Ketika malam tiba, sorot mata itu bercahaya…


Ketika kegelapan tiba. Ketika siang berganti malam. Ketika bulan enggan muncul. Mending saya mah tidur wae. Habisnya mo ngapain sih malam-malam, gelap-gelapan. Apalagi di tengah kebon awi atau ditengah leuweung. Teu sieun kituh ku J****** (Jengkol maksudnya). Kurang kerjaan banget tuh orang.
Yang jelas, malam-malam dan gelap-gelapan bukan sedang mencari ilham buat no togel yang bakal keluar besok. Atau ngintipin orang yang lagi nonton bola. Kami sedang dalam misi rahasia. Lagaknya sih kayak Tom Cruise di MI (Madrasah Itsanawiyah, iraha kaluarna tah pilem). Misi ini sangat sangat sangat penting bagi hajat hidup orang banyak. Apalagi bagi kelestarian alam dunia beserta isinya yang tiada terkira dan tiada terhitung banyaknya sampai-sampai bulu kaki saya saja kalah banyak hitungannya (siapa juga yang mau ngitung).

Ketika kegelapan tiba, itu adalah waktunya para pengelana malam beraksi. Ini bukan kisah Batman si Ksatria dari kegelapan. Bukan pula kisah Bramstoker sang Drakula. Ini adalah kisah kasih tentang seekor hewan Nocturnae.

Bersama Nawang Bulan mencari jalur untuk nanti malam.

Bertempat di sebuah desa nun jauh dari kota, di Kabupaten Tasikmalaya Kecamatan Sodong Hilir Desa Raksajaya (sekalian aja ama RT/RW!!). Adalah sebuah desa yang masih banyak sekali rumah Mewah (mepet sawah) dan juga Pir Harbon (pipir hareup kebon). Suasana disini tidaklah menjemukkan. Keasrian, kealamian, keindahan dan kesejukan menjadi daya tarik yang luar biasa dibandingkan dengan kota yang penuh polusi udara, polusi suara, polusi air, polusi sampah bahkan polisi lalu lintas yang bersiap berjaga mengamankan kota dari para tukang copet, jambret, hingga jalan macet.
Syahdan, di desa ini hidup suatu makhluk Tuhan yang paling pemalu. Dia tidak pernah menampakkan dirinya di kala mentari bersinar lagi. Kecuali kalo terpaksa. Mangkanya orang-orang banyak menyebutnya dengan nama Malu-malu. Tapi ada juga yang menamakannya dengan Muka. Mungkin karena malu ia suka menutup mukanya, yah kayak yang habis digerebek gitu deh ama Satpol PP. Ada juga yang menyebutnya dengan nama Aed dan Oces. Banyak banget kan nama panggilannya. Biar akrab enaknya kita panggil saja dia dengan nama Kukang Jawa.

Si Kukang yang punya nama latin Nycticebus javanicus ini konon katanya masih sadulur salembur saelmu sareng nu namina monyet. Ini bisa kita ketahui dari karakteristik morfologi tangannya yang dapat mencengkeram dan matanya yang mengarah lurus ke depan (binokuler). Untuk lebih lengkap tentang Kukang klik disini (mun bisa).

Pencarian kukang ini didasarkan karena rasa keprihatinan terhadap kukang yang keberadaannya mulai terancam. Dari kerusakan habitat hingga perburuan untuk didagangkan di BIP dan Gasibu (biasa na, nu jualan kukang teh didinya tah tempatna). Padahal mah menurut konvensi internasional yang mengatur perdagangan hewan dan tumbuhan (CITES), si Kukang teh sudah tidak diperbolehkan dijual karena statusnya naik dari Appendiks II menjadi Appendiks I. Apalagi dia teh termasuk hewan yang dilindungi. Belum ada data pasti mengenai jumlah dan sebaran si Kukang, khususnya Jawa Barat. Mungkin beberapa orang hanya tahu bahwa sentra bisnis serta perburuan satwa ini adalah di sekitar hutan-hutan Sumedang.
Pencarian kukang tidaklah untuk ditangkap. Melainkan hanya dihitung jumlah populasinya pada tiap lokasi yang menurut sumber informasi (warga setempat) masih ada. Pencarian dimulai bersama temanku si Neng Geulis Wina Dewi (Nawang Bulan nih yee) ketika matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat. Atau lebih tepatnya jam 18.00 WIB. Dengan mengikuti jalur yang sudah dibuat pada siangnya atau melalui jalan setapak yang ada (menghindari miss nyusruk), pencarian dilakukan menggunakan perlengkapan sangat sangat sederhana yaitu senter dan senter deui. Pengamatan diarahkan pada bagian tajuk pohon, tempat biasa kukang nangkring.

