Buaya Muara dari Blanakan

Bila sempat menyusuri jalur Pantura dan melewati Blanakan, cobalah mampir ke Wana Wisata Penangkaran Buaya yang berlokasi di Desa Blanakan, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang. Sekedar untuk menikmati pemandangan tambak udang, suasana Pantai Utara, makan Seafood dan buaya tentunya.

Wana Wisata yang didirikan sejak tahun 1988, pada awalnya bertujuan untuk mencegah kepunahan Buaya Muara (Crocodylus porosus) dan juga untuk mencukupi kuota eksport reptil Indonesia ke luar negeri. Pada perkembangannya, penangkaran buaya dengan luas 15 hektar (2,7 hektar untuk penangkaran) ini akhirnya dijadikan sebagai tempat penelitian dan objek wisata. Wana wisata ini terdiri dari 23 kolam berisikan buaya-buaya berdasarkan tingkatan umur yaitu anakan, remaja dan dewasa. Pada mulanya, jumlah buaya pada saat didirikan berjumlah 72 ekor, kini jumlah yang ada sekitar 207 ekor.

Bangsa buaya (ordo Crocodilia) terdiri dari 3 famili yaitu, Crocodilidae, Alligatoridae dan Gavialidae. Atau yang biasa kita kenal dengan istilah buaya, alligator dan gavial. Buaya Muara termasuk ke dalam famili Crocodilidae. Ketiga famili tersebut dapat dibedakan berdasarkan moncongnya. Moncong alligator paling pendek dan membulat. Moncong buaya agak pipih dan gigi keempat dari depan terlihat menjulang ke atas apabila mulutnya sedang mengatupkan. Sedangkan pada gavial, moncongnya sangat panjang hingga menyerupai sebuah paruh dengan gigi-gigi yang sangat tajam yang saling menangkup satu sama lainnya apabila mulutnya tertutup.

Buaya Muara adalah predator yang handal. Dengan gigi setajam belati dan rahang yang sangat kuat merupakan senjatanya untuk menangkap mangsa. Gigi buaya juga tidak pernah ompong. Gigi baru terus tumbuh menggantikan gigi yang lama. Panjang Buaya Muara bisa mencapai 10 meter, tapi pada umumnya adalah sekitar 4 hingga 6 meter.

Buaya Muara merupakan perenang yang hebat. Ekor mereka yang besar dan kuat meliuk ke kiri dan kanan nseperti mendayung. Gerakan ini membuat buaya mampu meluncur dengan cepat untuk memburu mangsanya. Mereka gemar berendam dalam air, dengan hanya menyisakan lubang hidung dan matanya dipermukaan. Kebiasaan ini merupakan mimikri sebatang batang kayu yang sedang mengapung.

Sebaran buaya ini terdapat di muara-muara sungai di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Karena tingginya konversi hutan di sekitar muara dan menurunnya kualitas habitat serta pemanenan populasi yang tidak terkendali, kini spesies ini membutuhkan perlindungan khusus. (CITES, 2003).

Pemanfaatan kulit menjadi komoditas utama dalam perdagangan buaya. Dalam kurun waktu antara tahun 1983-1999 perdagangan buaya mencapai 100.000 lembar per tahun. Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengelolaan penangkaran yang telah dilakukan oleh Sri Catur pada tahun 1999, rata-rata produktivitas penangkaran buaya Blanakan adalah 27 ekor/tahun. Selain itu pula, pengusahaan penangkaran buaya Blanakan menunjukan hasil yang inefisien. Meskipun jumlah kandang memadai, penggunaannya tidak optimal. Dan partisipasi masyarakatnya pun kurang sebagai akibat kurangnya kesadaran konservasi buaya.

Menurutnya pula, pengelolaan inefisien dikarenakan tidak dimanfaatkannya peluang-peluang yang ada (misal permintaan kulit yang tinggi) sehingga menjadi ancaman (regulasi F2, kompetisi dengan penangkaran lain yang lebih efisien, perilaku pengunjung yang kurang baik). Model pengelolaan penangkaran yang efisien dan berkelanjutan dituangkan dalam konsep yang bertumpu pada pengembangan: (1) Teknologi pengembangbiakan, (2) Sistem pedoman petunjuk pelaksanaan penangkaran, (3) Sistem pengelolaan, sumberdaya manusia, dan pemasaran.

Model pengelolaan yang diungkapan oleh Sri memang benar adanya. Perubahan konsep penangkaran menjadi wanawisata ini didasarkan karena target 5.000 ekor buaya tidak tercapai. Entah kenapa target tersebut tidak tercapai mungkin dikarenakan teknologi pengembangbiakan yang kurang memadai sehingga dari 40 butir telur yang mampu dihasilkan oleh seekor buaya hanya 10-20 butir saja yang berhasil menetas. Kondisi ini diperparah ketika kawasan ini dibuka menjadi wana wisata, sehingga banyak manusia yang berkunjung dan menganggu proses perkembangbiakan. Padahal buaya pada dasarnya senang bersembunyi. Dan ketika bertelur, buaya akan menggali tanahdan menyembunyikan telurnya di dalam tanah.

Setidaknya diperlukan suatu pengelolaan yang baik agar memperoleh hasil yang optimal. Apakah akan menjadi tempat wisata, maka diperlukan sarana penunjang wisata yang memadai. Ataukah menjadi penangkaran sebagai suatu upaya konservasi terhadap Buaya Muara,maka sebaiknya jangan dijadikan tempat wisata. Karena kedua aspek tersebut tidak dapat disatukan maka sebaiknya ditentukan kemanakah arah dari Wana Wisata Penangkaran Buaya Blanakan ini.

(foto buaya from flickr)

postingan lainnya : tentang orangutan

2 comments

  1. Rdp · Januari 14, 2010

    Sbnrnya mw di jadikan penangkaran atau objek wisata?Ga jls bgt..

    • ismail agung · Januari 15, 2010

      Intinya sih penangkaran. Tapi biar ada pemasukan tambahan ya sekalian jadi tempat wisata. Toh ini bukan penangkaran konservasi murni, dimana setiap hasil yang ditangkarkan akan dikembalikan ke alam liar. Bisnis tetep yang utama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s