = Sepeda motor

Reuni. Setelah mengajar anak SMP di Ciwidey, kini giliran aku mengenang masa-masa SMP. Dulu aku sempat mengenyam masa SMP di kota Pontianak selama 2 tahun. Awal mulanya sekolah disana agak takut nggak betah. Apalagi sebagai pendatang baru dari pulau seberang segala yang ada di Pontianak adalah asing, budayanya, bahasanya, pergaulannya bahkan tempat-tempatnya. Tapi lambat laun semua ketakutan itu berlalu karena teman, teman baik yang menerima kehadiranku disana.

Namanya Tri Budiman, dulu aku memanggilnya Tri tapi sekarang panggilannya berubah jadi Budi, tidak jauh berbeda pula dengan aku yang dulunya dipanggil Ismail kini menjadi Agung. Dia adalah teman pertama dan teman sebangku ketika sekolah di SMPN 1 Pontianak.

Di akhir pekan kadang dia menginap di rumahku, ataupun sebaliknya aku menginap dirumahnya di kota Siantan. Dengan menggunakan sepedanya aku biasa dibonceng kerumahnya. Namun, lama kelamaan dia bosan membonceng aku terus. Maklum saja, saat itu aku belum bisa naik sepeda. Tapi karena itu pula kami punya kebiasaan membonceng yang unik. Klo dia sudah lelah membonceng, kami bertukar posisi. Aku yang mengayuh, dia yang memegang kemudi. Ternyata metode ini cukup jitu juga dan tidak pernah sekalipun kami terjatuh saat bersepeda dengan gaya ini.

Jika mau kerumahnya kami harus menyebrangi sungai Kapuas dengan menggunakan kapal Ferri. Seingatku dulu kami hanya membayar 200 perak kepada petugas dengan tanpa mengambil tiket, padahal tarif resminya adalah Rp. 300. Bila kapal ferri mengalami gangguan, para pengguna jasa terpaksa harus memutar jauh menggunakan jembatan penyebrangan. Terkadang kasihan juga si Tri harus mengenjot sepeda dan menanjaki jembatan yang lumayan panjang menurutku.

Di tahun kedua, kami tidak lagi sekelas. Tapi kami masih sering main bareng meskipun rada jarang juga sih. Bukan karena tidak sekelas lagi, tapi karena waktu itu aku tinggal di rumah bibi yang lokasinya lumayan jauh dan tidak memungkinkan untuk berakhir pekan menginap seperti biasanya.

Dan memasuki tahun ketiga, aku harus kembali ke Bandung untuk menemani kakakku. Tidak pernah lagi ada kontak diantara kami berdua.

9 tahun berlalu, dan entah bagaimana caranya kami bisa saling terhubungi kembali. Banyak hal memang yang sudah terjadi diantara kami masing-masing. Hidup, cinta, teman, dan pengalaman sudah mengubah kepribadian dan jalan kami berdua. Tapi masa lalu tetaplah masa lalu. Semua kenangan itu tersimpan, dan pada saat kenangan itu terbuka kembali maka kita seolah bercermin pada kaca yang berbeda warna dan menunjukkan bahwa kita hidup telah melalui berbagai macam peristiwa.

Seminggu yang lalu Budi menyempatkan diri berkunjung ke Bandung. Bersama dengan bapaknya yang kebetulan sedang ada pelatihan. Akhirnya, setelah 9 tahun kami bisa bertatap muka kembali. Memang sudah banyak perubahan, tapi tetap aku lebih tinggi dan lebih putih dibandingkan dia.

Ketika orang datang ke Bandung memang tidak bisa lepas dari yang namanya belanja. Begitu pula dengan si Budi. Banyak sekali barang titipan oleh-oleh untuk keluarga dan teman kepadanya. Hampir kebanyakan adalah pakaian, Bandung memang surganya mode di Indonesia. Mau tak mau, dengan sukarela aku menemaninya berjalan-jalan keliling Bandung dan berbelanja. Dari Dago-Riau-Cihampelas-hingga akhirnya Pasar Baru dan Alun-alun kami jelajahi.

Setelah puas berjalan aku bertanya mengenai kondisi di Pontianak. Dia bercerita bahwa kota itu sudah banyak mengalami perubahan dan kemajuan. Pusat hiburan sudah banyak bermunculan disana walaupun hanya satu Mall saja. Lalu bagaimana pendapatnya dengan kota Bandung. Entah kenapa ungkapan yang pertama kali keluar adalah “Bandung Berantakan” baik tata kotanya maupun ketertiban dan kebersihannya, padahal dia baru melihat sebagian dari Bandung pinggiran. Meskipun begitu ia mengakui sangat tertarik dengan kota Bandung yang masih memiliki lahan hijau dengan pohon-pohon yang besar dan rimbun, serta arsitektur-arsitektur bangunan lama yang masih banyak ditemukan dibandingkan dengan Pontianak.

keramaian jalan di pontianakNamun ternyata, ada satu hal yang tidak membedakan antara kota Pontianak dan kota Bandung. Yaitu, sepeda motor yang semakin banyak berkeliaran dan memadati ruas-ruas jalan. Yup, motor kini telah menjadi raja jalanan yang hampir mengisi setiap sudut kota. Dan lagi menurut Budi, kini hampir setiap keluarga di Pontianak memiliki satu atau lebih sepeda motor.

Kepemilikan sepeda motor kini menjadi mudah. Tidak seperti dulu dimana semua pembelian motor harus dibayar secara tunai atau uang muka yang jumlahnya tidak sedikit. Saat ini, hanya bermodalkan uang 300-500 ribu setiap orang sudah bisa membawa sebuah sepeda motor kerumahnya. Begitu mudahnya. Keberadaan sepeda motor sebagai alat transportasi seakan telah berubah menjadi kebutuhan utama.

Sampai mana pertumbuhan sepeda motor berbanding lurus dengan besarnya permintaan. Maka wajar saja bila orang-orang mengeluh BBM mahal dan terjadi kelangkaan BBM. Hampir setiap individu membutuhkannya. Sepeda motor dan kampanye hemat energi sungguh merupakan ironi yang bertentangan, Hemat energi yang merupakan salah satu upaya penyelamatan bumi ternyata seakan menjadi isapan jempol ketika motor merajalela di jalanan. Dan suara-suara mesin yang menjejal di jalan itu menghembuskan gas racun yang semakin terakumulasi menyiksa bumi ini.

Ketika teknologi sepeda motor bersaing menciptakan kendaraan super irit, hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa Sumber Daya Minyak di bumi semakin menipis. Sampai kapan kita bisa bertahan dan bergantung terhadap minyak-minyak yang tersimpan di dasar bumi. Setepat apakah prediksi para ahli yang mengkalkulasikan jumlah sumber daya minyak yang kita punya.

Motor adalah alat bantu transportasi yang mempermudah kita dalam perjalanan. Tapi motor bukan jadi alasan untuk kita malas berjalan kaki ketika kita ingin ke warung sebelah. Setidaknya kita harus bijaksana terhadap energi yang kita gunakan. Sebelum semuanya habis.

Pyuuh, lima hari sudah aku menemani temanku berjalan-jalan di Bandung. Semoga Bandung memberikan pengalaman yang berharga baginya. Sampai jumpa temanku, mungkin suatu hari nanti aku yang berkunjung ke sana. Bye.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s