Penyu Hijau dari Sindangkerta

Bosan menikmati pantai yang itu-itu saja? Atau bosan dengan suasana pantai yang isinya hanya hamparan pasir, debur ombak, pohon kelapa, batu karang, semilir angin yang berhembus, dan matahari terbit hingga tenggelam! Namanya juga pantai, klo nggak gitu bukan pantai dong namanya. Tapi nggak ada salahnya mencoba berkunjung ke pantai selatan, tepatnya Pantai Sindangkerta yang berada di Desa Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya.

Apa keistimewaan dari pantai ini. Selain suasana pantai yang itu-itu aja, di sekitar kawasan wisata pantai Sindangkerta terdapat Kawasan Konservasi yang diperuntukkan bagi penyu. Bagi yang ingin melihat penyu secara langsung, disinilah tempatnya.

Ada tiga jenis penyu yang berkembang biak dengan baik di Pantai Sindangkerta, yaitu Penyu Belimbing (Dhermochelys coriacea), Penyu Tempayan (Caretta caretta) dan Penyu Hijau (Chelonia mydas). Di antara ketiga penyu tersebut, Penyu Hijau lah yang paling terkenal rawan penjarahan dan eksploitasi.

Kawasan Konservasi ini dibatasi oleh pagar sepanjang 3 kilometer di sekitar pantai Sindangkerta yang merupakan lokasi bertelur penyu. Upaya perlindungan diperlukan karena maraknya perburuan dan perdagangan telur penyu. Padahal, ketiga penyu tersebut masuk ke dalam daftar Appendiks I CITES sebagai hewan yang tidak diperkenankan diperjualbelikan dan dilindungi menurut UU No. 7 Tahun 1999. Untuk melihat penyu-penyu tersebut, kita bisa mampir ke penangkarannya yang terletak di Tegal Sereh. Sebuah pondok kecil dimana di dalamnya terdapat kolam-kolam penampungan untuk Tukik (anak penyu) dan beberapa penyu yang tidak memungkinkan kembali ke laut.

Penyu Hijau, memiliki ciri khas warna kehijauan pada tubuh, lemak dan dagingnya. Ukuran penyu hijau setelah dewasa dapat mencapai 250 cm, namun ukuran yang lazim berkisar 80 hingga 150 cm. Beratnya dapat mencapai 130 kilogram. Ciri khas lainnya adalah terdapatnya kuku pada kaki renangnya.

Penyu Hijau banyak hidup di lautan daerah tropis dan menjelajah lautan sejauh ribuan kilometer. Seluruh waktunya banyak dihabiskan dengan hidup di laut. Kecuali pada betina, pada saat hendak bertelur ia akan naik ke pantai untuk bertelur pada malam hari. Gangguan berupa sinar ataupun suara-suara akan membuatnya mengurungkan niat naik ke pantai. Pada saat bertelur, penyu akan menggali lubang sedalam 50 cm, bertelur sebanyak 60 hingga 200 butir, lalu menimbunnya dengan tanah, lantas kembali ke perairan lepas. Penentuan jenis kelamin pada penyu tidak didasarkan atas genetika, melainkan suhu pada saat pengeraman. Jika suhu di atas 30˚ C maka telur akan menghasilkan penyu betina, jika suhu di bawah 25˚ C maka menghasilkan penyu jantan. Sedangkan bila pada suhu diantara keduanya akan menghasilkan kedua jenis kelamin, dengan perbandingan tertentu sesuai dengan suhu pengeraman. Penyu hijau bertelur setiap tiga tahun sekali. Proses bertelurnya sendiri, hanya memerlukan waktu sekitar 2,5 jam. Puncak masa bertelur penyu hijau terjadi pada bulan September hingga Desember.

Pondok Penangkaran Penyu Tegal Sereh

Di dalam pondok penangkaran Tegal Sereh kita bisa melihat tukik-tukik yang berasal dari penetasan secara alamiah. Sebelumnya, telur-telur penyu dipindahkan ke kandang penetasan. Setelah menetas, petugas akan mengambil tukik-tukik tersebut untuk dipelihara di kandang pembesaran. Bila sudah agak besar, tukik kemudian dilepas ke Samudera Hindia. Hal tersebut dilakukan agar telur-telur itu aman dari predator maupun pencuri.