Penampakkan kukang akan terlihat bila pada saat senter diarahkan sepasang titik berwarna kuning menyala dengan terang. Bersyukurlah bila menemukannya. Karena bisa saja kedua titik yang menyala tadi bukanlah sepasang mata kukang, tetapi sepasang mata musang. Atau sepasang mata bola… Mengamati kukang di alam liar memang tidaklah mudah. Udah mah gelap, dingin, merinding, gemetar, lapar, hujan, becek, bau ketek bisa bikin kita termehek-mehek, tidak menjadi hambatan untuk terus mencari dan berupaya.

Setelah 12 jam mencari (tepatnya 4 jam, sisanya ngawangkong dan tunduh), hasilnya lumayan juga. Walaupun jumlahnya tidak banyak hanya seekor saja. Tapi itu cukup untuk membuktikan bahwa di desa ini masih ada Kukang. Apalagi lokasi yang diubek-ubek baru satu dusun dan satu kebon tatangkalan. Masih ada kemungkinan terdapat kukang-kukang di dusun lainnya.

Bila dari semua lokasi yang di survey banyak ditemukan kukang. Perlu juga diberikan pengertian kepada masyarakat sekitar untuk tidak memburu atau menangkapnya. Untunglah masyarakat disini enggan untuk mengusik keberadaan si Kukang. Bagi mereka, kukang masih erat kaitannya dengan hal-hal yang berbau mistis yang bisa bikin sial atau mengakibatkan bencana. Mudah-mudahan dengan adanya mitos tersebut dapat menjaga kelestarian kukang dan tidak luntur karena sikap tamak dan materialistis. Semoga.

Ketika kegelapan tiba. Saatnya kukang beraksi.


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:874537327; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1897261524 -902513900 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 {mso-level-start-at:0; mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:-; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Tips pengamatan hewan malam

Sebaiknya menggunakan pakaian yang tertutup semisal, celana panjang, baju lengan panjang dan pakaian dalam tentunya. Bahan kain tidak tipis seperti lap.

Menggunakan perlengkapan anti dingin seperti jaket tebal, sarung tangan, kupluk, kaos kaki tebal.

Gunakanlah sepatu jangan sendal gunung apalagi sendal capit. Pengamatan malam rentan hewan melata. Usahakan bagian bawah celana tertutup rapat untuk menghindari masuknya sesuatu yang tidak diinginkan.

Anti nyamuk, tapi bila anda sedang mengamati nyamuk saya sarankan tidak usah menggunakannya.

Jas hujan. Siap sedia bila kondisi cuaca tiba-tiba tidak menyenangkan.

Perlengkapan navigasi. Kompas, GPS dan peta. Siapa tahu tersesat di jalan.

Perlengkapan pengamatan. Senter, alat perekam, kamera, binokuler, buku catatan dan alat tulis. Saat mengamati hewan sebaiknya senter yang digunakan dilapisi plastik berwarna merah agar hewan tidak merasa tersorot sinar terang yang cukup menganggu.

Makanan cemilan, cokelat, atau permen, biar nggak bete. Dan ingat untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Tas, masukkan semua barang bawaan agar tidak ribet.

Kenali medan pada siang hari dan beri tanda untuk menghindari kesalahan jalur.

Jika pengamatan dilakukan dalam kelompok, orang yang paling depan sebaiknya fokus kepada rute atau jalan yang dilalui.

Tidak menggunakan parfum atau wewangian. Siapa tahu anda tidak bisa membedakan mana wangi parfum dan wangi bunga melati.

Ucapkan Bismillah sebelum berangkat.

Semoga pengamatan malam anda berjalan lancar.

A027

(foto Kukang oleh Ian Beruang)

One comment

  1. Riyandi Hari Purnomo · April 11, 2009

    Ayo lindungi hewan yang terancam punah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s