Kekhawatiran terhadap Penyu Hijau bukanlah tanpa sebab. Berkurangnya populasi menjadi ancaman serius terhadap kelestarian satwa ini. Berdasarkan data pada tahun 2006, jumlah penyu yang mendarat di Kawasan Konservasi tercatat hanya 54 ekor, padahal data tahun 2002 menyebutkan populasi penyu hijau masih berjumlah 60 ekor, malahan tahun 2003 lalu jumlahnya lebih banyak lagi yakni mencapai 84 ekor. Dari 54 ekor tersebut hanya 49 ekor yang bertelur. Jumlah telur yang ditetaskan adalah 3.318 ekor dengan rincian 1.523 telur yang menetas dan dari jumlah itu sebanyak 1.348 tukik (anak penyu) hidup serta 175 tukik mati.

Beberapa faktor yang mengakibatkan populasi penyu kian berkurang adalah adanya kerusakan hutan yang dibarengi dengan kian padatnya pemukiman di sekitar Kawasan Konservasi. Suasana gaduh dan alam yang tidak nyaman membuat penyu enggan untuk mampir dan bertelur. Wilayah konservasi penyu idealnya berada di tempat yang jauh dari kebisingan dengan situasi yang tenang.

Pembangunan Lintas Jawa Barat Selatan pun turut menambah kekhawatiran terhadap kelestariannya. LJS memang banyak ditunggu-tunggu dan berpeluang untuk memajukan kawasan di Tasikmalaya Selatan, perlu perencanaan yang matang untuk menentukan jalur LJS. Bila perlu, ruas jalan yang hanya berjarak 50 meter dari garis pantai saat melewati Pantai Sindangkerta, LJS dibelokkan beberapa kilometer ke arah pedalaman menjauhi garis pantai sehingga perkembangbiakan penyu tidak terlalu terganggu.

Tidak hanya itu, kondisi dan fasilitas pondok penangkaran memerlukan perhatian yang khusus. Menurut salah seorang petugas, tempat pengembangbiakan penyu serta kolam penampungan yang dia urus tidak dilengkapi dengan penyejuk ruangan dan sirkulasi udara. Juga tak ada pipa untuk mengambil air laut secara langsung diarahkan ke tempat penangkaran. Selain minimnya peralatan, pusat konservasi penyu ini juga masih sering kekurangan makanan pembibitan penyu sebelum dilepas ke laut. Mereka hanya menerima Rp. 150 ribu per bulan. Terkadang untuk menyiasatinya, mereka memberikan ikan-ikan kecil dan agar-agar.

Penyu Hijau Albino. Salah satu penghuni tetap pondok.

Kawasan Konservasi Sindangkerta dinilai merupakan salah satu kawasan yang sebenarnya sangat cocok untuk proses penetasan telur penyu. Semoga saja upaya pelestarian di kawasan tersebut dapat menyelamatkan ratusan bahkan ribuan penyu dan calon penyu. Ayo kita cegah Penyu Hijau dari kepunahan!

(Foto by Ian Beruang)

A027

3 comments

  1. teddy · April 4, 2009

    Berbicara tentang pantai sindangkerta khususnya penyu hijau,.kita sangat meringis akan kepunahan. saya selaku warga asli dari sindangkerta sangat khawatir dengan kepunahan ini, kepunahan penyu ini banyak sebab yang Pertama yaitu dengan kondisi prasarana jalan dekat dengan bibir pantai otomatis pengaruh terhadap penyunya sendiri yang sensitif tidak jadi ke darat dan mencari daerah lain. Dari tahun ke tahun semakin sedikit penyu yang bertelur disekitar kawasan ini.
    Kedua akibat nelayan yang masang jaring dekat dengan ujung karang kondisi ini sangat bahaya terhadap penyu yang mau bertelur.
    harapan saya ke depan yaitu dengan adanya zona konservasi ini khususnya dengan kawasan penyu bisa dapat dioptimalkan pemerintah daerah yang punya kewenangan berhak mengatur bahkan mengenakan sanksi bagi siapa saja yang melanggar.
    masyarakat sendiri pada umumnya sangat mendambakan dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung ke zona konservasi penyu ini, disamping bisa mendapatkan mata pencahairan jg diharapkan dapat menambah PAD.
    setempat.
    akhir kata dari saya selaku sebagian warga dari sindangkerta mudah-mudahan kedepannya apa yang kita harapkan bisa terwujud,.
    amin.

  2. andi · Mei 12, 2010

    bagus cuy,,,kalau ada berita terbaru tolong kirimkan ke fb gw: andisofyan34@ymail.com

  3. andi · Mei 12, 2010

    kalau ada berita terbaru tolong kirimkan ke fb gw: andisofyan34@ymail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s